By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Blackberry Diburu Lagi, Ini Alasan Gen Z Tinggalkan iPhone dan Android
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Blackberry Diburu Lagi, Ini Alasan Gen Z Tinggalkan iPhone dan Android

LifeStyleTerkini

Blackberry Diburu Lagi, Ini Alasan Gen Z Tinggalkan iPhone dan Android

Jack
By
Jack
11 months ago
Share
5 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Di era digital yang serba cepat, muncul fenomena unik di media sosial, Blackberry kembali diburu anak muda, khususnya Generasi Z. HP yang populer pada 2000-an ini mendadak jadi tren baru di TikTok. Tagar #Blackberry telah digunakan ratusan ribu kali, menampilkan berbagai video unboxing ponsel jadul, tips membeli Blackberry bekas, hingga konten ASMR suara keyboard QWERTY yang ikonik.

Contents
Gen Z Muak dengan Smartphone ModernBlackberry Jadi Simbol Anti-Candu DigitalNostalgia Jadi Gaya Hidup Digital Baru

Menariknya, tren ini tidak berhenti di media sosial. Muncul pula petisi online untuk menghidupkan kembali Blackberry, yang diinisiasi oleh Kevin Michaluk, pendiri media khusus ponsel tersebut. Petisi dapat diakses melalui situs www.bringbackblackberry.com, yang mengajak publik untuk mendukung kembalinya Blackberry ke pasar.

“Blackberry kembali. Bukan karena perusahaan itu memproduksi ponsel baru, tapi karena Generasi Z memutuskan Blackberry itu keren lagi,” tulis Kevin dalam laman CrackBerry, Rabu (23/7).

Menurut Kevin, salah satu alasan Gen Z melirik Blackberry adalah kejenuhan terhadap smartphone modern yang membuat penggunanya terlalu bergantung pada layar. Tombol fisik pada Blackberry dianggap lebih praktis sekaligus membangkitkan nostalgia era komunikasi yang sederhana, di mana ponsel digunakan untuk menghubungi orang, bukan sekadar konsumsi konten.

Gen Z Muak dengan Smartphone Modern

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Laporan The New York Post (12/6/2025) menyebutkan bahwa pencarian “Blackberry” di TikTok menampilkan ribuan video dari anak muda yang membeli ponsel lawas ini di e-commerce, seperti eBay, Facebook Marketplace, hingga Back Market.

Beberapa video menunjukkan Gen Z menghias ponsel Blackberry bekas milik orang tua mereka, sambil memamerkan suara klik keyboard yang memuaskan telinga. Komentar seperti “Saya rela menyerahkan iPhone demi Blackberry!” menggambarkan tren anti-smartphone ini.

Salah satu daya tariknya adalah harga. Dibandingkan iPhone baru yang bisa mencapai puluhan juta rupiah, Blackberry bekas relatif murah dan cukup untuk fungsi dasar komunikasi. Lebih dari sekadar nostalgia, gerakan kembali ke HP jadul ini juga merupakan bagian dari tren hidup digital minimalis—mengurangi ketergantungan pada notifikasi, scroll tak berujung, dan maraton menonton video pendek.

“Smartphone bukan lagi sumber kesenangan. Dulu menyenangkan, tapi sekarang orang kecanduan,” ujar Pascal Forget, kolumnis teknologi asal Montreal, kepada CBC News.

Ia menambahkan bahwa perangkat sederhana seperti Blackberry membantu orang lebih fokus pada kehidupan offline dan kualitas interaksi sosial di dunia nyata.

Baca Juga :

Kemen UMKM Desak Kampus Cetak Technopreneur Global!
Wajib Tahu! Ini 7 Manfaat Kopi Hitam Bagi Kesehatan Tubuh

Fenomena ini juga sejalan dengan studi Pew Research Center 2024 yang menemukan hampir 50% remaja mengaku online hampir sepanjang waktu, naik signifikan dari 24% pada satu dekade lalu. Banyak dari mereka bahkan mengalami phantom vibration syndrome, yaitu sensasi getaran palsu dari notifikasi yang sebenarnya tidak ada.

Blackberry Jadi Simbol Anti-Candu Digital

Bagi Gen Z dan sebagian Generasi Alpha yang lebih tua, menggunakan Blackberry atau ponsel lipat era 2000-an kini jadi simbol gaya hidup baru: anti-candu digital. Selain lebih murah, ponsel sederhana ini memaksa penggunanya mengurangi screen time dan fokus pada komunikasi esensial.

Tren ini juga berdampak pada kebiasaan sosial. Anak muda mengaku lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman, mengeksplorasi hobi, dan membangun keseimbangan hidup yang lebih sehat. Blackberry yang dulu menjadi ikon status di era 2000-an, kini berubah menjadi ikon perlawanan terhadap distraksi digital.

Namun, menggunakan ponsel lawas tidak bebas risiko. Sistem operasi Blackberry resmi disuntik mati sejak 4 Januari 2022, termasuk layanan utama seperti BlackBerry World, BBM, dan fitur keamanan eksklusif. Artinya, meski bisa digunakan untuk SMS, telepon, atau WiFi, fungsinya sangat terbatas untuk kebutuhan modern.

Kebangkitan tren ini juga menyiratkan ironi. Blackberry dulu kalah bersaing karena gagal beradaptasi dengan revolusi layar sentuh yang dipimpin oleh iPhone dan Android. Kini, di era kejenuhan digital, ponsel itu justru menemukan kembali relevansinya di tangan generasi muda yang ingin lepas dari candu smartphone.

Nostalgia Jadi Gaya Hidup Digital Baru

Fenomena Blackberry comeback di 2025 menunjukkan bagaimana nostalgia bisa menjadi tren baru di era digital. Bagi Gen Z, memilih Blackberry bukan sekadar romantisme masa lalu, tapi juga pernyataan gaya hidup: kembali ke komunikasi sederhana dan mengurangi ketergantungan pada teknologi.

Meski perusahaan Blackberry belum menanggapi tren ini, dukungan publik lewat petisi online dan viralnya tagar di TikTok menunjukkan bahwa nostalgia bisa menciptakan gelombang pasar baru. Mungkin saja, suatu hari nanti, tren ini akan memicu lahirnya produk edisi modern yang menggabungkan desain jadul dengan fitur digital minimalis.

Bagi anak muda, fenomena ini jadi pengingat bahwa koneksi manusia lebih berarti daripada notifikasi tanpa henti. Blackberry mungkin tidak kembali mendominasi pasar, tetapi di mata Gen Z, ponsel ini sudah menemukan tempat baru sebagai simbol kebebasan dari candu layar.

You Might Also Like

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat
Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur
TAGGED:Blackberrygen z
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article barenbliss Gandeng Hearts2Hearts Jadi Brand Ambassador di Indonesia
Next Article Badai PHK dan AI: Anak Muda Kini Berburu Pekerjaan Klasik Bergaji Tinggi
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

7 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

8 hours ago
Pildun 2026Terkini

Belgia Terancam Pulang Lagi, Iran Bikin Kejutan! Grup G Piala Dunia Makin Brutal

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Cape Verde Tinggal Selangkah Ukir Sejarah ke Babak Gugur Piala Dunia

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index