JAKARTA- Lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) seolah dilanda badai. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam, menembus level psikologis penting dan menciptakan lautan merah di portfolio investor. Kepanikan mulai menjalar, terutama di kalangan investor ritel yang baru terjun ke pasar saham. Namun, di tengah kecemasan massal, suara berbeda datang dari dua kutub penting: regulator pasar modal dan investor legendaris Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Rabu (4/2/2026), IHSG ditutup merosot tajam di bawah level 7.000. Penurunan ini dipicu oleh sentimen negatif global, termasuk kekhawatiran akan kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif dan tekanan jual masif dari investor asing.
Merespons gejolak pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) segera angkat bicara untuk menenangkan investor. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih sangat solid dan penurunan yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal yang bersifat temporer.
“Kami mengimbau para investor untuk tidak panik. Penurunan IHSG saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen global,” ujar Inarno dalam keterangan pers resminya, Kamis (5/2/2026). “Secara fundamental, kinerja emiten-emiten besar masih sangat baik, dan prospek ekonomi domestik kita kuat. Ini adalah ujian bagi kesabaran investor.”
Inarno menambahkan, OJK terus memantau pergerakan pasar secara saksama dan tidak akan ragu untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan jika teridentifikasi adanya praktik perdagangan yang tidak wajar.
Di tengah badai, investor kawakan yang dijuluki “Warren Buffett-nya Indonesia”, Lo Kheng Hong, justru menyuarakan pandangan yang berkebalikan dengan kepanikan pasar. Dikenal dengan filosofi value investing-nya, pria yang akrab disapa LKH ini melihat kejatuhan pasar sebagai sebuah peluang emas.
Dalam sebuah wawancara dengan CNBC Indonesia, Lo Kheng Hong dengan santai menyatakan bahwa inilah waktu terbaik untuk berbelanja saham bagus dengan harga diskon.
“Pasar saham yang sedang turun itu seperti mal yang sedang obral besar-besaran. Barang bagus, Mercy (Mercedes-Benz), dijual dengan harga Avanza. Kenapa harus takut? Justru ini waktunya untuk menyerok, untuk membeli,” kata LKH dengan analogi khasnya.
Menurutnya, investor yang cerdas tidak akan ikut-ikutan panik menjual rugi (cut loss). Sebaliknya, mereka akan menggunakan “uang dingin” untuk mengakumulasi saham-saham perusahaan dengan fundamental kuat (laba besar, utang kecil, valuasi murah) yang harganya sedang jatuh.
“Kunci menjadi kaya di pasar saham itu sederhana: beli bisnis bagus saat harganya murah, lalu sabar. Saat pasar panik, orang bijak justru beraksi,” tambahnya.
Pesan dari OJK dan Lo Kheng Hong menempatkan investor ritel di persimpangan jalan. Haruskah mereka mengikuti naluri untuk menyelamatkan sisa modal dengan menjual saham mereka? Ataukah mereka harus memberanikan diri mengikuti jejak sang maestro, mengencangkan ikat pinggang, dan mulai “menyerok” saham di harga diskon?
Satu hal yang pasti, gejolak pasar kali ini kembali menjadi pelajaran berharga, yakni di pasar modal, mental dan kesabaran seringkali sama pentingnya dengan kemampuan menganalisis.