INVERSI.ID – Dampak Jajanan Viral yang tengah populer di kalangan anak muda ternyata tidak hanya sebatas tren makanan, tetapi juga menyimpan risiko besar bagi kesehatan. Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Anti Penuaan, Wellness, Estetik & Regeneratif Indonesia (PERDAWERI), dr. Maya Surjadjaja, mengingatkan bahwa konsumsi berlebihan makanan cepat saji dan jajanan kekinian bisa mempercepat penurunan kualitas kesehatan.
Lebih jauh, Dampak Jajanan Viral bukan sekadar memicu masalah pencernaan atau kenaikan berat badan. Menurut dr. Maya, makanan tinggi gula dan gorengan yang kaya senyawa advanced glycation end products (AGEs) dapat mempercepat penuaan kulit. Senyawa ini merusak kolagen sehingga kulit tampak kusam, kering, dan lebih cepat berkeriput.
Fenomena Dampak Jajanan Viral juga berkaitan erat dengan kesehatan usus. Konsep “gut, brain, skin axis” menjelaskan adanya keterhubungan antara usus, otak, dan kulit. Artinya, pola makan seseorang berpengaruh besar terhadap kesejahteraan fisik maupun mental. Tidak heran jika konsumsi jajanan viral berlebihan berpotensi merusak kesehatan secara menyeluruh.
Bahaya Tersembunyi di Balik Kelezatan Jajanan Viral
Di balik rasa gurih, manis, dan tampilan menggoda, Dampak Jajanan Viral bisa sangat berbahaya jika dikonsumsi tanpa kendali. Makanan tinggi gula dan lemak jenuh yang diolah dengan cara digoreng pada suhu tinggi cenderung menghasilkan AGEs. Senyawa inilah yang menyerang serat kolagen dalam kulit—protein penting yang menjaga elastisitas dan kekenyalannya.
Ketika kolagen melemah, kulit kehilangan kelembaban dan kekencangan. Hasilnya, wajah tampak kusam, muncul garis halus, bahkan kerutan dini. Inilah salah satu alasan mengapa konsumsi berlebihan makanan kekinian sering membuat penampilan kulit cepat menua dibandingkan usia sebenarnya.
Selain itu, kesehatan usus memiliki peran vital dalam menjaga fungsi tubuh. Mikroba usus yang seimbang bukan hanya berhubungan dengan pencernaan, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan kulit dan otak. Konsep “gut, brain, skin axis” menunjukkan bahwa kerusakan pada mikrobiota usus akibat pola makan buruk bisa berdampak pada kulit bermasalah dan kondisi mental yang tidak stabil.
Konsumsi berlebihan makanan olahan juga meningkatkan risiko peradangan. Peradangan kronis bisa menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit, termasuk diabetes, penyakit jantung, hingga gangguan autoimun. Jadi, meski sekilas terlihat sepele, efek dari jajanan viral yang dikonsumsi terus-menerus dapat sangat serius.
Strategi Hidup Sehat untuk Menangkal Dampak Negatif
Menghadapi maraknya tren kuliner kekinian, ada beberapa langkah strategis untuk meminimalisir Dampak Jajanan Viral. Menurut dr. Maya Surjadjaja, kuncinya ada pada pola hidup seimbang yang konsisten.
Pertama, perhatikan pola makan. Konsumsi buah, sayuran, protein rendah lemak, serta biji-bijian utuh sebaiknya menjadi prioritas. Mengurangi asupan gula, gorengan, dan makanan cepat saji dapat membantu menjaga kesehatan kulit sekaligus menekan risiko penyakit degeneratif.
Kedua, jangan lupakan lemak sehat. Banyak orang mengira semua lemak buruk bagi tubuh, padahal asam lemak omega-3 dari ikan berlemak, alpukat, dan kacang-kacangan justru mendukung kesehatan kulit, menyeimbangkan hormon, dan melawan peradangan. Menghindari lemak sama sekali justru berbahaya karena kulit akan kehilangan kelembaban dan elastisitas alaminya.
Ketiga, tidur cukup. Regenerasi sel tubuh, termasuk sel kulit, terjadi saat kita beristirahat. Tidur yang buruk meningkatkan kadar hormon stres kortisol yang bisa mempercepat penuaan dan memicu jerawat. Kualitas tidur yang baik membantu kulit tetap sehat dan pikiran lebih segar.
Keempat, kelola stres. Stres kronis berhubungan erat dengan peradangan dan ketidakseimbangan hormon. Olahraga teratur bisa menjadi solusi karena membantu melepaskan hormon endorfin yang menenangkan, meningkatkan sirkulasi darah, serta membawa nutrisi penting ke kulit.
Terakhir, tindakan estetik atau penggunaan skincare sebaiknya dilihat hanya sebagai pelengkap. Fondasi utama tetap ada pada pola hidup sehat jangka panjang. Dengan gaya hidup seimbang, Dampak Jajanan Viral bisa diminimalisir tanpa harus kehilangan kesempatan menikmati kuliner kekinian sesekali.