Inversi Bagi Isma (38), kekhawatiran terhadap kebutuhan anak-anaknya, khususnya terkait makanan harian, pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tidak terpisahkan.
Sebagai seorang ibu tunggal yang harus menghidupi dua orang anak yang masih menempuh pendidikan, ia kerap dihantui oleh pertanyaan sederhana namun sangat penting: apakah anak-anaknya sudah makan dengan cukup hari ini?
Dalam kesehariannya sebagai pekerja serabutan, Isma harus membagi waktu dan tenaga antara mencari penghasilan dan memastikan kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi. Kondisi tersebut membuatnya sering berada dalam situasi yang penuh tekanan, terutama ketika jam makan anak-anaknya bertepatan dengan waktu ia sedang bekerja.
“Nanti makan siangnya bagaimana ya. Kadang kalau lagi kerja catering, saya sampai harus pulang dulu,” kenangnya menggambarkan situasi yang pernah ia alami.
Sebagai seorang ibu, terlebih dalam posisi sebagai orang tua tunggal, kecemasan tersebut bukanlah hal yang ringan. Tanggung jawab untuk memastikan anak-anaknya mendapatkan asupan makanan yang cukup setiap hari menjadi beban pikiran yang terus menyertai aktivitasnya.
Di tengah keterbatasan waktu dan penghasilan yang tidak menentu, Isma harus berjuang keras agar kebutuhan dasar keluarga tetap terpenuhi.
Namun, perubahan mulai dirasakan dalam kehidupan Isma ketika Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir di lingkungan sekolah anak-anaknya. Program ini memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan sehari-harinya, terutama dalam mengurangi beban pikiran terkait pemenuhan kebutuhan makan siang anak-anaknya.
Sejak adanya program tersebut, Isma mulai merasakan ketenangan yang sebelumnya sulit ia dapatkan. Ia tidak lagi harus terburu-buru pulang di tengah pekerjaan hanya untuk memastikan anak-anaknya makan siang. Hal ini memberikan ruang yang lebih luas baginya untuk bekerja dengan lebih tenang dan teratur.
“Sekarang jadi tenang, karena anak sudah dapat makan siang. Kadang pulang sekolah mereka sudah makan. Jadi merasa sangat terbantu,” ujarnya dengan nada lega.
Namun, perjalanan Isma bersama Program Makan Bergizi Gratis tidak berhenti hanya sebagai penerima manfaat. Seiring berjalannya waktu, ia justru mendapatkan kesempatan untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan program tersebut. Sejak bulan Desember tahun lalu, Isma bergabung sebagai relawan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dengan peran sebagai koordinator pemorsian makanan.
Peran ini memberikan pengalaman baru bagi Isma. Ia tidak lagi hanya melihat program dari sisi penerima manfaat, tetapi juga memahami secara langsung proses yang terjadi di balik penyediaan makanan bergizi bagi para siswa.
Mulai dari proses pengolahan, pengemasan, hingga distribusi makanan ke sekolah, semuanya menjadi bagian dari tanggung jawab yang ia jalani setiap hari.
Pengalaman tersebut membuat Isma memiliki pemahaman yang lebih luas mengenai pelaksanaan program MBG. Ia menjadi lebih percaya diri ketika harus berhadapan dengan berbagai pertanyaan atau keraguan dari masyarakat sekitar terkait program tersebut. Menurutnya, banyak informasi yang beredar di masyarakat tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Banyak yang bilang Rp15 ribu, padahal bukan begitu. Saya sering jelaskan ke ibu-ibu, ini sistemnya seperti ini,” tuturnya menjelaskan pengalamannya dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat.
Sebagai bagian dari pengalamannya di lapangan, Isma juga pernah mencoba menghitung secara mandiri nilai makanan yang diterima oleh anak-anak peserta program, khususnya pada hari Sabtu ketika menu yang disediakan berupa makanan kering.
Dari hasil pengamatannya, ia mendapati bahwa nilai makanan tersebut bahkan dapat mencapai angka yang cukup tinggi jika dihitung berdasarkan kualitas dan isi gizi yang disediakan.
“Saya pernah hitung, ternyata nilainya bisa sampai Rp14 ribu, bahkan lebih. Jadi sebenarnya kualitasnya itu memang dijaga,” ujarnya menegaskan.
Selain perubahan dari sisi ekonomi dan pemahaman program, Isma juga merasakan perubahan dalam aspek sosial di lingkungan kerjanya. Ia menemukan suasana kerja yang penuh kebersamaan, kekeluargaan, dan saling mendukung antar sesama relawan. Hal ini memberikan dampak positif terhadap semangat kerjanya sehari-hari.
Di lingkungan SPPG, ia tidak hanya bekerja sebagai individu, tetapi menjadi bagian dari sebuah tim yang solid. Kebersamaan tersebut membuat suasana kerja menjadi lebih ringan dan menyenangkan, meskipun aktivitas yang dijalani cukup padat dan membutuhkan ketelitian tinggi.
“Jadi punya teman baru. Kadang setelah pulang kerja, kita masih kumpul, masak bareng. Seru, jadi lebih terasa kekeluargaannya,” ujarnya sambil tersenyum menggambarkan suasana kebersamaan di tempat kerja.
Bagi Isma, Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar program bantuan sosial, melainkan sebuah jembatan kehidupan yang menghubungkan dua peran penting dalam dirinya.
Di satu sisi, ia adalah seorang ibu yang berjuang memastikan anak-anaknya mendapatkan makanan yang layak dan bergizi. Di sisi lain, ia juga menjadi bagian dari sistem yang turut memastikan bahwa anak-anak lain di berbagai tempat mendapatkan hal yang sama.
Perubahan ini memberikan makna yang lebih dalam bagi perjalanan hidupnya. Dari sosok yang dahulu sering diliputi kecemasan dan ketidakpastian, kini Isma mulai berdiri dengan lebih tenang dan percaya diri.
Ia tidak lagi hanya memikirkan apakah anak-anaknya sudah makan, tetapi juga turut berkontribusi dalam memastikan bahwa banyak anak lainnya tidak mengalami kekhawatiran yang sama.
Dengan pengalaman yang ia miliki saat ini, Isma merasakan adanya perubahan besar dalam hidupnya, baik secara ekonomi, sosial, maupun psikologis. Program MBG telah memberinya lebih dari sekadar bantuan makanan; program ini telah membuka kesempatan baru, membangun rasa percaya diri, serta memberikan harapan yang lebih besar untuk masa depan dirinya dan anak-anaknya.
Kini, Isma menjalani hari-harinya dengan perasaan yang lebih tenang dan penuh harapan. Ia tidak lagi berdiri hanya sebagai penerima, tetapi juga sebagai bagian penting dari sebuah sistem yang berupaya menghadirkan perubahan positif bagi banyak keluarga lainnya di Indonesia.