By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Istilah ’67’ Bikin Dian Sastro dan Ringgo Sadar Kesenjangan Generasi
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Istilah ’67’ Bikin Dian Sastro dan Ringgo Sadar Kesenjangan Generasi

Hiburan

Istilah ’67’ Bikin Dian Sastro dan Ringgo Sadar Kesenjangan Generasi

Jack
By
Jack
6 months ago
Share
7 Min Read
Dian Sastrowardoyo. (Foto: Antara)
SHARE

INVERSI.ID – Aktor dan aktris papan atas Indonesia, Ringgo Agus Rahman dan Dian Sastrowardoyo, dikenal sebagai representasi generasi muda era 2000-an yang lekat dengan citra gaul, ekspresif, dan relevan dengan zamannya. Namun seiring berjalannya waktu, keduanya kini berada pada fase kehidupan yang berbeda. Dari ikon anak muda, mereka bertransformasi menjadi orang tua yang harus menghadapi tantangan baru, termasuk memahami bahasa gaul generasi terkini yang berkembang sangat cepat di era digital.

Contents
Dian Sastrowardoyo Akui Merasa Canggung dengan Bahasa Gaul BaruRinggo Agus Rahman Belajar dari Pengalaman Orang Tua LainFilm Esok Tanpa Ibu dan Refleksi Keluarga di Era Digital

Perubahan tersebut diungkapkan Dian dan Ringgo dalam konferensi pers peluncuran poster dan cuplikan film Esok Tanpa Ibu atau Mothernet yang digelar di kawasan Senayan, Jakarta, Senin. Dalam kesempatan itu, keduanya secara terbuka berbagi pengalaman tentang kesenjangan bahasa antar generasi yang kini mereka rasakan secara langsung di lingkungan keluarga.

Dian dan Ringgo menilai bahwa bahasa gaul yang berkembang di kalangan anak muda saat ini jauh berbeda dibandingkan era mereka tumbuh dan berkarya. Salah satu istilah yang menjadi sorotan adalah “67” atau six-seven, istilah yang populer pada 2025 dan kerap digunakan generasi muda dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial.

Dian Sastrowardoyo Akui Merasa Canggung dengan Bahasa Gaul Baru

Dian Sastrowardoyo mengaku perlu usaha ekstra untuk memahami istilah-istilah gaul terbaru yang digunakan generasi muda. Meskipun pernah berada di posisi sebagai ikon anak muda pada masanya, ia merasa bahasa gaul saat ini terasa asing dan membutuhkan penyesuaian.

“Gue kepingin kayak ngerti, gitu kan, kayak paham banget gitu. Gue googling artinya 67. Cringe banget ya,” kata Dian.

Menurut Dian, kesenjangan bahasa tersebut sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika berada di rumah bersama keluarga. Momen makan bersama yang seharusnya menjadi ruang komunikasi lintas generasi justru menjadi pengingat bahwa dirinya dan sang suami tidak lagi berada dalam kategori “anak muda gaul” seperti dulu.

Pemeran Laras dalam film Esok Tanpa Ibu itu menuturkan, bahasa gaul generasi saat ini kerap terdengar tidak relevan ketika ia coba ucapkan. Bahkan, istilah-istilah tersebut dinilai terdengar kurang pas dan terasa “jayus” atau canggung ketika sampai ke telinga anak-anaknya.

“‘Bunda no, no stop. That’s not my mouth. Enggak ya, enggak boleh ya,’ saya (khawatir) digituin,” tutur Dian.

Ia mengakui bahwa situasi tersebut membuatnya menyadari adanya perubahan peran. Dari sosok yang dulu menjadi acuan gaya dan bahasa anak muda, kini ia berada di posisi yang harus belajar dan menyesuaikan diri agar tetap dapat berkomunikasi dengan anak-anaknya tanpa kehilangan wibawa sebagai orang tua.

Baca Juga :

Ucapan Selamat Tahun Baru dari Perusahaan dalam Bahasa Inggris
BTS POP-UP: MONOCHROME Memikat Hati ARMY di Jakarta, Merchandise Paling Laku Terjual Habis dalam Waktu Singkat

Bagi Dian, tantangan memahami bahasa gaul bukan sekadar soal mengikuti tren, tetapi juga tentang menjaga kedekatan emosional dengan anak. Ia menyadari bahwa bahasa merupakan pintu utama komunikasi, dan kesenjangan bahasa dapat berujung pada jarak emosional jika tidak disikapi dengan bijak.

Ringgo Agus Rahman Belajar dari Pengalaman Orang Tua Lain

Sementara itu, Ringgo Agus Rahman memandang fenomena munculnya istilah-istilah baru sebagai sesuatu yang tidak terelakkan. Sebagai seseorang yang pernah menjadi simbol anak muda gaul pada masanya, Ringgo menyadari bahwa setiap generasi memiliki bahasa dan cara berekspresi sendiri.

Ringgo yang memerankan karakter Hendi dalam film Esok Tanpa Ibu menilai bahwa perubahan bahasa merupakan bagian alami dari perkembangan zaman. Namun demikian, ia juga menekankan pentingnya kesiapan orang tua untuk mengantisipasi perubahan tersebut, terutama dalam konteks komunikasi dengan anak.

