By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: FIFA Players’ Voice Panel Gelar Pertemuan di Maroko, Serukan Aksi Nyata Lawan Rasisme dalam Sepak Bola Dunia
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » FIFA Players’ Voice Panel Gelar Pertemuan di Maroko, Serukan Aksi Nyata Lawan Rasisme dalam Sepak Bola Dunia

Olahraga

FIFA Players’ Voice Panel Gelar Pertemuan di Maroko, Serukan Aksi Nyata Lawan Rasisme dalam Sepak Bola Dunia

Iqbal Prakoso
By
Iqbal Prakoso
7 months ago
Share
7 Min Read
Dok. FIFA
Dok. FIFA
SHARE

FIFA secara resmi menggelar pertemuan perdana Players’ Voice Panel (PVP) di Rabat, Maroko, pada Senin 10 November 2025. Pertemuan ini menjadi tindak lanjut dari peluncuran panel tersebut pada Kongres FIFA ke-74 di Bangkok, Thailand, pada Mei 2024.

Inisiatif ini merupakan bagian dari program global bertajuk Global Stand Against Racism, yang menjadi langkah konkret FIFA untuk memberantas diskriminasi rasial di dunia sepak bola. Program tersebut menegaskan bahwa perjuangan melawan rasisme tidak berhenti di dalam lapangan, tetapi juga harus mencakup seluruh aspek olahraga, termasuk ruang digital dan media sosial.

FIFA mewajibkan seluruh 211 Asosiasi Anggota, termasuk PSSI di Indonesia, untuk menerapkan kebijakan anti-rasisme yang nyata berdasarkan lima pilar utama. Pilar-pilar tersebut meliputi aturan dan sanksi, tindakan di lapangan, penegakan hukum pidana, pendidikan, dan suara pemain atau Players’ Voice.

Dari kelima pilar itu, Players’ Voice menjadi bagian paling representatif, karena menempatkan para pemain — baik yang masih aktif maupun yang telah pensiun — sebagai agen utama dalam memperjuangkan kesetaraan dan melawan ujaran kebencian di sepak bola.

Panel ini beranggotakan 16 pemain yang mewakili sepak bola pria dan wanita dari 14 asosiasi nasional, mencakup seluruh enam konfederasi FIFA. Dalam daftar anggota tersebut, terdapat sejumlah legenda sepak bola dunia seperti George Weah yang ditunjuk sebagai kapten kehormatan, Didier Drogba, Formiga, Juan Pablo Sorin, Mikaël Silvestre, hingga Briana Scurry.

Dalam pidatonya di hadapan anggota panel, George Weah menegaskan bahwa rasisme bukan sekadar persoalan olahraga, melainkan penyakit sosial yang mengancam persatuan dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Kita semua harus menikmati permainan indah ini tanpa kebencian. Kita harus berjalan dan bernyanyi bersama di stadion, bukan saling menyerang. Rasisme adalah penyakit yang harus kita basmi dari sepak bola dan dari masyarakat,” ujar Weah, seperti dilansir FIFA.com.

Weah menambahkan bahwa sepak bola selalu memiliki kekuatan untuk mempersatukan perbedaan, dan tanggung jawab terbesar ada pada pemain serta penggemar untuk menjaga nilai-nilai tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, FIFA menegaskan komitmennya untuk menjalankan langkah-langkah nyata, bukan sekadar kampanye simbolis. Beberapa kebijakan baru yang diumumkan meliputi:

Baca Juga :

Perkuat Pendidikan Karakter, Pemerintah Wajibkan Upacara Bendera di Sekolah
Menteri Bahlil Percepat Listrik Lintas Negara ASEAN demi Keadilan Energi
  1. Pembaruan Kode Disiplin FIFA (FDC) dengan menaikkan besaran denda terhadap tindakan rasisme hingga mencapai 5 juta franc Swiss atau setara lebih dari 90 miliar rupiah.
  2. Penerapan prosedur tiga langkah anti-diskriminasi, yaitu peringatan resmi, penghentian sementara pertandingan, dan penghentian total pertandingan jika perilaku rasis terus berlanjut.
  3. Penguatan pengawasan media sosial melalui FIFA Social Media Protection Service untuk melindungi pemain dan ofisial dari ujaran kebencian di platform digital.
  4. Peningkatan edukasi melalui program Football for Schools dan platform e-learning FIFA, agar kesadaran tentang kesetaraan dan toleransi ditanamkan sejak usia dini.

Selain itu, setiap anggota panel memiliki tanggung jawab memantau kebijakan anti-rasisme di negaranya masing-masing, menjadi penggerak edukasi bagi pemain muda, serta mendorong perubahan budaya di dunia sepak bola.

Kampanye Global Stand Against Racism diharapkan dapat menjadi katalis perubahan, tidak hanya di tingkat global, tetapi juga di tingkat nasional. Asia, termasuk Indonesia, menjadi salah satu kawasan yang disoroti FIFA untuk memperkuat pendidikan karakter dalam sepak bola.

Belakangan, kasus perundungan dan ujaran rasis di dunia olahraga Indonesia kerap muncul di media sosial, baik terhadap pemain lokal maupun asing. Jika tidak ditangani dengan serius, fenomena ini bisa menimbulkan konsekuensi serius, termasuk potensi sanksi disiplin dari FIFA.

