By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Fenomena Rojali dan Rohana, Tren Belanja Gen Z yang Bikin Mall Ramai tapi Penjualan Sepi
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Fenomena Rojali dan Rohana, Tren Belanja Gen Z yang Bikin Mall Ramai tapi Penjualan Sepi

LifeStyle

Fenomena Rojali dan Rohana, Tren Belanja Gen Z yang Bikin Mall Ramai tapi Penjualan Sepi

Jack
By
Jack
11 months ago
Share
6 Min Read
Gen Z belanja.
SHARE

INVERSI.ID – Fenomena Rojali dan Rohana kini menjadi pembicaraan hangat di kalangan pelaku usaha ritel dan pengamat perilaku konsumen, terutama di pusat perbelanjaan kota besar seperti Semarang. Rojali adalah singkatan dari Rombongan Jarang Beli, sementara Rohana adalah Rombongan Hanya Nanya. Fenomena ini mengacu pada perilaku sekelompok anak muda, khususnya Gen Z, yang sering datang ke mall untuk melihat-lihat barang, mencoba produk, atau bertanya harga, tetapi jarang melakukan pembelian.

Contents
Mall Ramai, Penjualan Sepi: Daya Beli Gen Z MenurunWindow Shopping Jadi Hiburan Murah Gen ZMengapa Rojali dan Rohana Muncul?Dampak Ekonomi bagi Pelaku UsahaPeluang Bisnis dari Fenomena Rojali dan RohanaGen Z, Belanja, dan Masa Depan Ritel

Fenomena Rojali dan Rohana di kalangan Gen Z mencerminkan perubahan signifikan dalam pola konsumsi generasi ini. Menurut Ketua Forum Mahasiswa Ekonomi Semarang Raya 2023–2024, Ahmad Hammam Burhanudin, perilaku ini menandai pergeseran dari sifat impulsif yang sebelumnya melekat pada Gen Z menuju sikap lebih selektif dan berhati-hati sebelum membeli barang.

“Biasanya kecenderungan Gen Z itu kan impulsif, memutuskan pembelian tanpa berpikir panjang. Cuma, sekarang Gen Z lebih selektif, mereka mempertimbangkan apakah suatu barang benar-benar diperlukan sebelum membelinya,” ujar Hammam dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Selasa (5/8/2025).

Fenomena Rojali dan Rohana, menurut Hammam, tidak hanya menggambarkan perubahan perilaku belanja Gen Z, tetapi juga menjadi indikator menurunnya daya beli di tengah tantangan ekonomi. Faktor kepraktisan, kebutuhan untuk diakui, hingga rasa penasaran (sense of curiosity) menjadi pendorong utama, namun seringkali tidak seimbang dengan kemampuan finansial.

Mall Ramai, Penjualan Sepi: Daya Beli Gen Z Menurun

Hammam menjelaskan bahwa fenomena Rojali dan Rohana berkaitan erat dengan kondisi finansial Gen Z saat ini. Banyak di antara mereka yang menghadapi keterbatasan anggaran karena biaya hidup yang meningkat, cicilan yang harus dibayar, atau gaji yang belum sebanding dengan gaya hidup yang diinginkan.

“Nah, Gen Z ternyata punya sense of curiosity, tapi barangkali tidak diimbangi dengan pertimbangan kantong ekonominya. Jadi, tetap ada pertimbangan tentang dompet yang semakin menipis, atau mungkin setoran-setoran yang harus dicicil,” jelasnya.

Kondisi ini membuat mall tetap ramai dikunjungi, namun tingkat konversi pengunjung menjadi pembeli menurun. Fenomena tersebut tentu memengaruhi pendapatan pelaku usaha ritel, terutama mereka yang mengandalkan pembelian langsung di toko fisik.

Window Shopping Jadi Hiburan Murah Gen Z

Di Semarang, keberadaan pusat perbelanjaan yang cukup banyak memberikan pilihan hiburan bagi anak muda. Menurut Hammam, rata-rata Gen Z saat ini cenderung melakukan window shopping sebagai bentuk rekreasi murah.

Fenomena Rojali dan Rohana ini, meski tampak sederhana, berpotensi memberi dampak jangka panjang terhadap profitabilitas usaha. “Sebagai masalah jika dibiarkan, ini akan menjadi efek domino yang menurunkan profitabilitas pelaku usaha menengah ke atas,” kata Hammam.

Baca Juga :

Kapten Madura United Ungkap Masalah Mental hingga Kepedean Suporter Persib Bandung
8 Jenis Buah yang Cocok Menjaga Kesehatan Gigi

Namun, ia juga melihat sisi positifnya. Jika para pelaku usaha dapat memanfaatkan tren ini dengan strategi pemasaran yang tepat, peluang baru justru bisa tercipta. “Fenomena ini bisa dijadikan sebagai POV baru mengenai peluang. Kalau digunakan untuk menciptakan ide inovatif dan value baru, ini akan menjadi peluang bisnis yang besar,” tambahnya.

