INVERSI.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atau Kemendikdasmen mengingatkan bahaya adiksi gadget dan gim daring pada anak yang dinilai dapat meningkatkan risiko terpapar paham radikalisme hingga ekstremisme. Karena itu, penguatan pendidikan karakter di sekolah dinilai menjadi langkah penting di tengah perkembangan era digital saat ini.
Kepala Pusat Penguatan Karakter (Kapuspeka) Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami, mengatakan dunia pendidikan kini menghadapi tantangan besar akibat pesatnya perkembangan teknologi digital yang berdampak langsung pada kondisi fisik dan mental peserta didik.
“Tantangan pendidikan hari ini sangat berkaitan dengan era digital. Isu yang menurut kami sangat besar adalah bagaimana anak-anak mengalami adiksi gadget. Dan ini sangat mempengaruhi kesehatan fisik, maupun kesehatan mental psikis anak,” kata Rusprita dalam kegiatan National Symposium 70th Antarbudaya AFS di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Jumat.
Menurut Rusprita, data dari Densus 88 menunjukkan adanya peningkatan signifikan jumlah anak yang terpapar paham radikalisme dan ekstremisme melalui gim daring.
“Data dari Densus 88, ternyata jumlah anak yang terpapar isu radikalisme, paham-paham ekstremisme ini juga signifikan meningkat melalui game online,” katanya.
Ia menjelaskan, anak-anak yang mengalami kecanduan game online cenderung menjadi pribadi yang pasif di kehidupan nyata. Meski aktif di dunia virtual, mereka berpotensi mengalami kesulitan dalam bersosialisasi secara langsung dengan lingkungan sekitar.
Selain berdampak pada perilaku sosial, penggunaan gadget dan layar gawai secara berlebihan juga disebut berisiko mengganggu kesehatan mata anak akibat terlalu lama menatap layar tanpa jeda.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemendikdasmen terus memperkuat pendidikan karakter di sekolah melalui gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH). Program ini dinilai mampu membantu membentuk karakter positif peserta didik sejak dini.
“7 kebiasaan ini terdengar sangat simpel, tapi sebenarnya ini sangat powerful untuk membentuk karakter anak-anak, mulai dari kemandirian, mencintai diri sendiri, memahami bagaimana merawat dirinya, memahami bagaimana menghormati orang lain, memahami bagaimana bekerjasama dengan orang lain,” kata Rusprita.
Kemendikdasmen berharap implementasi gerakan 7 KAIH dapat diterapkan secara luas di seluruh satuan pendidikan. Dengan begitu, generasi muda Indonesia tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat dan bijak dalam memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif.