INVERSI.ID – Aktor Ringgo Agus Rahman berbagi pandangannya sebagai seorang ayah terkait masa depan pendidikan anak. Di tengah kesibukannya di dunia perfilman, Ringgo mengaku akan merasa jauh lebih tenang apabila putranya, Bjorka Dieter Morscheck, kelak memilih tempat kuliah yang tidak jauh dari rumah.
Pandangan tersebut disampaikan Ringgo saat menghadiri konferensi pers peluncuran poster dan cuplikan film terbarunya berjudul Esok Tanpa Ibu di kawasan Senayan, Jakarta, Senin. Dalam kesempatan itu, Ringgo berbicara dengan jujur mengenai perasaan orang tua yang mulai memikirkan masa depan anak, meski usia sang buah hati masih terbilang sangat muda.
“Kalau milih dekat, oh oke lah, aman deh, tetap tinggal di rumah. Kalau misalnya dia mau di Bandung, waduh, dekat sih tapi itu tuh udah kepikiran,” kata Ringgo saat konferensi pers tersebut.
Bagi Ringgo, jarak antara rumah dan tempat kuliah bukan sekadar persoalan geografis. Ia menilai, keputusan anak untuk menempuh pendidikan jauh dari orang tua akan membawa perubahan besar dalam dinamika keluarga. Kekhawatiran itu bukan hanya soal jarak, tetapi juga tentang kesiapan emosional untuk melepas anak tumbuh mandiri.
Refleksi Orang Tua di Tengah Cerita Teman
Ringgo mengungkapkan bahwa kegelisahan tersebut muncul salah satunya dari cerita orang-orang terdekatnya. Ia kerap mendengar pengalaman teman-teman yang mulai merasakan fase perpisahan dengan anak mereka yang beranjak dewasa dan memilih kuliah di luar kota.
“Ada teman saya yang anaknya udah mulai kuliah, dia mau ditinggalin jauh sama anaknya, udah mulai sedih-sedih. Aduh, siapa tau nanti anak saya juga milih kuliah di luar kota, gimana ya?” kata Ringgo.
Cerita-cerita tersebut membuat Ringgo semakin menyadari bahwa fase melepas anak adalah proses emosional yang hampir pasti dialami setiap orang tua. Meski belum berada di tahap itu, ia mengaku sudah mulai membayangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Sebagai orang tua, Ringgo memahami bahwa anak memiliki hak penuh untuk menentukan pilihan hidupnya, termasuk soal pendidikan. Namun, di sisi lain, ia juga tak menampik adanya perasaan khawatir dan rasa kehilangan yang mungkin muncul ketika anak harus tinggal jauh dari rumah.
Ringgo menilai, perasaan tersebut adalah hal yang wajar. Ia melihat banyak orang tua mengalami dilema serupa, antara keinginan untuk melindungi anak dan kewajiban untuk memberi ruang bagi anak tumbuh mandiri.
Tetap Relevan dengan Pilihan Anak
Di tengah segala kekhawatiran itu, Ringgo menegaskan bahwa dirinya ingin tetap menjadi orang tua yang relevan dan hadir bagi anaknya, apa pun pilihan yang kelak diambil. Baginya, peran orang tua bukan untuk memaksakan kehendak, melainkan mendampingi dan memahami keputusan anak.
“Sama seperti sebagian besar orang tua pada umumnya, Ringgo mengaku ingin bisa selalu relevan dengan apapun pilihan sang anak,” demikian pandangannya yang ia sampaikan dalam kesempatan tersebut.
“Karena sejujurnya memang paling menarik buat kami yang sudah berkeluarga, ya apapun semuanya soal anak,” kata Ringgo.
Menurut Ringgo, fokus orang tua akan perlahan bergeser seiring bertambahnya usia dan tanggung jawab keluarga. Hal-hal yang dulu menjadi topik obrolan utama, kini perlahan tergantikan oleh cerita seputar anak, pendidikan, dan masa depan keluarga.
Ia bahkan menggambarkan perubahan itu melalui kebiasaan ngobrol dengan teman-temannya. Topik yang dulu penuh semangat, kini terasa berbeda ketika dibandingkan dengan pembahasan seputar anak.
“Kalau mau ngomongin bola aja, kayaknya sekarang udah kalah seru dibanding ngomongin anak. Walaupun tim kegemaran saya sama tim kegemaran teman saya itu sama. Apalagi lagi kalah melulu, mestinya seru, tapi meskipun gitu, kita bicarakan sekenanya, ‘tim kita gimana? Nah, ya gitu lah’, udah segitu aja. Tapi kalau ngomongin anak tuh bisa berapi-api gitu,” kata Ringgo.
Pernyataan tersebut mencerminkan bagaimana peran sebagai orang tua membawa perubahan besar dalam sudut pandang seseorang. Bagi Ringgo, anak menjadi pusat perhatian dan sumber cerita yang tak pernah habis untuk dibicarakan.
Belajar dari Pengalaman Orang Tua Lain
Ringgo juga mengaku merasa beruntung karena bisa mempersiapkan diri lebih awal dengan belajar dari pengalaman orang tua lain. Mendengar cerita suka dan duka dari teman-temannya membuat ia merasa lebih siap secara mental menghadapi fase-fase kehidupan keluarga yang akan datang.
Ia menilai, berbagi cerita antarorang tua menjadi salah satu cara untuk saling menguatkan. Dari pengalaman tersebut, Ringgo bisa melihat bahwa setiap fase tumbuh kembang anak memiliki tantangan tersendiri, termasuk ketika anak mulai mandiri dan menentukan masa depannya sendiri.
Dalam pandangan Ringgo, kesiapan mental orang tua sama pentingnya dengan kesiapan anak. Ia menyadari bahwa melepas anak untuk melangkah lebih jauh bukan berarti kehilangan, melainkan bagian dari proses mendukung anak menjadi pribadi yang mandiri.
Sebagai figur publik, Ringgo kerap dikenal dengan gaya santai dan humoris. Namun dalam isu keluarga dan anak, ia menunjukkan sisi reflektif dan penuh perenungan. Baginya, menjadi orang tua bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga tentang kesiapan emosional dan kemampuan untuk terus belajar.
Melalui ceritanya, Ringgo berharap para orang tua dapat saling memahami dan tidak merasa sendirian dalam menghadapi berbagai kekhawatiran. Ia menilai bahwa perasaan cemas, sedih, dan takut kehilangan adalah hal yang manusiawi dan justru menunjukkan besarnya rasa cinta kepada anak.
Di tengah kesibukan kariernya di industri film, Ringgo menegaskan bahwa keluarga tetap menjadi prioritas utama. Apa pun pencapaian profesional yang diraih, baginya kebahagiaan keluarga, terutama anak, adalah hal yang paling bernilai.