INVERSI.ID – Aktor dan aktris papan atas Indonesia, Ringgo Agus Rahman dan Dian Sastrowardoyo, dikenal sebagai representasi generasi muda era 2000-an yang lekat dengan citra gaul, ekspresif, dan relevan dengan zamannya. Namun seiring berjalannya waktu, keduanya kini berada pada fase kehidupan yang berbeda. Dari ikon anak muda, mereka bertransformasi menjadi orang tua yang harus menghadapi tantangan baru, termasuk memahami bahasa gaul generasi terkini yang berkembang sangat cepat di era digital.
Perubahan tersebut diungkapkan Dian dan Ringgo dalam konferensi pers peluncuran poster dan cuplikan film Esok Tanpa Ibu atau Mothernet yang digelar di kawasan Senayan, Jakarta, Senin. Dalam kesempatan itu, keduanya secara terbuka berbagi pengalaman tentang kesenjangan bahasa antar generasi yang kini mereka rasakan secara langsung di lingkungan keluarga.
Dian dan Ringgo menilai bahwa bahasa gaul yang berkembang di kalangan anak muda saat ini jauh berbeda dibandingkan era mereka tumbuh dan berkarya. Salah satu istilah yang menjadi sorotan adalah “67” atau six-seven, istilah yang populer pada 2025 dan kerap digunakan generasi muda dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial.
Dian Sastrowardoyo Akui Merasa Canggung dengan Bahasa Gaul Baru
Dian Sastrowardoyo mengaku perlu usaha ekstra untuk memahami istilah-istilah gaul terbaru yang digunakan generasi muda. Meskipun pernah berada di posisi sebagai ikon anak muda pada masanya, ia merasa bahasa gaul saat ini terasa asing dan membutuhkan penyesuaian.
“Gue kepingin kayak ngerti, gitu kan, kayak paham banget gitu. Gue googling artinya 67. Cringe banget ya,” kata Dian.
Menurut Dian, kesenjangan bahasa tersebut sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika berada di rumah bersama keluarga. Momen makan bersama yang seharusnya menjadi ruang komunikasi lintas generasi justru menjadi pengingat bahwa dirinya dan sang suami tidak lagi berada dalam kategori “anak muda gaul” seperti dulu.
Pemeran Laras dalam film Esok Tanpa Ibu itu menuturkan, bahasa gaul generasi saat ini kerap terdengar tidak relevan ketika ia coba ucapkan. Bahkan, istilah-istilah tersebut dinilai terdengar kurang pas dan terasa “jayus” atau canggung ketika sampai ke telinga anak-anaknya.
“‘Bunda no, no stop. That’s not my mouth. Enggak ya, enggak boleh ya,’ saya (khawatir) digituin,” tutur Dian.
Ia mengakui bahwa situasi tersebut membuatnya menyadari adanya perubahan peran. Dari sosok yang dulu menjadi acuan gaya dan bahasa anak muda, kini ia berada di posisi yang harus belajar dan menyesuaikan diri agar tetap dapat berkomunikasi dengan anak-anaknya tanpa kehilangan wibawa sebagai orang tua.
Bagi Dian, tantangan memahami bahasa gaul bukan sekadar soal mengikuti tren, tetapi juga tentang menjaga kedekatan emosional dengan anak. Ia menyadari bahwa bahasa merupakan pintu utama komunikasi, dan kesenjangan bahasa dapat berujung pada jarak emosional jika tidak disikapi dengan bijak.
Ringgo Agus Rahman Belajar dari Pengalaman Orang Tua Lain
Sementara itu, Ringgo Agus Rahman memandang fenomena munculnya istilah-istilah baru sebagai sesuatu yang tidak terelakkan. Sebagai seseorang yang pernah menjadi simbol anak muda gaul pada masanya, Ringgo menyadari bahwa setiap generasi memiliki bahasa dan cara berekspresi sendiri.
