Halo brother and sister, di tengah arus modernisasi dan derasnya gelombang digital, nama Djemima Shireen Ferdinand atau akrab disapa Shireen, bikin publik Jawa Barat angkat topi.
Remaja kece berusia 17 tahun asal Kabupaten Sukabumi ini berhasil dinobatkan sebagai Puteri Nelayan 2025, bro and sis! Dia sukses menyisihkan puluhan peserta dari berbagai daerah pesisir, dengan pesona, otak, dan semangat budayanya.
Pelajar Multitalenta dari SMAN 1 Cisolok
Siswi kelas 11 ini bukan cuma cantik, tapi juga cerdas dan aktif. Shireen dikenal sebagai pribadi yang supel, suka membaca, jago nari, dan hobi main basket.
Lewat akun IG @djemimasf dan TikTok @ilovepinkiest, dia rutin angkat suara soal budaya dan isu lingkungan laut. Jadi bukan sekadar pencitraan, tapi pure passion, bro!
Sudah Cetak Prestasi Sejak Dulu
Shireen memang bukan nama baru di dunia prestasi. Cek list-nya, ya:
- Runner Up Duta Literasi Sukabumi 2025
- Juara 2 Poetry Reading FKBI Sukabumi 2023
- Juara 1 Mayoret SMP Piala Bupati 2022
- Siswa Cerdas Gizi BPSA Sukabumi 2022
- Pernah jadi Ketua OSIS SMP Uswatun Hasanah
“Buat aku, prestasi itu bukan soal piala, tapi soal dampak. Bisa bermanfaat dan menginspirasi itu jauh lebih keren,” ungkapnya.
Tampil Memukau sebagai Nyai Puun Mayangsagara
Di puncak pemilihan Puteri Nelayan, Shireen memerankan sosok sakral Nyai Puun Mayangsagara, simbol perempuan pesisir yang bijak dan anggun. Ia ikutan dalam prosesi adat dan Labuh Saji, yang sarat makna spiritual dan budaya.
“Banyak yang meragukan aku, bilang aku nggak pantas. Tapi, bro and sis, kayak nelayan yang tetap berlayar walau langit mendung, aku juga tetap melangkah. Tekad itu nggak butuh validasi,” tegasnya dengan penuh semangat.
Kampanye: Our Culture, Our Life
Lewat gelar yang diemban, Shireen kini menggagas kampanye “Our Culture, Our Life” buat ngedukasi anak muda soal pentingnya menjaga budaya lokal dan lingkungan laut.
“Potensi Sukabumi itu luar biasa. Tapi tantangannya ada di kesadaran. Kita harus mulai sadar bahwa menjaga laut dan budaya itu tugas kita semua,” katanya.
Ia juga ingetin soal bahaya pencemaran laut dan kehilangan identitas budaya gara-gara modernisasi. Media sosial, menurutnya, bisa jadi senjata buat anak muda ngegaungkan hal positif.
Bagi Shireen, gelar Puteri Nelayan bukan sekadar mahkota dan selempang. Ini suara untuk generasi muda yang peduli laut dan budaya.
“Laut itu bukan cuma spot healing, bro. Dia adalah napas masa depan. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi? Yuk kurangi jejak yang merusak dan perbanyak langkah yang berdampak,” tutupnya dengan penuh makna.