JAKARTA, INVERSI – Pesta olahraga penyandang disabilitas terbesar di Asia Tenggara, ASEAN Para Games 2025, resmi berakhir setelah rangkaian pertandingan digelar sejak 20 hingga 26 Januari 2026 di Nakhon Ratchasima, Thailand.
Kontingen Indonesia menutup ajang ini dengan capaian membanggakan setelah berhasil finis di posisi kedua klasemen akhir, sekaligus mengukuhkan perannya sebagai salah satu kekuatan utama olahraga disabilitas di kawasan.
Pada ASEAN Para Games ke-13 ini, Thailand selaku tuan rumah keluar sebagai juara umum dengan raihan 175 medali emas, 155 perak, dan 157 perunggu. Indonesia menyusul di posisi runner up dengan perolehan 135 medali emas, 143 perak, dan 114 perunggu. Capaian tersebut jauh melampaui target awal yang ditetapkan sebelum keberangkatan kontingen Merah Putih ke Thailand.
Sejumlah atlet Indonesia menyampaikan rasa bangga dan syukur atas hasil yang diraih. Atlet para bulutangkis putri Leani Ratri Oktila menyebut prestasi ini sebagai buah dari kerja keras kolektif seluruh kontingen. “Kami bangga dan bersyukur bisa berkontribusi untuk membawa kontingen Indonesia berada di posisi kedua di ASEAN Para Games Thailand ini,” ujarnya.
Ungkapan serupa disampaikan atlet para panahan putra Ken Swagumilang. Ia mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang terus mengalir selama persiapan hingga pertandingan berlangsung. “Senang dan bangga Indonesia bisa runner up. Terima kasih kepada Presiden Prabowo, Menpora Erick, Wamenpora Taufik, Ketua NPC Indonesia, serta CdM Indonesia Pak Reda atas motivasi dan dukungannya. Semoga ke depan kita bisa lebih berjaya lagi,” tuturnya.
Upacara penutupan ASEAN Para Games 2025 digelar di 80th Birthday Anniversary Stadium pada Senin malam 26 Januari 2026. Stadion berkapasitas sekitar 24 ribu penonton itu tampak dipadati ribuan pengunjung yang ingin menyaksikan momen penutupan sekaligus perayaan keberhasilan para atlet dari sepuluh negara peserta.
Rangkaian acara penutupan diawali dengan pertunjukan musik dan nyanyian lokal Thailand, dilanjutkan dengan tarian massal yang melibatkan banyak penampil. Suasana semakin semarak saat parade defile kontingen dimulai, menampilkan satu per satu delegasi negara peserta ASEAN Para Games 2025.
Parade diawali oleh kontingen Brunei Darussalam, disusul kontingen Indonesia yang mendapat sambutan meriah dari penonton. Setelah itu, defile dilanjutkan oleh Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Timor Leste, dan Vietnam, sebelum ditutup oleh kontingen tuan rumah Thailand.
Permainan lampu LED, sorotan laser, serta pertunjukan kembang api menjadi puncak kemeriahan malam penutupan. Di tengah lapangan, tiga maskot ASEAN Para Games 2025 Thailand tampil berdampingan dengan seluruh kontingen, menciptakan simbol persatuan dan sportivitas antarnegara Asia Tenggara.
Pada bagian akhir acara, dilakukan prosesi serah terima bendera ASEAN Para Sports Federation dari Thailand kepada Malaysia. Prosesi ini menandai estafet penyelenggaraan ASEAN Para Games berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada 2027, dengan Malaysia sebagai tuan rumah.
Finis di posisi kedua dengan raihan medali yang melampaui target menjadi catatan penting bagi Indonesia. Hasil ini mencerminkan kemajuan pembinaan olahraga disabilitas nasional serta dedikasi para atlet yang tampil dengan semangat juang tinggi sepanjang kompetisi.
Keberhasilan di Thailand juga menjadi modal berharga bagi Indonesia untuk menatap ajang olahraga disabilitas tingkat Asia dan dunia. Dengan fondasi pembinaan yang semakin kuat dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah serta masyarakat, para atlet Indonesia diharapkan mampu terus mengharumkan nama bangsa dan membawa Merah Putih semakin berkibar di panggung internasional.