By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Kenapa Siswa SMA Enggan ke Ruang BK?
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Kenapa Siswa SMA Enggan ke Ruang BK?

Pendidikan

Kenapa Siswa SMA Enggan ke Ruang BK?

Jack
By
Jack
1 year ago
Share
3 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Sebanyak 70 persen pelajar SMA di Jakarta enggan mengunjungi ruang Bimbingan Konseling (BK) untuk membahas masalah kesehatan mental. Fakta ini terungkap dalam hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh Health Collaborative Center (HCC), Fokus Kesehatan Indonesia (FKI), dan Yayasan BUMN melalui inisiatif Mendengar Jiwa Institute.

Alih-alih berkonsultasi dengan guru BK, mayoritas pelajar lebih memilih curhat kepada teman sebaya saat menghadapi tekanan emosional atau gangguan psikologis. Menurut Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, Peneliti Utama HCC, sebanyak 67 persen responden tidak ingin mengunjungi ruang BK meskipun guru menyadari adanya risiko gangguan emosional pada mereka.

“Hal ini menunjukkan pentingnya peran teman sebaya sebagai pendengar dan pemberi dukungan. Peer counselor bisa menjadi pendekatan baru dalam penanganan awal masalah kesehatan mental pelajar,” ujarnya.

Namun, pendekatan ini tidak bisa berdiri sendiri. Prof. Nila Moeloek, Direktur Eksekutif FKI sekaligus Menteri Kesehatan periode 2014–2019, mengingatkan bahwa konsultasi antar teman sebaya harus tetap dibatasi pada ruang curhat semata.

“Mereka tetap anak remaja yang perlu arahan. Konseling tetap harus ditangani oleh profesional. Teman hanya bisa menjadi jembatan, bukan pemberi solusi,” jelasnya.

Penelitian ini juga merekomendasikan penerapan program Zona Mendengar Jiwa di sekolah. Program ini mencakup skrining kesehatan mental, identifikasi masalah, edukasi, dan konseling berbasis sekolah yang terintegrasi dengan layanan kesehatan.

Heru Komarudin, Program Manager Health and Wellbeing Yayasan BUMN, menyatakan bahwa inisiatif ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 untuk menciptakan generasi muda yang sehat secara fisik dan mental.

Zona Mendengar Jiwa juga mendorong pelibatan aktif dari guru, orang tua, hingga teman sebaya dalam menciptakan lingkungan yang ramah kesehatan mental di sekolah. Salah satu usulan strategisnya adalah melakukan rebranding terhadap ruang BK agar tidak lagi dianggap sebagai tempat “hukuman”, melainkan menjadi ruang aman untuk berkonsultasi tanpa stigma.

Lebih dari itu, penelitian yang melibatkan 741 pelajar SMA di Jakarta ini menemukan bahwa 30 persen siswa menunjukkan perilaku agresif dan kerap terlibat perkelahian sebagai dampak dari tekanan mental yang tidak tertangani.

Baca Juga :

Garuda Esports Melaju Kencang: Indonesia Kuasai Awal FIFAe World Cup 2025
Fear the Hate: Sisi Gelap K-Pop dan Drama Korea yang Tak Diketahui Generasi Muda Indonesia

“Intervensi kesehatan mental di tingkat SMA harus dilakukan secara menyeluruh, terstruktur, dan berbasis data. Sekolah memiliki potensi besar sebagai tempat awal terjadinya masalah sekaligus menjadi solusi utama,” tegas Bunga Pelangi, Direktur Program HCC.

Melalui program ini, para pemangku kepentingan berharap dapat membangun budaya peduli kesehatan mental sejak usia sekolah, sekaligus memperkuat dukungan emosional yang berkelanjutan bagi remaja.***

You Might Also Like

UI Kembali Jadi Kampus Terbaik Indonesia, Bertahan di 200 Besar Dunia Versi QS WUR 2027
Dedi Mulyadi Ancam Cabut Subsidi Sekolah Swasta Gratis bagi Siswa yang Tawuran
Disdik Jabar Ingatkan Peserta SPMB Tahap 1 untuk Daftar Ulang, Tahap 2 Segera Dibuka
Lebih dari 1.000 Pelajar di Jakarta Barat Terima Beasiswa PIP, Dukung Pendidikan Generasi Masa Depan
Unhas Tembus Peringkat 861 Dunia, Melonjak 111 Posisi di QS World University Rankings 2027
TAGGED:Ruang BKsiswaSMA
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Benarkah Posisi Tidur Bisa Mempengaruhi Tinggi Badan? Ini Penjelasan Ilmiahnya!
Next Article Mindfulness Bantu Remaja Tingkatkan Kecerdasan Emosional dan Hadapi Tekanan Hidup
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pendidikan

Rusia Buka Kesempatan Kuliah Gratis untuk Mahasiswa Indonesia, Ini Syaratnya

1 week ago
Foto : Program Makan Bergizi Gratis (MBG) (Sumber : www.bgn.go.id)
MBG

Fokus pada Ibu Hamil dan Balita, BGN Pangkas 8 Juta Penerima Makan Bergizi Gratis

1 week ago
Pendidikan

Tak Kebagian Sekolah Negeri? Pemprov Jabar Siapkan Bantuan untuk Masuk Swasta

1 week ago
PendidikanTerkini

Putra Timur Dijegal? Bahlil Pertanyakan Keadilan di Kampus UI

1 week ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index