INVERSI.ID – Fenomena Rojali dan Rohana kini menjadi pembicaraan hangat di kalangan pelaku usaha ritel dan pengamat perilaku konsumen, terutama di pusat perbelanjaan kota besar seperti Semarang. Rojali adalah singkatan dari Rombongan Jarang Beli, sementara Rohana adalah Rombongan Hanya Nanya. Fenomena ini mengacu pada perilaku sekelompok anak muda, khususnya Gen Z, yang sering datang ke mall untuk melihat-lihat barang, mencoba produk, atau bertanya harga, tetapi jarang melakukan pembelian.
Fenomena Rojali dan Rohana di kalangan Gen Z mencerminkan perubahan signifikan dalam pola konsumsi generasi ini. Menurut Ketua Forum Mahasiswa Ekonomi Semarang Raya 2023–2024, Ahmad Hammam Burhanudin, perilaku ini menandai pergeseran dari sifat impulsif yang sebelumnya melekat pada Gen Z menuju sikap lebih selektif dan berhati-hati sebelum membeli barang.
“Biasanya kecenderungan Gen Z itu kan impulsif, memutuskan pembelian tanpa berpikir panjang. Cuma, sekarang Gen Z lebih selektif, mereka mempertimbangkan apakah suatu barang benar-benar diperlukan sebelum membelinya,” ujar Hammam dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Selasa (5/8/2025).
Fenomena Rojali dan Rohana, menurut Hammam, tidak hanya menggambarkan perubahan perilaku belanja Gen Z, tetapi juga menjadi indikator menurunnya daya beli di tengah tantangan ekonomi. Faktor kepraktisan, kebutuhan untuk diakui, hingga rasa penasaran (sense of curiosity) menjadi pendorong utama, namun seringkali tidak seimbang dengan kemampuan finansial.
Mall Ramai, Penjualan Sepi: Daya Beli Gen Z Menurun
Hammam menjelaskan bahwa fenomena Rojali dan Rohana berkaitan erat dengan kondisi finansial Gen Z saat ini. Banyak di antara mereka yang menghadapi keterbatasan anggaran karena biaya hidup yang meningkat, cicilan yang harus dibayar, atau gaji yang belum sebanding dengan gaya hidup yang diinginkan.
“Nah, Gen Z ternyata punya sense of curiosity, tapi barangkali tidak diimbangi dengan pertimbangan kantong ekonominya. Jadi, tetap ada pertimbangan tentang dompet yang semakin menipis, atau mungkin setoran-setoran yang harus dicicil,” jelasnya.
Kondisi ini membuat mall tetap ramai dikunjungi, namun tingkat konversi pengunjung menjadi pembeli menurun. Fenomena tersebut tentu memengaruhi pendapatan pelaku usaha ritel, terutama mereka yang mengandalkan pembelian langsung di toko fisik.
Window Shopping Jadi Hiburan Murah Gen Z
Di Semarang, keberadaan pusat perbelanjaan yang cukup banyak memberikan pilihan hiburan bagi anak muda. Menurut Hammam, rata-rata Gen Z saat ini cenderung melakukan window shopping sebagai bentuk rekreasi murah.
Fenomena Rojali dan Rohana ini, meski tampak sederhana, berpotensi memberi dampak jangka panjang terhadap profitabilitas usaha. “Sebagai masalah jika dibiarkan, ini akan menjadi efek domino yang menurunkan profitabilitas pelaku usaha menengah ke atas,” kata Hammam.
Namun, ia juga melihat sisi positifnya. Jika para pelaku usaha dapat memanfaatkan tren ini dengan strategi pemasaran yang tepat, peluang baru justru bisa tercipta. “Fenomena ini bisa dijadikan sebagai POV baru mengenai peluang. Kalau digunakan untuk menciptakan ide inovatif dan value baru, ini akan menjadi peluang bisnis yang besar,” tambahnya.
Mengapa Rojali dan Rohana Muncul?
Ada beberapa faktor yang memicu munculnya fenomena ini di kalangan Gen Z:
- Harga Barang yang Meningkat
Inflasi dan biaya produksi yang naik membuat harga barang di mall semakin tinggi, sementara pendapatan anak muda cenderung stagnan. - Perubahan Prioritas Konsumsi
Gen Z kini lebih mengutamakan pengeluaran untuk pengalaman seperti traveling, konser, atau kuliner, dibanding membeli barang fisik. - Pengaruh Media Sosial
Banyak Gen Z yang datang ke mall hanya untuk mengambil foto atau membuat konten di media sosial, bukan untuk berbelanja. - Kebiasaan Digital Shopping
Dengan berkembangnya e-commerce, banyak dari mereka hanya melihat barang di toko fisik untuk kemudian membeli secara online dengan harga yang lebih murah.
Dampak Ekonomi bagi Pelaku Usaha
Fenomena Rojali dan Rohana memang membuat mall tetap terlihat ramai, namun dari sisi pelaku usaha ritel, ini menjadi tantangan. Tingginya jumlah foot traffic tidak selalu berbanding lurus dengan omzet.
Bagi merek besar, hal ini mungkin bisa diatasi dengan strategi pemasaran omnichannel, menggabungkan toko fisik dan online. Namun, bagi usaha menengah yang mengandalkan penjualan langsung, tren ini bisa menggerus keuntungan secara signifikan.
Jika perilaku ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan terjadi store closing di beberapa pusat perbelanjaan yang tidak mampu beradaptasi.
Peluang Bisnis dari Fenomena Rojali dan Rohana
Meski terdengar negatif, fenomena ini sebenarnya bisa dimanfaatkan. Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan pelaku usaha untuk mengubah window shopper menjadi pembeli:
- Pengalaman Belanja yang Interaktif
Toko bisa menyediakan demo produk, live music, atau pop-up events untuk menciptakan pengalaman yang lebih menarik. - Promosi Khusus di Tempat
Memberikan diskon eksklusif untuk pembelian langsung di toko dapat mendorong keputusan membeli saat itu juga. - Integrasi Online dan Offline
Memanfaatkan teknologi QR code atau aplikasi toko untuk memberikan voucher belanja kepada pengunjung yang datang. - Konten Media Sosial yang Menggoda
Menyediakan spot foto estetik yang memancing pengunjung memposting di media sosial, sambil menampilkan produk yang dijual.
Gen Z, Belanja, dan Masa Depan Ritel
Fenomena Rojali dan Rohana menunjukkan bahwa perilaku konsumen terus berkembang seiring perubahan zaman. Gen Z, sebagai generasi digital native, memiliki karakteristik unik: mereka cerdas dalam mencari informasi, kritis terhadap harga, dan mengutamakan pengalaman.
Bagi pelaku usaha, memahami perilaku ini adalah kunci bertahan dan berkembang di pasar yang semakin kompetitif. Mall tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai ruang sosial, hiburan, dan pencipta pengalaman.
Jika pelaku usaha mampu memadukan fungsi-fungsi tersebut dengan strategi pemasaran yang tepat, Rojali dan Rohana bukan lagi ancaman, melainkan peluang emas.