By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Angka Pengangguran Gen Z Tinggi, Salah Sistem, Skill, atau Ekspektasi?
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Angka Pengangguran Gen Z Tinggi, Salah Sistem, Skill, atau Ekspektasi?

Pendidikan

Angka Pengangguran Gen Z Tinggi, Salah Sistem, Skill, atau Ekspektasi?

Jack
By
Jack
11 months ago
Share
4 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Tingginya angka pengangguran di kalangan Generasi Z (Gen Z) menjadi tantangan besar di dunia ketenagakerjaan Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, tercatat sekitar 9,89 juta penduduk usia 15–24 tahun tidak bekerja, atau 22,25% dari total penduduk di kelompok usia tersebut.

Contents
Ketimpangan Antara Dunia Pendidikan dan IndustriPersaingan Ketat dan Minimnya Lapangan Kerja FormalUpaya Pemerintah: Solusi Jangka Panjang atau Tambal Sulam?Standar Tinggi, Minim Persiapan: Realita Gen ZSiapa yang Harus Berubah Lebih Dulu?Kesimpulan: Bukan Salahkan Siapa, Tapi Siapa yang Mau Bergerak

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah tingginya pengangguran disebabkan oleh sistem pendidikan dan ketenagakerjaan yang belum mendukung, atau karena kurangnya kesiapan dan keterampilan individu?

Ketimpangan Antara Dunia Pendidikan dan Industri

Salah satu akar masalah yang sering disoroti adalah ketidaksesuaian antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Banyak program pendidikan tinggi masih berfokus pada teori, sementara industri menuntut keterampilan praktis yang bisa langsung diterapkan.

Hal ini ditegaskan oleh Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, yang menyebut bahwa sistem pendidikan Indonesia masih belum “link and match” dengan dunia industri. Banyak lulusan akhirnya merasa kebingungan ketika harus terjun langsung ke lapangan.

Persaingan Ketat dan Minimnya Lapangan Kerja Formal

Faktor lain yang memperburuk kondisi adalah menyempitnya lapangan kerja formal. Dalam kurun waktu 2019–2024, sektor ini hanya mampu menyerap sekitar 2 juta tenaga kerja, angka yang jauh lebih rendah dibanding periode sebelumnya.

Kondisi ini membuat para fresh graduate harus bersaing tidak hanya dengan sesama lulusan baru, tapi juga dengan pencari kerja yang sudah berpengalaman. Sementara itu, banyak perusahaan cenderung memilih kandidat yang “siap pakai”.

Upaya Pemerintah: Solusi Jangka Panjang atau Tambal Sulam?

Pemerintah sebenarnya telah merespons permasalahan ini dengan berbagai program, seperti Kartu Prakerja dan revitalisasi pendidikan vokasi melalui Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022. Tujuan utamanya adalah membekali generasi muda dengan keterampilan yang relevan dan dibutuhkan industri saat ini.

Namun, efektivitas program-program tersebut masih membutuhkan waktu untuk benar-benar terasa di lapangan, terutama jika tidak dibarengi dengan reformasi kurikulum pendidikan yang menyeluruh.

Standar Tinggi, Minim Persiapan: Realita Gen Z

Di sisi lain, tak bisa dimungkiri bahwa sebagian anak muda juga ikut berkontribusi dalam memperparah kondisi ini. Banyak dari Gen Z yang memiliki ekspektasi tinggi dalam mencari pekerjaan, mulai dari gaji besar, jam kerja fleksibel, hingga lingkungan kerja yang ideal.

Baca Juga :

Jelang Pemilu 2024, Ma’ruf Amin Ingatkan Partai Politik dan TNI Jaga Kesejukan hingga Netralitas
Mengenal BUMN Runners, Komunitas Sehat Ala Pegawai Pemerintah

Namun sayangnya, tidak semua dibekali pengalaman, portofolio, atau keterampilan yang sesuai. Tak jarang juga, pekerjaan yang dianggap “tidak sesuai passion” langsung ditolak, meskipun bisa menjadi batu loncatan penting.

Siapa yang Harus Berubah Lebih Dulu?

Jika ditanya siapa yang salah, jawabannya tidak sesederhana menunjuk satu pihak. Sistem pendidikan perlu berbenah, kurikulum perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.

Namun, di saat yang sama, Gen Z juga perlu beradaptasi. Dunia kerja saat ini menuntut individu yang fleksibel, mau belajar, dan tidak gengsi memulai dari posisi bawah. Ini bukan hanya soal mencari kerja, tapi juga soal membangun ketangguhan dan semangat bertumbuh.

Kesimpulan: Bukan Salahkan Siapa, Tapi Siapa yang Mau Bergerak

Masalah pengangguran Gen Z tidak bisa diselesaikan dengan menyalahkan satu pihak saja. Kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, industri, dan individu menjadi kunci utama.

Gen Z dikenal sebagai generasi yang kreatif, digital savvy, dan cepat belajar. Dengan mindset yang terbuka dan kemauan untuk berkembang, tantangan pengangguran ini bisa berubah menjadi peluang.***

You Might Also Like

Beasiswa Garuda Tak Sekadar Kuliah, Mahasiswa Diminta Bangun Ekosistem Riset Nasional
Program Sekolah Rakyat Dikebut, Kemensos Ingatkan Pentingnya Tata Kelola yang Transparan
Prabowo Dukung Kampus IIT dan IIM Berdiri di Indonesia, Perkuat Pendidikan Nasional
Beasiswa LPDP Tahap II 2026 Resmi Dibuka, Ini Jadwal, Program, dan Syarat Terbarunya
Ini Respons Akademisi Saat Bahlil Tantang Kampus Uji Kebijakan Energi di KSTI 2026
TAGGED:gen zPengangguran
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Bangkok Jadi Kota Terbaik di Dunia bagi Gen Z, Kalahkan Melbourne hingga New York
Next Article Kenapa Susah Banget Fokus Pas Belajar? Bisa Jadi Ini Penyebabnya!
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pendidikan

Dari Aceh hingga Papua, SMA Unggul Garuda Antar Ratusan Siswa ke Universitas Kelas Dunia

3 weeks ago
Pendidikan

Kabar Baik! 80 Ribu Pelajar SMA/SMK Swasta di Jabar Dapat Bantuan Pendidikan

3 weeks ago
Pendidikan

Pemerintah Resmi Umumkan 307 Siswa Lolos SMA Unggul Garuda Baru Tahun Ajaran 2026/2027

3 weeks ago
Pendidikan

Peluang Kuliah Dalam dan Luar Negeri Makin Terbuka Lewat Portal Beasiswa Baru

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index