Inversi Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gorontalo Utara, Fitri Yusup Husain, secara resmi menyampaikan dukungan strategis terhadap inisiatif pemanfaatan rumput laut sebagai komponen utama dalam struktur menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah ini dipandang sebagai upaya progresif untuk mengintegrasikan potensi kekayaan maritim lokal ke dalam ekosistem pangan nasional, sekaligus menjadi stimulus bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis pemberdayaan masyarakat pesisir di Kabupaten Gorontalo Utara.
Dalam pernyataannya di Gorontalo, Sabtu (30/5), Fitri menekankan bahwa rumput laut bukan hanya komoditas ekspor, melainkan superfood lokal yang memiliki profil nutrisi lengkap untuk mendukung tumbuh kembang anak usia sekolah.
Integrasi produk olahan rumput laut ke dalam menu MBG diharapkan dapat memperpendek rantai pasok pangan, mengoptimalkan penyerapan produk petani lokal, serta menyajikan alternatif menu sehat yang kaya serat, yodium, dan antioksidan bagi generasi muda.
Pemberdayaan UMKM dan Sentra Produksi
Fitri Yusup Husain, yang juga mengemban amanah sebagai Ketua Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Kabupaten Gorontalo Utara, menyatakan komitmennya untuk melakukan serangkaian aksi nyata di lapangan.
Pihaknya berencana melakukan pendampingan intensif ke rumah-rumah produksi pengolahan rumput laut yang tersebar di sentra-sentra produktif, seperti Kecamatan Anggrek, Kecamatan Kwandang, dan Kecamatan Ponelo Kepulauan.
“Langkah strategis yang akan kami lakukan adalah pemetaan dan pendampingan pelaku usaha pengolahan rumput laut di tingkat akar rumput. Kami akan memastikan kualitas produk olahan memenuhi standar keamanan pangan agar layak masuk ke dalam rantai pasok dapur-dapur MBG.”
“Dengan adanya kepastian pasar, para pelaku usaha mikro di wilayah pesisir akan memiliki motivasi lebih tinggi untuk meningkatkan volume dan diversifikasi produk olahan mereka,” ujar Fitri.
Kolaborasi ini diharapkan mampu mentransformasi UMKM pengolahan rumput laut dari sekadar pedagang bahan mentah menjadi penyedia produk pangan olahan bernilai tambah. Hal ini sejalan dengan visi hilirisasi industri yang digalakkan pemerintah, di mana produk domestik dikelola dan dikonsumsi sendiri oleh masyarakat untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.
Nutrisi Rumput Laut sebagai Pilar Gizi Anak Sekolah
Dari perspektif kesehatan masyarakat, rumput laut menyimpan kekayaan nutrisi yang sangat relevan untuk mengatasi masalah defisiensi gizi mikro pada anak-anak. Kandungan yodium dalam rumput laut sangat krusial bagi fungsi tiroid dan perkembangan kognitif anak.
Selain itu, kandungan serat pangan yang tinggi sangat efektif dalam menjaga kesehatan pencernaan, sementara kalsium dan zat besi di dalamnya berperan vital bagi penguatan struktur tulang dan pencegahan anemia.
Dengan memasukkan olahan rumput laut ke dalam menu harian MBG, para siswa di Gorontalo Utara akan mendapatkan asupan nutrisi yang beragam di luar sumber protein hewani konvensional. Fitri optimis bahwa inovasi menu ini akan disambut baik oleh para siswa, asalkan diolah dengan teknik kuliner yang menarik dan sesuai dengan selera anak-anak.
“Program MBG harus mampu menjadi wadah pendidikan gizi bagi anak-anak kita. Melalui olahan rumput laut, kita tidak hanya memberikan makanan yang mengenyangkan, tetapi juga memperkenalkan kekayaan hayati daerah sendiri sejak dini.”
“Anak-anak akan terbiasa mengonsumsi pangan sehat hasil bumi mereka sendiri, yang secara tidak langsung membentuk kebanggaan lokal dalam jiwa mereka,” tambahnya.
Dampak Ekonomi Berkelanjutan bagi Perekonomian Daerah
Secara makro, integrasi komoditas lokal ke dalam PSN (Program Strategis Nasional) MBG memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang luas terhadap perekonomian Gorontalo Utara.
Pertama, terciptanya pasar yang stabil dan berkesinambungan bagi petani serta pengolah rumput laut. Kedua, peningkatan efisiensi logistik karena bahan baku diperoleh dari radius yang relatif dekat dengan unit dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ketiga, terciptanya lapangan kerja baru di sektor pengolahan pangan lokal.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan fasilitasi tambahan, baik berupa akses permodalan, peralatan produksi yang lebih higienis, maupun pendampingan sertifikasi pangan (seperti PIRT atau BPOM) bagi pelaku UMKM.
Dukungan politik dari DPRD Gorontalo Utara dalam hal penganggaran maupun kebijakan pro-UMKM sangat krusial untuk memastikan bahwa rencana integrasi ini dapat berjalan secara sistematis dan terukur.
Menuju Kemandirian Pangan Berbasis Kearifan Lokal
Inisiatif yang diusung oleh Fitri Yusup Husain merupakan model ideal bagi daerah lain di Indonesia dalam mengelola Program MBG. Alih-alih bergantung sepenuhnya pada pasokan pangan dari luar daerah, setiap wilayah didorong untuk mengidentifikasi “potensi emas” mereka sendiri.
Gorontalo Utara, dengan bentang pesisir dan kekayaan laut yang melimpah, menjadikan rumput laut sebagai modal utama untuk menciptakan kemandirian pangan.
Program MBG pada dasarnya adalah investasi modal manusia (human capital investment). Ketika investasi ini menggunakan bahan pangan lokal, maka investasi tersebut juga menjadi investasi modal ekonomi daerah. Langkah konkret ini diharapkan menjadi inspirasi bagi pemangku kepentingan di wilayah lain untuk mulai melirik potensi lokal yang selama ini mungkin belum tergarap optimal.
Dengan semangat gotong royong dan sinergi antara kebijakan legislatif, dukungan organisasi kewirausahaan seperti IPEMI, serta partisipasi aktif para pelaku UMKM, Gorontalo Utara berpotensi menjadi pelopor dalam gerakan ketahanan pangan berbasis komoditas lokal.
Hal ini tidak hanya akan mempercepat pengentasan masalah gizi di tingkat sekolah, tetapi juga memastikan bahwa kesejahteraan masyarakat pesisir di Gorontalo Utara ikut terdongkrak seiring dengan suksesnya pelaksanaan program nasional yang strategis ini.