INVERSI.ID – Di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim global, muncul satu fenomena psikologis yang kini menarik perhatian para peneliti, climate anxiety atau kecemasan iklim. Fenomena ini mulai diakui sebagai respons emosional yang serius terhadap krisis iklim yang tengah berlangsung.
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Global Environmental Change mengungkap bahwa anak muda, perempuan, dan individu dengan kepedulian tinggi terhadap lingkungan merupakan kelompok yang paling rentan mengalami kecemasan iklim.
Studi Global: 170 Ribu Responden dari 27 Negara
Temuan ini berasal dari meta-analisis terbesar sejauh ini mengenai kecemasan iklim. Penelitian ini menganalisis 94 studi dengan total lebih dari 170 ribu responden dari 27 negara.
Menurut Dr. Clara Kühner dari Universitas Leipzig, kecemasan iklim merupakan respons emosional terhadap kesadaran bahwa krisis iklim adalah ancaman nyata.
“Kecemasan ini memang berdampak negatif pada kesejahteraan mental, namun juga berkaitan positif dengan aksi pro-lingkungan dan dukungan terhadap kebijakan iklim,” ujarnya, dikutip dari Phys.org.
Beda dari Gangguan Kecemasan Umum
Berbeda dari gangguan kecemasan umum, kecemasan iklim dipicu oleh paparan informasi ilmiah, pengalaman langsung terhadap bencana alam, hingga kekhawatiran mendalam tentang masa depan planet Bumi.
Penelitian juga menunjukkan bahwa mereka yang meyakini konsensus ilmiah soal penyebab perubahan iklim cenderung memiliki tingkat kecemasan lebih tinggi, tetapi juga lebih aktif dalam menyuarakan aksi nyata.
“Ini seperti pedang bermata dua,” jelas Prof. Hannes Zacher, salah satu peneliti.
“Kecemasan bisa menggerus kesehatan mental, tetapi juga bisa mendorong solidaritas dan aksi kolektif.”
Negara Berkembang Perlu Lebih Diperhatikan
Meskipun data utama berasal dari negara-negara di belahan bumi utara, para peneliti menilai pentingnya perluasan riset ke negara berkembang. Termasuk Indonesia, yang diperkirakan akan mengalami dampak perubahan iklim lebih parah.
Studi ini menyoroti pentingnya dukungan dari pemerintah, media, hingga pemimpin masyarakat dalam mengarahkan kecemasan menjadi langkah nyata. Pendekatan ini dapat membantu anak muda bertransformasi dari sekadar cemas menjadi agen perubahan yang aktif dan berdampak.
Meta-analisis ini juga dijadwalkan diperbarui secara berkala, menyesuaikan dengan perkembangan data dan minat global terhadap isu kesehatan mental dalam konteks krisis iklim.***