Inversi. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto meluncurkan strategi dua jalur untuk mengatasi tingginya pengangguran muda dan mempercepat pemerataan ekonomi: Youth Mobility (Mobilitas Pemuda) Global melalui program SMK Go Global dan penguatan investasi berbasis Desa sebagai Mesin Ekonomi.
Langkah ini tidak hanya berorientasi pada penciptaan lapangan kerja, tetapi juga pada transformasi mindset bahwa kesempatan emas kini tersebar luas, baik di pasar kerja internasional maupun di sektor agro-entrepreneurship yang berakar pada potensi lokal.
Indonesia dihadapkan pada tantangan besar berupa mismatch ketenagakerjaan, terutama di kalangan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), di mana sekitar 1,5–1,6 juta orang masih menganggur. Program SMK Go Global hadir sebagai solusi cepat dan konkret.
Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menyatakan program ini lahir dari keprihatinan tersebut dan bertujuan memberdayakan lulusan SMK dan SMA agar terserap di lapangan kerja, termasuk di luar negeri dengan gaji yang kompetitif.
“Program akhir tahun 2025 dan tahun 2026 ini kita menempatkan lulusan SMK dan SMA yang berminat dengan keterampilan khusus… untuk bisa bekerja lebih baik dengan gaji yang bagus di luar negeri,” kata Muhaimin.
Kementerian P2MI (Kementerian Pemberdayaan dan Penempatan Pekerja Migran Indonesia) menunjukkan kesiapan eksekusi dengan menyiapkan 7.600 formasi kerja luar negeri melalui 20 perusahaan penempatan. Wamen P2MI, Christina Aryani, menegaskan bahwa ini adalah langkah nyata memperluas akses kerja luar negeri secara resmi, sekaligus memberikan standar profesionalisme.
Transformasi Desa sebagai Pusat Pertumbuhan
Jalur kedua strategi ini berfokus pada penguatan fondasi ekonomi desa. Menteri Desa, Yandri Susanto, secara tegas menyerukan kepada generasi muda untuk melihat desa bukan sebagai wilayah tertinggal, melainkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang menopang pembangunan nasional.
“Peluang ada di desa. Kita bisa buat desa ayam petelur, desa melon, desa semangka, dan lain-lain. Jangan sampai peluang ini diambil orang lain, hanya karena kita tidak bergerak,” tegas Yandri Susanto.
Pesan ini sangat relevan bagi anak muda: agro-entrepreneurship modern adalah peluang bisnis besar. Desa berperan vital dalam suplai kebutuhan nasional, dan penguatan desa adalah poin kunci (Astacita ke-6) dari visi Presiden Prabowo.
Desa yang kuat secara ekonomi akan menghasilkan efek domino yang menguatkan perekonomian nasional secara keseluruhan. Transformasi ini memerlukan keberanian anak muda untuk berinvestasi pikiran, teknologi, dan modaldi sektor pertanian dan peternakan lokal.
Masukan dan Arahan Penting bagi Generasi Muda
Dua jalur kebijakan ini memberikan orientasi yang jelas bagi Gen Z dan Milenial. Berikut adalah pesan dan arahan penting untuk memanfaatkan peluang ini:
- Hapus Stigma Kesenjangan Keterampilan: Jika Anda lulusan SMK, seriusi program Go Global. Jangan hanya mengandalkan ijazah, tetapi kuasai keterampilan teknis spesifik (pengelasan, perawatan, hospitality) hingga standar internasional. Mobilitas global adalah cara tercepat untuk membangun modal finansial dan pengalaman profesional.
- Jadilah Agro-Entrepreneur Berbasis Teknologi: Jika Anda memilih beraksi di desa, jangan lakukan cara lama. Terapkan teknologi (Precision Farming, IoT, e-commerce) untuk menciptakan desa-desa komoditas unggulan. Ubah citra desa dari tradisional menjadi pusat inovasi yang menyediakan suplai modern untuk kebutuhan nasional.
- Manfaatkan Triple Helix di Desa: Cari peluang kolaborasi dengan dana desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan Lembaga Keuangan Mikro Desa. Pemerintah telah menyediakan fondasi (Astacita), tugas anak muda adalah menyuntikkan inovasi dan eksekusi.
- Mindset Shifting Lokalisasi dan Globalisasi: Pahami dua strategi ini saling melengkapi. Bekerja di luar negeri (global) dapat memberikan modal dan pengalaman; sementara berwirausaha di desa (lokal) dapat memberikan dampak sosial dan kontribusi nyata pada ketahanan pangan nasional.
- Ambil Peran Kunci: Sadari bahwa Anda adalah “pemain kunci.” Jangan menunggu kebijakan turun; aktiflah mencari peluang di desa atau di bursa kerja internasional. Keberanian untuk “tidak bergerak” adalah risiko terbesar yang harus dihindari.