INVERSI.ID – Satuan Tugas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia menekankan pentingnya vaksinasi human papillomavirus (HPV) bagi perempuan maupun laki-laki sebagai langkah pencegahan berbagai jenis kanker yang dipicu infeksi virus tersebut.
Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Hartono Gunardi, menjelaskan bahwa virus HPV merupakan infeksi yang sangat umum dan hampir setiap orang berpotensi terpapar setidaknya sekali sepanjang hidupnya.
“Dan malangnya kita pernah satu kali terinfeksi virus HPV ini seumur hidup kita, dan dengan pertahanan tubuh sekitar 90 persen kita akan sembuh sendiri dalam satu sampai dua tahun setelah terinfeksi virus HPV,” katanya dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Selasa.
Namun, Prof. Hartono mengingatkan bahwa infeksi HPV dapat menjadi lebih berbahaya apabila terjadi berulang atau ketika daya tahan tubuh seseorang menurun, misalnya akibat kebiasaan merokok maupun gangguan sistem imun.
Menurutnya, virus HPV dapat menular melalui kontak seksual maupun non-seksual, termasuk lewat sentuhan kulit ke kulit atau kontak antarselaput lendir seperti melalui area mulut.
“Dari suatu penelitian pada laki-laki dapat ditempatkan 10 persen populasi laki-laki itu mempunyai HPV di dalam air liurnya. Sedangkan pada perempuan itu prevalensnya lebih sedikit lagi sekitar 3,6 persen mengandung HPV, dia bisa menular lewat kulit maupun selaput lendir,” tutur dia.
Prof. Hartono menjelaskan bahwa HPV terbagi menjadi dua kategori utama, yakni virus berisiko rendah dan berisiko tinggi. HPV risiko rendah umumnya menyebabkan kutil kelamin hingga papiloma yang tumbuh di kulit maupun selaput lendir.
Papiloma tersebut bahkan bisa muncul di area pita suara atau tenggorokan. Kondisi ini kerap ditemukan pada anak-anak dan dapat memicu suara serak sehingga mengganggu aktivitas berbicara serta interaksi sosial.
Selain itu, HPV risiko rendah juga dapat menimbulkan kutil di berbagai bagian tubuh seperti telapak tangan dan telapak kaki.
Sementara itu, HPV berisiko tinggi dapat memicu munculnya lesi prakanker yang berkembang menjadi kanker di area serviks, vagina, vulva, anus, hingga bibir kelamin.
“Setelah menjadi kanker, bisa di vagina, di leher rahim, ataupun di anus, dan juga di bibir kelamin. Dan yang jinak akan menimbulkan kutil di kulit ataupun bisa juga di kulit kelamin,” kata dia.
Ia menjelaskan infeksi HPV biasanya terjadi ketika terdapat luka kecil atau robekan halus pada kulit maupun selaput lendir. Virus kemudian masuk ke dalam tubuh dan menyisipkan materi genetik berupa DNA ke dalam sel yang terinfeksi.
Proses tersebut dapat memicu perubahan pada sel tubuh dan mempercepat penyebaran virus ke bagian tubuh lain maupun ke orang lain.
“Virusnya tersebut nanti bisa menularkan kembali ke orang lain ataupun bagian tubuh yang lain, bahwa laki-laki dengan perempuan bisa saling menularkan,” imbuh dia.
Untuk menekan penyebaran HPV, Prof. Hartono menilai vaksinasi menjadi langkah paling efektif. Ia menyebut vaksinasi pada perempuan saja membutuhkan waktu lebih dari 30 hingga 50 tahun untuk menekan prevalensi HPV ganas.
Namun, apabila vaksin diberikan secara merata kepada laki-laki dan perempuan, penurunan angka penularan dinilai bisa tercapai lebih cepat, yakni sekitar 30 tahun dengan cakupan vaksinasi penuh.
“Jadi kalau hanya perempuan saja, apalagi kalau vaksin cakupannya tidak baik, maka penekanan pengurangannya akan sangat berkurang minimal, dibandingkan dengan full coverage dan diberikan pada laki-laki maupun pada perempuan,” kata dia.
Lebih lanjut, Prof. Hartono menegaskan pentingnya peran orang tua dalam memberikan vaksin HPV kepada anak sejak dini. Menurutnya, pemahaman tentang risiko penyakit akibat HPV dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi.
“Imunisasi HPV merupakan cara yang paling efektif untuk melindungi individu dari kanker serviks atau HPV-related cancer ya. Dan imunisasi terbaik bila diberikan pada usia 9-14 tahun,” tutur dia.