Mengapa Rojali dan Rohana Muncul?

Ada beberapa faktor yang memicu munculnya fenomena ini di kalangan Gen Z:

  1. Harga Barang yang Meningkat
    Inflasi dan biaya produksi yang naik membuat harga barang di mall semakin tinggi, sementara pendapatan anak muda cenderung stagnan.
  2. Perubahan Prioritas Konsumsi
    Gen Z kini lebih mengutamakan pengeluaran untuk pengalaman seperti traveling, konser, atau kuliner, dibanding membeli barang fisik.
  3. Pengaruh Media Sosial
    Banyak Gen Z yang datang ke mall hanya untuk mengambil foto atau membuat konten di media sosial, bukan untuk berbelanja.
  4. Kebiasaan Digital Shopping
    Dengan berkembangnya e-commerce, banyak dari mereka hanya melihat barang di toko fisik untuk kemudian membeli secara online dengan harga yang lebih murah.

Dampak Ekonomi bagi Pelaku Usaha

Fenomena Rojali dan Rohana memang membuat mall tetap terlihat ramai, namun dari sisi pelaku usaha ritel, ini menjadi tantangan. Tingginya jumlah foot traffic tidak selalu berbanding lurus dengan omzet.

Bagi merek besar, hal ini mungkin bisa diatasi dengan strategi pemasaran omnichannel, menggabungkan toko fisik dan online. Namun, bagi usaha menengah yang mengandalkan penjualan langsung, tren ini bisa menggerus keuntungan secara signifikan.

Jika perilaku ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan terjadi store closing di beberapa pusat perbelanjaan yang tidak mampu beradaptasi.

Peluang Bisnis dari Fenomena Rojali dan Rohana

Meski terdengar negatif, fenomena ini sebenarnya bisa dimanfaatkan. Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan pelaku usaha untuk mengubah window shopper menjadi pembeli:

  • Pengalaman Belanja yang Interaktif
    Toko bisa menyediakan demo produk, live music, atau pop-up events untuk menciptakan pengalaman yang lebih menarik.
  • Promosi Khusus di Tempat
    Memberikan diskon eksklusif untuk pembelian langsung di toko dapat mendorong keputusan membeli saat itu juga.
  • Integrasi Online dan Offline
    Memanfaatkan teknologi QR code atau aplikasi toko untuk memberikan voucher belanja kepada pengunjung yang datang.
  • Konten Media Sosial yang Menggoda
    Menyediakan spot foto estetik yang memancing pengunjung memposting di media sosial, sambil menampilkan produk yang dijual.

Gen Z, Belanja, dan Masa Depan Ritel

Fenomena Rojali dan Rohana menunjukkan bahwa perilaku konsumen terus berkembang seiring perubahan zaman. Gen Z, sebagai generasi digital native, memiliki karakteristik unik: mereka cerdas dalam mencari informasi, kritis terhadap harga, dan mengutamakan pengalaman.

Bagi pelaku usaha, memahami perilaku ini adalah kunci bertahan dan berkembang di pasar yang semakin kompetitif. Mall tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai ruang sosial, hiburan, dan pencipta pengalaman.

Jika pelaku usaha mampu memadukan fungsi-fungsi tersebut dengan strategi pemasaran yang tepat, Rojali dan Rohana bukan lagi ancaman, melainkan peluang emas.

You Might Also Like

Wisata Indonesia Makin Bergairah, Kunjungan Turis Asing dan Wisnus Kompak Meningkat
Komdigi: Akun Influencer Daerah Jadi Target Utama Spam Judi Online di Media Sosial
WhatsApp Bakal Hadirkan Fitur Username, Chat Tanpa Perlu Bagikan Nomor Telepon
Indonesia Kejar Posisi Teratas GMTI 2026, Kemenpar Perkuat Promosi Wisata Halal
Pemerintah Jepang Resmi Usulkan Sistem Dua Ibu Kota untuk Kurangi Sentralisasi Tokyo
TAGGED:Fenomenagen zRojali dan Rohana
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Kenapa Banyak Gen Z Dipecat? Ini Fakta dan Cerita Nyatanya
Next Article Gen Z, Ini 9 Prinsip Sukses Chairul Tanjung yang Bisa Mengubah Hidupmu
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Kebijakan Bebas Visa Dinilai Jadi Kunci Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Indonesia

3 weeks ago
Travel

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027

4 weeks ago
Travel

Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta

4 weeks ago
LifeStyleTerkini

Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index