INVERSI.ID – Rencana Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang ingin menerapkan sistem barak militer untuk mendidik anak-anak yang dianggap “nakal” menuai beragam respons. Meskipun banyak masyarakat Jawa Barat menilai kebijakan ini positif karena dinilai dapat menumbuhkan kedisiplinan, namun kritik juga datang dari kalangan legislatif.
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Andi Muawiyah Ramli, mengingatkan bahwa pendidikan bagi anak muda seharusnya tidak dibangun dengan pendekatan militeristik.
“Kalau dilihat sekilas, pola kebijakan Pak Gubernur memang terlihat ingin menanamkan disiplin dan karakter yang kuat. Tapi kita harus ingat, hakikat pendidikan bagi anak muda itu bukan begitu, bukan dengan cara militer,” ujar Andi, Sabtu (10/5).
Pesantren Dinilai Lebih Efektif untuk Pembentukan Karakter
Andi menyebut, pesantren adalah institusi yang telah lama terbukti mampu membentuk karakter generasi muda Indonesia, mulai dari kedisiplinan hingga akhlak.
“Sejak dulu, pesantren jadi tempat yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai disiplin dan akhlakul karimah. Saya kira, anak-anak yang dianggap nakal justru lebih cocok ditempatkan di lingkungan pesantren,” tambahnya.
Menurutnya, pembentukan karakter tidak bisa dilakukan secara instan, apalagi hanya dalam waktu singkat seperti pelatihan tiga minggu di barak militer.
“Proses berpikir anak muda itu butuh waktu panjang untuk dibentuk. Di pesantren, hal ini dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan, bahkan bisa berlangsung bertahun-tahun,” jelasnya.
Pendidikan Bukan Tentang Hukuman, Tapi Pembinaan
Pernyataan Andi menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih humanis dalam dunia pendidikan. Ia menekankan bahwa anak-anak muda tidak seharusnya dihadapkan pada pola pendidikan yang mengedepankan hukuman fisik atau tekanan mental.
Menurutnya, pembangunan karakter ideal justru harus dilakukan melalui pembinaan yang berfokus pada nilai, moral, dan spiritualitas, bukan sekadar kedisiplinan fisik.***