Inversi Di salah satu sudut Desa Lewi Malang, Kabupaten Bogor, kehidupan seorang perempuan bernama Isma (38) pernah berada dalam kondisi yang penuh ketidakpastian.
Sebagai seorang ibu tunggal yang harus membesarkan dua orang anak satu di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan satu di sekolah dasar Isma menjalani kehidupan yang tidak mudah. Ia selama ini menggantungkan penghidupan pada pekerjaan serabutan tanpa penghasilan tetap, sehingga tidak memiliki kepastian ekonomi dari hari ke hari.
Dalam kesehariannya, Isma kerap bekerja secara tidak menentu. Ia mengaku bahwa pekerjaan yang ia jalani sebelumnya sering kali datang secara tiba-tiba, tanpa jadwal yang jelas. Kondisi tersebut membuatnya sulit untuk merencanakan kebutuhan hidup jangka panjang, termasuk biaya pendidikan anak-anaknya.
“Sebelumnya kerja tuh kadang ada, kadang nggak. Kayak part time ada teman yang ngajakin, yuk ikut catering, seperti itu,” kenangnya dengan nada pelan, menggambarkan ketidakstabilan pekerjaan yang pernah ia alami.
Dalam situasi tersebut, beban hidup yang harus ia tanggung semakin berat. Kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan anak, hingga kebutuhan dasar rumah tangga menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.
Tidak jarang, untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak, Isma harus meminjam uang kepada kerabat terdekatnya. Hal tersebut menjadi bagian dari perjuangan hidupnya sebagai seorang ibu tunggal yang berusaha bertahan di tengah keterbatasan.
Namun, perubahan mulai hadir dalam kehidupan Isma ketika ia bergabung sebagai relawan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jogjogan 2.
Program ini menjadi titik awal perubahan signifikan dalam kehidupannya, terutama dalam aspek ekonomi dan sosial. Sejak SPPG mulai beroperasi pada akhir tahun lalu, Isma merasakan adanya kepastian penghasilan yang sebelumnya tidak pernah ia miliki.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, ia dapat merasakan stabilitas ekonomi meskipun dalam skala sederhana. Penghasilan yang ia peroleh sebagai relawan sekaligus koordinator pemorsian sebesar Rp150 ribu per hari menjadi sumber pendapatan yang sangat berarti baginya.
“Alhamdulillah, tidak seperti dulu yang kadang sering pinjam ke saudara. Sekarang sudah tidak pinjam-pinjam lagi. Alhamdulillah cukup untuk makan, untuk anak sekolah, dua-duanya,” ujarnya dengan wajah penuh syukur dan senyum lega.
Bagi Isma, angka tersebut mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan pekerjaan formal lainnya. Namun, bagi dirinya, penghasilan tersebut memberikan makna yang jauh lebih besar, yaitu kepastian dan rasa aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kepastian ini menjadi fondasi penting dalam membangun kembali harapan hidupnya bersama kedua anaknya.
Lebih dari sekadar perubahan ekonomi, keterlibatan Isma dalam program MBG juga membawa perubahan dalam aspek sosial dan psikologis dirinya.
Ia mulai merasakan adanya lingkungan kerja yang lebih terstruktur, terorganisir, dan penuh dengan nilai kebersamaan. Dalam lingkungan kerja di SPPG, ia tidak lagi bekerja secara individual, melainkan menjadi bagian dari sebuah tim yang saling mendukung satu sama lain.
Menurutnya, pengalaman bekerja dalam tim memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kerja sama dan tanggung jawab kolektif. Ia menyadari bahwa dalam sistem kerja tersebut, setiap individu memiliki peran yang saling berkaitan satu sama lain.
“Awalnya saya kerja sendiri, tapi di sini kita satu tim, jadi harus kompak. Satu salah, salah semua. Satu benar, benar semua,” ungkapnya menjelaskan nilai kebersamaan yang ia rasakan.
Semangat gotong royong yang terbangun dalam lingkungan kerja tersebut membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih ringan dan bermakna. Isma tidak hanya bekerja untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga menjadi bagian dari sebuah sistem kerja yang memberikan rasa memiliki dan kebersamaan.
Hal ini menjadi pengalaman baru yang sebelumnya tidak ia rasakan dalam pekerjaan-pekerjaan serabutan yang pernah ia jalani. Selain itu, keberadaan program Makan Bergizi Gratis juga memberikan dampak tidak langsung terhadap kehidupannya sebagai orang tua.
Dengan adanya pekerjaan yang memberikan penghasilan tetap, meskipun sederhana, Isma dapat lebih fokus dalam memenuhi kebutuhan pendidikan dan gizi anak-anaknya. Ia tidak lagi terlalu dibebani oleh ketidakpastian ekonomi harian yang selama ini menghantui kehidupannya.
Perubahan ini secara perlahan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Jika sebelumnya ia sering merasa sendiri dalam menghadapi beban hidup, kini ia mulai merasakan adanya dukungan dari lingkungan kerja yang memberikan ruang untuk berkembang dan bertahan.
Bagi Isma, pekerjaan ini bukan hanya sekadar sumber penghasilan, tetapi juga menjadi titik balik penting dalam perjalanan hidupnya. Ia merasakan adanya transformasi dari kehidupan yang penuh ketidakpastian menuju kehidupan yang lebih terarah, stabil, dan memiliki harapan yang lebih jelas di masa depan.
Perubahan ini juga memberikan dampak positif bagi kedua anaknya. Dengan kondisi ekonomi yang lebih stabil, Isma dapat lebih tenang dalam memastikan pendidikan anak-anaknya tetap berjalan dengan baik. Ia berharap bahwa perubahan yang ia alami saat ini dapat menjadi langkah awal untuk masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.
Kisah Isma menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana program Makan Bergizi Gratis melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi tidak hanya berdampak pada aspek pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Program ini tidak hanya menyentuh aspek kesehatan, tetapi juga membuka peluang kerja, membangun kebersamaan, serta memberikan harapan baru bagi masyarakat yang terlibat di dalamnya.
Dengan perubahan yang ia alami, Isma kini menjalani kehidupannya dengan lebih optimis. Ia tidak lagi hanya berfokus pada kesulitan yang dihadapi, tetapi juga pada peluang dan harapan yang dapat ia bangun bersama anak-anaknya. Setiap hari yang ia jalani kini menjadi bagian dari perjalanan baru menuju kehidupan yang lebih baik, lebih stabil, dan lebih bermakna.