Dengan adanya program ini, FIFA mendorong setiap federasi nasional untuk mengambil langkah-langkah konkret, mulai dari pelatihan pelatih dan ofisial, edukasi pemain muda, hingga pengawasan perilaku suporter di stadion.

Sejumlah legenda sepak bola dunia yang tergabung dalam panel ini menyambut positif langkah FIFA. Didier Drogba menyebut inisiatif tersebut sebagai momentum bersejarah untuk “mengembalikan nilai kemanusiaan dalam sepak bola.”

Sementara itu, Briana Scurry, mantan kiper tim nasional wanita Amerika Serikat, menilai bahwa tantangan terbesar bukan hanya menghukum pelaku rasisme, tetapi juga mengubah pola pikir masyarakat sepak bola secara global.

“Kita tidak hanya ingin menghukum. Kita ingin mengubah budaya. Pemain, pelatih, dan penggemar harus paham bahwa tidak ada ruang untuk kebencian di dunia olahraga,” ujarnya.

Dok. FIFA

Meski program ini disambut antusias, FIFA mengakui bahwa penerapannya di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan.

Pertama, tidak semua asosiasi memiliki sistem disiplin yang kuat untuk menindak kasus rasisme secara tegas. Beberapa federasi masih kesulitan menerapkan sanksi karena kurangnya bukti atau tidak adanya mekanisme pelaporan yang jelas.

Kedua, peran media sosial menjadi tantangan baru. Banyak kasus ujaran kebencian yang muncul di dunia digital tanpa bisa dikendalikan secara langsung oleh penyelenggara pertandingan.

Ketiga, masih dibutuhkan dukungan nyata dari klub, pelatih, dan pemain untuk ikut aktif dalam kampanye anti-rasisme, bukan hanya mengikuti slogan semata.

Bagi Indonesia, inisiatif FIFA ini bisa menjadi refleksi penting. Sepak bola nasional masih menghadapi persoalan perilaku suporter dan ujaran diskriminatif, baik di stadion maupun di dunia maya.

PSSI bersama klub-klub Liga 1 dan Liga 2 diharapkan menjadikan program Global Stand Against Racism sebagai pedoman dalam membangun sepak bola yang inklusif dan berkarakter.

Edukasi dan pembinaan sejak usia dini menjadi kunci utama. Program seperti Football for Schools yang sudah diimplementasikan FIFA dapat menjadi contoh untuk mengajarkan nilai kesetaraan, saling menghargai, dan solidaritas di antara pemain muda Indonesia.

Baca Juga : https://turunminum.id/ragam/fifa-players-voice-panel-kumpul-di-maroko-sepak-bola-bersatu-lawan-rasisme/

Pertemuan FIFA Players’ Voice Panel di Rabat menjadi momentum besar dalam perjuangan global melawan rasisme di sepak bola. Dengan melibatkan para legenda dunia seperti George Weah dan Didier Drogba, FIFA menegaskan bahwa perlawanan terhadap diskriminasi bukan sekadar slogan, tetapi gerakan nyata yang melibatkan seluruh elemen sepak bola.

Program ini mengingatkan bahwa sepak bola adalah olahraga yang diciptakan untuk menyatukan, bukan memisahkan. Semangat Global Stand Against Racism kini menjadi kompas moral bagi setiap pemain, pelatih, suporter, dan federasi di seluruh dunia.

Untuk Indonesia, momen ini seharusnya menjadi titik awal memperkuat budaya sportivitas dan menghormati perbedaan. Jika nilai-nilai kesetaraan dan kemanusiaan benar-benar tertanam dalam dunia sepak bola, maka lapangan hijau akan menjadi tempat di mana semua orang bisa bermain, bersorak, dan bermimpi tanpa rasa takut akan kebencian.

You Might Also Like

Klasemen MotoGP 2026 Usai GP Ceko: Bezzecchi Masih Memimpin, Marc Marquez Kian Mengancam
Marc Marquez Tak Terbendung di Brno, Kemenangan Kedua Beruntun Bikin Rival Waspada
Miguel Almiron Jadi Pemain Pertama Kena Aturan Prestianni di Piala Dunia 2026
Harapan Palsu Skotlandia, Kutukan Lama Muncul Lagi
Langkah Aldila Sutjiadi/Janice Tjen Terhenti di Semifinal Nottingham Open 2026
TAGGED:FIFAMarokoRasismeSepak Bola
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Foto : Kabid Kepemudaan dan Kewirausahaan, Dispora Kukar Dery Wardhana Dispora Kukar Posisikan Pemuda Untuk Ujung Tombak Creative Economy dan Ecosystem Building
Next Article Foto : Presiden Prabowo Subianto saat pemberian gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Selasa (11/11/2025). Strategi Dua Jalur Pemerintahan Prabowo Jadikan Desa sebagai Pusat Ekonomi Baru
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Olahraga

Alex Marquez Prioritaskan Pemulihan, Absen di Sprint dan Race GP Ceko

3 days ago
Olahraga

Cetak Brace Perdana di Piala Dunia, Cunha Bawa Brasil Makin Percaya Diri

3 days ago
Olahraga

Ronaldinho Dikabarkan Gabung Ravenna FC, Siap Kembali ke Dunia Sepak Bola di Usia 46 Tahun

3 days ago
Olahraga

Siapkan Generasi Emas, Pemerintah Dorong Pembinaan Atlet Sejak Usia 8 Tahun

4 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index