JAKARTA — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan tiga strategi besar diversifikasi energi Indonesia di tengah ancaman krisis energi global yang makin tidak menentu. Langkah itu disampaikan Bahlil dalam forum internasional KTT ASEAN 2026 di Manila, Filipina lalu sebagai upaya menjaga stabilitas nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin ketahanan energi kawasan.
Di tengah terganggunya rantai pasok energi dunia dan meningkatnya ketegangan geopolitik global, Bahlil menegaskan Indonesia tidak boleh bergantung pada satu sumber energi saja.
“Kondisi energi global saat ini sedang tidak menentu. Kita harus lakukan diversifikasi energi, agar ketika satu sumber energi sulit didapat, kita masih punya sumber energi yang lain,” ujar Bahlil dalam keterangan resmi, Sabtu (9/5/2026).
Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar karena kaya sumber energi alternatif di luar energi fosil. Karena itu, pemerintah kini mempercepat tiga agenda utama diversifikasi energi sebagai “perisai nasional” menghadapi krisis global.
Strategi pertama adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt. Langkah ini diproyeksikan menjadi fondasi transisi energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.
Strategi kedua adalah percepatan mandatori biodiesel yang akan ditingkatkan hingga 50 persen. Kebijakan ini dinilai penting untuk menekan impor BBM sekaligus memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya domestik.
Sedangkan strategi ketiga adalah peningkatan penggunaan kendaraan listrik untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan mempercepat transformasi energi bersih Indonesia.
Bahlil menilai diversifikasi energi kini bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, melainkan kebutuhan mendesak agar Indonesia tetap stabil di tengah ancaman gangguan pasokan energi global.
Langkah yang dibawa Indonesia di forum ASEAN itu juga memperlihatkan peran aktif Jakarta dalam membangun arah baru ketahanan energi kawasan Asia Tenggara.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto turut mengingatkan negara-negara ASEAN agar bersiap menghadapi potensi gangguan pasokan energi berkepanjangan.
Menurut Prabowo, ketahanan energi kawasan harus dibangun secara proaktif dan tidak boleh hanya bersifat reaktif terhadap krisis.
“Diversifikasi energi bukan lagi pilihan. Ini sangat penting, ini perlu. Kita harus bergerak lebih cepat. Kita harus melalui sumber alternatif dan kita harus mempersiapkan energi terbarukan,” ujar Prabowo.
Melalui strategi yang dipaparkan Bahlil, Indonesia kini diposisikan bukan hanya sebagai konsumen energi di ASEAN, tetapi juga sebagai arsitek ketahanan energi regional yang mulai diperhitungkan di tengah ketidakpastian global.