By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Badai PHK dan AI: Anak Muda Kini Berburu Pekerjaan Klasik Bergaji Tinggi
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Badai PHK dan AI: Anak Muda Kini Berburu Pekerjaan Klasik Bergaji Tinggi

Terkini

Badai PHK dan AI: Anak Muda Kini Berburu Pekerjaan Klasik Bergaji Tinggi

Jack
By
Jack
11 months ago
Share
5 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Badai pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masih terus berlanjut di berbagai negara membuat banyak anak muda harus memikirkan ulang strategi mencari nafkah. Persaingan di dunia kerja semakin ketat, ementara perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) mempercepat pergeseran kebutuhan tenaga kerja.

Contents
Sekolah Mulai Ajarkan Pertukangan ModernProfesi Kantoran Rawan Punah di Era AIKombinasi Skill Klasik dan Teknologi

Sejumlah perusahaan besar bahkan mulai mengganti pekerja manusia dengan robot dan sistem AI. Contohnya adalah Amazon, yang beberapa waktu lalu melakukan PHK besar-besaran sambil mengumumkan penambahan satu juta robot pekerja berbasis AI. Fenomena ini menegaskan bahwa banyak pekerjaan kantoran konvensional berpotensi hilang dalam waktu dekat.

Namun, di balik sulitnya mencari kerja kantoran, muncul tren baru yang cukup mengejutkan: profesi lawas kembali diminati. Pekerjaan seperti pertukangan, pengelasan, dan manufaktur kini menjadi opsi yang dilirik anak muda, terutama di Amerika Serikat. Bedanya, profesi ini kini didukung teknologi canggih yang membuatnya lebih menarik dan relevan di era modern.

Sekolah Mulai Ajarkan Pertukangan Modern

Sejumlah sekolah menengah di AS mulai membuka kelas untuk keahlian praktis seperti konstruksi, manufaktur, dan pengelasan, tapi dengan sentuhan teknologi tinggi. Misalnya, SMA Middleton mengalokasikan dana hingga US\$90 juta atau sekitar Rp1,4 triliun untuk memperbarui laboratorium manufakturnya.

Laboratorium tersebut dilengkapi lengan robot canggih yang dikendalikan melalui komputer, sehingga siswa dapat belajar mengoperasikan mesin modern layaknya di industri nyata. Dari balik jendela kaca besar, para siswa bisa menyaksikan langsung cara kerja robot tersebut.

Kelas ini sebenarnya merupakan modernisasi dari pelajaran keterampilan yang populer pada 1990–2000-an. Bedanya, kali ini siswa tidak hanya belajar teori pertukangan tradisional, tetapi juga menguasai penggunaan mesin digital, otomatisasi, dan pengendalian perangkat robotik.

Salah satu strategi untuk menarik minat siswa adalah dengan menunjukkan potensi penghasilan tinggi. Quincy Millerjohn, guru bahasa Inggris sekaligus instruktur pengelasan di SMA Middleton, menyebutkan bahwa pekerja di pabrik baja bisa mendapatkan US\$41.000–52.000 per tahun, atau setara Rp670 ribu hingga Rp849 ribu per jam.

Hasilnya cukup efektif. Dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari 2.300 siswa mendaftar kelas keterampilan ini, menandakan minat yang tinggi pada profesi teknis modern.

Menurut John Mihm, konsultan pendidikan di Wisconsin, AI justru menjadi pemicu kebangkitan minat ini. “Ada pergeseran paradigma. Pekerjaan tangan kini dianggap sebagai pekerjaan dengan keahlian tinggi dan bergaji tinggi. Anak muda tertarik karena mereka bisa langsung menghasilkan sesuatu sendiri,” ujarnya.

Baca Juga :

Erick Thohir Berada di Posisi Teratas Cawapres Dalam Survei Poltracking
Ingin Jadi Pelari Kalcer? Ini 10 Hal yang Harus Kamu Persiapkan agar Tetap Stylish dan Konsisten di Trek

Profesi Kantoran Rawan Punah di Era AI

Anak Muda.

Ketertarikan anak muda terhadap profesi teknis bukan tanpa alasan. Laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF) bertajuk Future of Work memprediksi bahwa antara 2023 hingga 2027, sekitar 83 juta lapangan kerja berisiko hilang akibat otomatisasi dan adopsi AI.

Riset tersebut juga mencatat bahwa 23% tenaga kerja global akan mengalami perubahan signifikan dalam lima tahun mendatang. Beberapa profesi akan hilang, sementara profesi baru berbasis teknologi dan keterampilan praktis bermunculan.

Industri yang paling terdampak termasuk:

  • Media, hiburan, dan olahraga, dengan 32% pekerjaan diprediksi berubah total.
  • Pemerintahan, komunikasi digital, TI, real estat, layanan keuangan, transportasi, dan rantai pasok, yang mengalami pergeseran besar akibat teknologi otomatisasi dan AI.

WEF juga merilis 15 pekerjaan yang diprediksi hilang pada 2023–2027, di antaranya:

  1. Teller bank
  2. Petugas pos
  3. Kasir dan loket
  4. Data entry
  5. Sekretaris dan administrasi
  6. Staf pencatat stok
  7. Staf akuntansi dan payroll
  8. Legislator dan pejabat pemerintah
  9. Staf statistik, asuransi, dan keuangan
  10. Sales door-to-door dan penjual koran
  11. Satpam
  12. Manajer kredit dan pinjaman
  13. Penyelidik dan pemeriksa klaim
  14. Penguji software
  15. Relationship manager

Dengan daftar ini, terlihat jelas bahwa pekerjaan kantoran konvensional semakin rawan tergerus oleh teknologi. Sementara itu, profesi berbasis keterampilan praktis dengan dukungan teknologi justru diprediksi lebih aman dan menjanjikan gaji kompetitif.

Kombinasi Skill Klasik dan Teknologi

Fenomena ini menandai lahirnya era baru dalam dunia kerja. Anak muda tidak lagi hanya terpaku pada pekerjaan kantoran yang bergengsi, melainkan mulai melirik pekerjaan klasik yang diintegrasikan dengan teknologi modern.

Kelas pertukangan dan manufaktur di sekolah-sekolah AS menjadi contoh nyata bagaimana sistem pendidikan beradaptasi dengan tren ini. Di masa depan, keterampilan teknis yang digabungkan dengan pemahaman teknologi otomatisasi bisa menjadi kunci untuk bertahan dari badai PHK dan perubahan pasar kerja.

Bagi anak muda Indonesia, fenomena ini bisa menjadi inspirasi untuk tidak hanya fokus pada pekerjaan kantoran, tetapi juga mulai mengasah keterampilan praktis dan teknis yang bisa selaras dengan kemajuan teknologi. Menguasai dua dunia ini—skill klasik dan teknologi modern—bisa jadi jalan aman menghadapi era disrupsi AI.

You Might Also Like

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat
Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur
TAGGED:Anak MudaPekerjaan
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Blackberry Diburu Lagi, Ini Alasan Gen Z Tinggalkan iPhone dan Android
Next Article Cerita Ketua RW Gen Z, dari Viral di Media Sosial hingga Bertemu Wapres Gibran
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

17 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

19 hours ago
Pildun 2026Terkini

Belgia Terancam Pulang Lagi, Iran Bikin Kejutan! Grup G Piala Dunia Makin Brutal

2 days ago
Pildun 2026Terkini

Cape Verde Tinggal Selangkah Ukir Sejarah ke Babak Gugur Piala Dunia

2 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index