Halo Inversi! Nunukan vibes makin berasa! Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Kabupaten Nunukan tahun ini makin semarak dengan digelarnya Festival Kuliner Tradisional di GOR Dwikora, Kamis (9/10/2025).
Bukan sekadar ajang makan-makan, tapi festival ini jadi momen spesial buat ngenalin, melestarikan, sekaligus ngerayain keberagaman kuliner khas dari berbagai etnis yang hidup berdampingan di Bumi Penekindi Debaya.
Pesta Rasa Nusantara di Perbatasan
Dari ujung ke ujung stan, pengunjung disuguhi aneka kuliner khas yang bikin ngiler. Ada Ikan Masak Mandar dari Suku Mandar dengan cita rasa gurih pedas, Nasu Cemba khas Enrekang yang kaya bumbu, sampai Kantovi khas Suku Buton yang bikin penasaran.
Nggak ketinggalan, hadir juga Kue Keranjang dari masyarakat Tionghoa yang biasanya identik dengan perayaan Imlek. Ditambah aneka panganan tradisional lain, festival ini benar-benar jadi etalase rasa Nusantara versi Nunukan.
Setiap stan bukan cuma sekadar tempat jajan, tapi juga ruang interaksi. Masyarakat bisa ngobrol langsung sama penyaji makanan, belajar resep, bahkan dengar cerita filosofi di balik hidangan tradisional. Jadi, festival ini bukan hanya soal “kenyang perut”, tapi juga “kenyang wawasan”.
Bupati Ikut Blusukan ke Stan Kuliner
Bupati Nunukan H. Irwan Sabri bersama Ketua Tim Penggerak PKK, Andi Annisa Muthia Irwan, hadir langsung buat merasakan atmosfer festival.
Ditemani sejumlah pejabat Organisasi Perangkat Daerah (OPD), beliau berkeliling dari satu stan ke stan lain, mencicipi hidangan, sambil ngobrol santai bareng masyarakat.
“Di sini kita bisa lihat dan rasakan langsung betapa kayanya keberagaman kuliner yang ada di Kabupaten Nunukan. Ini bukti nyata kalau budaya kita luar biasa,” kata Bupati Irwan dengan ekspresi puas setelah mencicipi beberapa hidangan.
Ia menambahkan, festival kuliner seperti ini penting banget buat mempererat silaturahmi antar-etnis sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas lokal.
“Kalau tradisi kuliner ini kita jaga, generasi mendatang nggak cuma bisa menikmati cita rasa, tapi juga bisa ngerti nilai budaya di baliknya,” tegasnya.
Festival ini bukan sekadar bagian dari perayaan HUT Kabupaten Nunukan. Lebih dari itu, ia jadi wadah anak muda buat ngerti bahwa makanan tradisional bukan hal kuno, tapi heritage keren yang bisa diangkat ke level lebih tinggi, bahkan internasional.
Bayangin aja, dengan kuliner sebagai media, keberagaman masyarakat Nunukan ditampilkan dengan cara paling damai, asik, dan nikmat. Makan bareng jadi simbol persatuan, bahwa perbedaan budaya bisa dirayakan lewat satu meja.
Pesan untuk Generasi Muda
Di akhir kunjungannya, Bupati Irwan berpesan khusus buat generasi muda Nunukan: jangan malu sama kuliner tradisi. Justru harus bangga dan terus berinovasi biar makanan khas daerah bisa eksis di era globalisasi.
“Festival ini jadi awal langkah buat menjaga dan mengembangkan potensi kuliner kita. Harapannya, ke depan bisa dikemas lebih kreatif dan dikenal luas, nggak cuma di tingkat lokal tapi juga nasional,” ujarnya.
Festival Kuliner Tradisional ini jadi bukti bahwa perayaan ulang tahun daerah bukan cuma soal pesta seremonial, tapi juga kesempatan buat menggali jati diri dan mempererat kebersamaan.
Dengan keberagaman kuliner sebagai perekat, Nunukan berhasil menunjukkan bahwa perbedaan justru bikin kaya, bukan memecah.
Di HUT ke-26 ini, Kabupaten Nunukan nggak cuma merayakan umur, tapi juga merayakan rasa—rasa persatuan, rasa bangga, dan tentu saja rasa kuliner tradisional yang bikin semua pengunjung tersenyum puas.