By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Jaga Kesehatan Ekosistem Energi: Penyesuaian BBM Non-Subsidi Jadi Konsekuensi Logis Pasar Dunia!
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Jaga Kesehatan Ekosistem Energi: Penyesuaian BBM Non-Subsidi Jadi Konsekuensi Logis Pasar Dunia!

EkonomiTerkini

Jaga Kesehatan Ekosistem Energi: Penyesuaian BBM Non-Subsidi Jadi Konsekuensi Logis Pasar Dunia!

Dede isharuddin
By
Dede isharuddin
2 months ago
Share
3 Min Read
(Ilustrasi) BPH Migas menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah tidak pernah mengeluarkan regulasi maupun pengumuman resmi yang melarang mobil 1400 CC ke atas membeli Pertalite. (Foto, Dok/Pertamina Niaga)
SHARE

JAKARTA — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi kembali memicu perbincangan publik. Namun di balik polemik tersebut, ada satu realitas yang kerap luput dipahami, penyesuaian harga BBM non-subsidi merupakan konsekuensi logis dari dinamika pasar energi global.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga BBM non-subsidi memang mengikuti mekanisme pasar. Artinya, fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang tidak bisa dihindari dalam penentuan harga produk seperti Pertamax Turbo atau Dex Series.

“Pemerintah kembali menegaskan pengaturan harga hanya diberlakukan pada BBM bersubsidi, sementara BBM untuk kebutuhan industri dan kalangan mampu menyesuaikan harga pasar,” tegas Bahlil Sabtu (18/4/2026) usai menjadi narasumber pada Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah di Akmil di Magelang.

Pernyataan tersebut memperjelas adanya pemisahan tegas antara dua ekosistem energi. BBM subsidi sebagai instrumen perlindungan social, dan BBM non-subsidi sebagai komoditas komersial.

Di banyak negara, pola ini merupakan praktik umum. Produk BBM berkualitas tinggi seperti Pertamax Turbo atau Dex Series memang ditujukan bagi segmen masyarakat mampu, sehingga harganya secara alami mengikuti pergerakan pasar global.

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi merespons penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi per 18 April 2026. Menurutnya, keputusan pemerintah sudah tepat.

“Saya kira sudah tepat. Bahkan ini menjadi koreksi dari kebijakan sebelumnya yang tidak menaikkan harga BBM nonsubsidi. Selama ini harga BBM nonsubsidi, khususnya RON 92 ke atas, memang ditentukan oleh mekanisme pasar sesuai dengan kondisi ekonomi,” kata Fahmy dalam keterangan yang dikirim ke redaksi inversi.id, Minggu, 19 April 2026.

Lebih jauh, memaksakan harga tetap rendah di tengah gejolak energi global justru bisa berdampak serius. Distribusi energi bisa terganggu, stok terancam, hingga operasional penyedia energi menjadi tidak berkelanjutan.

Di sinilah pentingnya kedewasaan ekonomi publik dalam memahami ekosistem energi. Subsidi negara harus tetap difokuskan untuk masyarakat yang benar-benar membutuhkan, bukan untuk seluruh lapisan tanpa seleksi.

Baca Juga :

8 Dapur MBG di Kabupaten Buol Kembali Beroperasi
Mengenal HarmonyOS dari Huawei, Bikin iOS dan Android Kalang Kabut

Jika BBM non-subsidi ikut “ditahan” secara tidak realistis, maka beban fiskal negara bisa membengkak dan justru menggerus kemampuan pemerintah dalam melindungi kelompok rentan.

Dengan kata lain, menjaga harga BBM non-subsidi tetap rasional bukan sekadar soal bisnis, melainkan bagian dari strategi besar menjaga kesehatan ekonomi nasional.

Kini, tantangannya bukan lagi sekadar menerima atau menolak kenaikan harga, tetapi memahami peran masing-masing dalam ekosistem energi—agar keberlanjutan pasokan tetap terjaga dan subsidi negara tetap tepat sasaran.

You Might Also Like

Inggris Mandek! Tembok Ghana Bongkar PR Besar Three Lions di Piala Dunia 2026
Ronaldo Bangkit! Portugal Dapat Sinyal Kuat Menuju Gelar Dunia
Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
TAGGED:Bahlil LahadaliaBBM Non SubsidiKenaikan BBM
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article RUU Perampasan Aset Didorong Lebih Komprehensif dan Berkeadilan
Next Article Aptrindo Pastikan Angkutan Logistik Aman dengan Dukungan Solar Subsidi
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat

22 hours ago
Pildun 2026Terkini

Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur

23 hours ago
Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

23 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index