Inversi Badan Gizi Nasional (BGN) terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas jangkauan layanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh pelosok Indonesia.
Salah satu langkah strategis yang baru saja dilakukan adalah penambahan 18 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penambahan fasilitas ini diharapkan mampu mengoptimalkan distribusi gizi bagi masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Koordinator Wilayah SPPG Kota Pangkalpinang, Rori Nahla Oktavian, mengungkapkan bahwa progres pembangunan ke-18 dapur tersebut saat ini telah mencapai tahapan yang signifikan, yakni sekitar 80 hingga 85 persen. Diharapkan dalam waktu dekat, seluruh unit dapur tersebut dapat beroperasi penuh dan melayani kebutuhan nutrisi masyarakat luas di Pangkalpinang.
Peningkatan Kapasitas Layanan Gizi Terpadu
Penambahan infrastruktur dapur SPPG ini merupakan bagian dari upaya sistematis BGN dalam memastikan bahwa setiap penerima manfaat, mulai dari peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita, mendapatkan akses nutrisi yang layak dan berkelanjutan.
Dengan adanya tambahan 18 unit ini, kapasitas layanan gizi di Kota Pangkalpinang akan meningkat drastis, sehingga mampu mencakup wilayah-wilayah yang sebelumnya belum tersentuh oleh layanan distribusi nutrisi secara maksimal.
Rori menekankan bahwa pihaknya tidak hanya mengejar target penyelesaian fisik bangunan saja, melainkan sangat mengutamakan aspek kualitas operasional. “Kami terus melakukan pemantauan ketat terhadap proses pembangunan dapur SPPG ini.
Fokus utama kami adalah memastikan setiap dapur memenuhi standar kelayakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, terutama dalam aspek kebersihan, sanitasi, dan manajemen kesehatan pangan,” ujar Rori, Senin (18/5/2026).
Standarisasi ini menjadi krusial mengingat hasil akhir dari dapur-dapur tersebut akan dikonsumsi oleh kelompok rentan yang membutuhkan kualitas nutrisi tinggi. Pemenuhan standar sanitasi yang ketat menjadi syarat mutlak bagi operasional dapur SPPG demi menjaga keamanan pangan bagi seluruh penerima manfaat.
Dampak Ganda: Penyerapan Tenaga Kerja dan Penggerak Ekonomi Lokal
Selain fokus utama pada perbaikan gizi masyarakat, kehadiran program MBG di Kota Pangkalpinang terbukti membawa dampak ekonomi yang positif bagi daerah. Saat ini, sebanyak 20 unit SPPG telah beroperasi dan mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah yang signifikan.
Dalam setiap unit SPPG, terdapat sekitar 50 orang tenaga kerja yang dikelola dengan struktur organisasi yang profesional. Tim ini terdiri dari 47 relawan, serta tenaga ahli yang meliputi kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan. Jika dikalkulasikan dengan jumlah unit yang sudah beroperasi, program ini telah berhasil menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja lokal di Kota Pangkalpinang.
“Kami sangat bersyukur, kehadiran program MBG ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga memberikan solusi dalam membantu pemerintah daerah menekan angka pengangguran. Serapan tenaga kerja sebesar 1.000 orang di kota ini adalah kontribusi yang konkret dalam menciptakan lapangan kerja baru,” jelas Rori.
Lebih jauh lagi, efek ekonomi dari operasional SPPG ini tidak berhenti pada penyerapan tenaga kerja. Rori menambahkan bahwa keberadaan dapur-dapur tersebut juga menjadi motor penggerak bagi UMKM lokal dan para pemasok bahan pangan di sekitar lokasi dapur. Setiap kebutuhan dapur dipenuhi melalui rantai pasok lokal, yang berarti perputaran uang tetap berada di dalam ekosistem masyarakat setempat.
“Penambahan 18 dapur SPPG ini tentunya akan kembali membuka peluang bagi lebih banyak tenaga kerja lokal, sekaligus memperluas pasar bagi petani, peternak, nelayan, dan pedagang UMKM di Pangkalpinang. Ini adalah langkah nyata dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat dari tingkat akar rumput,” tambahnya.