Ringgo yang memerankan karakter Hendi dalam film Esok Tanpa Ibu menilai bahwa perubahan bahasa merupakan bagian alami dari perkembangan zaman. Namun demikian, ia juga menekankan pentingnya kesiapan orang tua untuk mengantisipasi perubahan tersebut, terutama dalam konteks komunikasi dengan anak.
“Sekarang anakku masih berusia sembilan tahun, jadi perlu pengalaman orang tua lain sebagai pembelajaran,” kata Ringgo.
Menurut Ringgo, fase tumbuh kembang anak akan selalu diiringi tantangan komunikasi yang berbeda. Oleh karena itu, ia memilih untuk banyak mendengar dan belajar dari cerita orang tua lain yang telah lebih dulu menghadapi dinamika tersebut.
Bagi Ringgo, membicarakan anak kini menjadi topik yang paling menarik dan penting ketika ia berada di luar rumah. Ia mengaku bahwa obrolan seputar anak bahkan melampaui topik-topik lain yang dulu sering menjadi bahan diskusi, termasuk hobi dan pekerjaan.
Kesadaran itu mendorong Ringgo untuk aktif mengumpulkan informasi, baik terkait pendidikan, perkembangan psikologis anak, hingga tantangan komunikasi di masa depan. Ia bahkan mengaku sudah mulai memikirkan skenario jangka panjang, termasuk saat anaknya kelak memasuki usia kuliah dan harus berhadapan dengan dunia yang semakin kompleks.
Menurut Ringgo, kesiapan orang tua tidak bisa dibangun secara instan. Proses belajar harus dimulai sejak dini agar orang tua tidak gagap menghadapi perubahan yang terjadi dengan sangat cepat, terutama di era digital.
Film Esok Tanpa Ibu dan Refleksi Keluarga di Era Digital
Baik Dian maupun Ringgo sepakat bahwa peran sebagai orang tua menuntut kesiapan mental dan emosional yang berbeda dibandingkan masa muda mereka. Terlepas dari seberapa “gaul” mereka di masa lalu, keduanya menyadari bahwa status sebagai orang tua menuntut kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi.
Kesadaran tersebut sejalan dengan tema yang diangkat dalam film Esok Tanpa Ibu. Film ini mengangkat isu sentral mengenai komunikasi dalam keluarga serta pengaruh teknologi terhadap relasi antaranggota keluarga. Cerita yang dihadirkan merefleksikan realitas masyarakat modern, di mana perkembangan teknologi dan budaya digital kerap menciptakan jarak komunikasi, bahkan di lingkungan keluarga terdekat.
Melalui film tersebut, Dian dan Ringgo tidak hanya berperan sebagai aktor, tetapi juga sebagai individu yang mengalami langsung dinamika yang diangkat dalam cerita. Keduanya menilai film ini relevan dengan kondisi keluarga masa kini, di mana orang tua dituntut untuk lebih peka terhadap perubahan cara berkomunikasi anak-anaknya.
Film Esok Tanpa Ibu dijadwalkan tayang perdana di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026. Dengan latar cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, film ini diharapkan dapat menjadi ruang refleksi bagi orang tua dan anak dalam membangun komunikasi yang sehat di tengah arus perubahan zaman.
Dian dan Ringgo berharap, melalui film ini, masyarakat dapat melihat pentingnya peran komunikasi dalam keluarga, sekaligus menyadari bahwa kesenjangan generasi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dihadapi dengan keterbukaan dan kesiapan untuk belajar.
Sebagai figur publik yang tumbuh bersama generasi 2000-an, Dian Sastrowardoyo dan Ringgo Agus Rahman kini berada di persimpangan peran. Dari ikon anak muda menjadi orang tua yang terus belajar, keduanya menunjukkan bahwa relevansi tidak selalu berarti mengikuti tren, melainkan memahami perubahan dan tetap hadir bagi keluarga di setiap fase kehidupan.