“Sekarang anakku masih berusia sembilan tahun, jadi perlu pengalaman orang tua lain sebagai pembelajaran,” kata Ringgo.

Menurut Ringgo, fase tumbuh kembang anak akan selalu diiringi tantangan komunikasi yang berbeda. Oleh karena itu, ia memilih untuk banyak mendengar dan belajar dari cerita orang tua lain yang telah lebih dulu menghadapi dinamika tersebut.

Bagi Ringgo, membicarakan anak kini menjadi topik yang paling menarik dan penting ketika ia berada di luar rumah. Ia mengaku bahwa obrolan seputar anak bahkan melampaui topik-topik lain yang dulu sering menjadi bahan diskusi, termasuk hobi dan pekerjaan.

Kesadaran itu mendorong Ringgo untuk aktif mengumpulkan informasi, baik terkait pendidikan, perkembangan psikologis anak, hingga tantangan komunikasi di masa depan. Ia bahkan mengaku sudah mulai memikirkan skenario jangka panjang, termasuk saat anaknya kelak memasuki usia kuliah dan harus berhadapan dengan dunia yang semakin kompleks.

Menurut Ringgo, kesiapan orang tua tidak bisa dibangun secara instan. Proses belajar harus dimulai sejak dini agar orang tua tidak gagap menghadapi perubahan yang terjadi dengan sangat cepat, terutama di era digital.

Film Esok Tanpa Ibu dan Refleksi Keluarga di Era Digital

Baik Dian maupun Ringgo sepakat bahwa peran sebagai orang tua menuntut kesiapan mental dan emosional yang berbeda dibandingkan masa muda mereka. Terlepas dari seberapa “gaul” mereka di masa lalu, keduanya menyadari bahwa status sebagai orang tua menuntut kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi.

Kesadaran tersebut sejalan dengan tema yang diangkat dalam film Esok Tanpa Ibu. Film ini mengangkat isu sentral mengenai komunikasi dalam keluarga serta pengaruh teknologi terhadap relasi antaranggota keluarga. Cerita yang dihadirkan merefleksikan realitas masyarakat modern, di mana perkembangan teknologi dan budaya digital kerap menciptakan jarak komunikasi, bahkan di lingkungan keluarga terdekat.

Melalui film tersebut, Dian dan Ringgo tidak hanya berperan sebagai aktor, tetapi juga sebagai individu yang mengalami langsung dinamika yang diangkat dalam cerita. Keduanya menilai film ini relevan dengan kondisi keluarga masa kini, di mana orang tua dituntut untuk lebih peka terhadap perubahan cara berkomunikasi anak-anaknya.

Film Esok Tanpa Ibu dijadwalkan tayang perdana di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026. Dengan latar cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, film ini diharapkan dapat menjadi ruang refleksi bagi orang tua dan anak dalam membangun komunikasi yang sehat di tengah arus perubahan zaman.

Dian dan Ringgo berharap, melalui film ini, masyarakat dapat melihat pentingnya peran komunikasi dalam keluarga, sekaligus menyadari bahwa kesenjangan generasi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dihadapi dengan keterbukaan dan kesiapan untuk belajar.

Sebagai figur publik yang tumbuh bersama generasi 2000-an, Dian Sastrowardoyo dan Ringgo Agus Rahman kini berada di persimpangan peran. Dari ikon anak muda menjadi orang tua yang terus belajar, keduanya menunjukkan bahwa relevansi tidak selalu berarti mengikuti tren, melainkan memahami perubahan dan tetap hadir bagi keluarga di setiap fase kehidupan.

You Might Also Like

Endah Widiastuti Soroti Pentingnya Proteksi Hak Cipta untuk Musisi Indonesia
Prilly Latuconsina Siapkan Program Baru FFI 2026 untuk Cetak Sineas Masa Depan
Film Tanah Runtuh Siap Tayang, Sajikan Perjuangan Bertahan Hidup di Tengah Konflik Poso
Ario Bayu Ungkap Alasan Morgan Oey dan Nirina Zubir Dipilih Jadi Duta FFI 2026
Tak Mau Ketinggalan Gen Z, Inul Daratista Siap Beradaptasi dengan Perkembangan Musik
TAGGED:dian sastroRinggo Agus Rahman
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Cerita Ringgo Agus Rahman Soal Kekhawatiran Orang Tua Melepas Anak Kuliah
Next Article Konser Amal 100 Musisi Heal Sumatera Himpun Rp17,1 Miliar untuk Korban Bencana
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Film

Jakarta Gandeng Netflix, Siap Wujudkan Ambisi Jadi Kota Sinema Asia Tenggara

5 days ago
Film

Gandeng Bayu Skak, Sinemart Garap Animasi Unik Berlatar Madura

5 days ago
Musik

Quinn Salman Nyanyikan Soundtrack Garuda Di Dadaku, Lagu Bersama Sang Garuda Penuh Semangat

6 days ago
Musik

Nuansa Retro dan Lirik Menyentuh, Ruth Sahanaya Perkenalkan Single Pelangi

6 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index