PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama KAI Commuter kembali menghadirkan inovasi transportasi publik yang inklusif dan berdampak langsung pada ekonomi rakyat. Mulai November 2025, layanan Kereta Khusus Petani dan Pedagang resmi beroperasi di lintas Rangkasbitung–Merak, Provinsi Banten. Dengan frekuensi 14 perjalanan per hari, kereta ini dirancang untuk memfasilitasi mobilitas petani dan pedagang kecil yang selama ini kesulitan mengangkut hasil panen dan barang dagangan ke pusat kota.
Langkah ini menjadi bagian dari transformasi transportasi berbasis keadilan sosial, sekaligus mendukung program pemerintah dalam memperkuat konektivitas ekonomi lokal dan memperluas akses pasar bagi pelaku usaha mikro.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan bahwa kereta ini merupakan respons terhadap kebutuhan masyarakat di wilayah Banten, khususnya petani dan pedagang yang selama ini bergantung pada moda transportasi darat yang tidak selalu efisien.
“Kereta Petani-Pedagang adalah bentuk keberpihakan kami terhadap pelaku ekonomi akar rumput. Kami ingin mereka punya akses transportasi yang layak, aman, dan terjangkau,” ujar Karina
Kereta ini melayani rute Rangkasbitung–Merak dengan 14 perjalanan per hari, terdiri dari 7 perjalanan pergi dan 7 perjalanan pulang. Jadwal keberangkatan dimulai pukul 04.30 WIB hingga 20.00 WIB, disesuaikan dengan jam aktivitas pasar dan distribusi hasil pertanian.
Stasiun yang dilalui antara lain:
- Rangkasbitung
- Cilegon
- Serang
- Krenceng
- Merak
Setiap stasiun dilengkapi dengan fasilitas bongkar muat barang, area tunggu yang luas, dan petugas pendamping khusus untuk membantu penumpang membawa hasil panen atau dagangan.
Kereta ini menggunakan rangkaian K3 Ekonomi dengan modifikasi khusus:
- Pintu lebih lebar untuk memudahkan masuk-keluar barang
- Ruang kabin lebih luas dan tanpa sekat untuk fleksibilitas angkutan
- Rak barang tambahan di bagian atas dan bawah kursi
- Area khusus hasil bumi seperti sayur, buah, dan produk UMKM
- Ventilasi dan pencahayaan optimal untuk menjaga kesegaran barang
Selain itu, tarif kereta ini dibuat sangat terjangkau, mulai dari Rp5.000–Rp10.000 per perjalanan, dengan sistem tiket manual dan digital.
Inovasi ini diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap:
- Peningkatan akses pasar bagi petani dan pedagang kecil
- Efisiensi distribusi hasil panen ke kota-kota besar
- Pengurangan biaya logistik yang selama ini membebani pelaku UMKM
- Peningkatan pendapatan harian karena waktu tempuh lebih cepat
- Pemberdayaan ekonomi lokal di sepanjang jalur Rangkasbitung–Merak
Program ini juga membuka peluang kerja baru sebagai porter, petugas logistik, dan pendamping UMKM di stasiun-stasiun terkait.
Siti (45), petani cabai asal Serang, mengaku terbantu dengan adanya kereta ini. “Dulu saya harus naik angkot dua kali dan bayar mahal. Sekarang cukup satu kali naik kereta, barang aman dan cepat sampai,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan oleh Darto (52), pedagang sayur keliling. “Saya bisa bawa lebih banyak barang dan pulang lebih cepat. Dagangan nggak rusak di jalan,” katanya.
KAI juga menggandeng pemerintah daerah untuk mengintegrasikan layanan ini dengan program pemberdayaan UMKM. Di beberapa stasiun, tersedia area promosi produk lokal, pelatihan logistik, dan pendampingan digitalisasi usaha.
“Kereta ini bukan hanya alat transportasi, tapi juga platform pemberdayaan ekonomi rakyat,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Banten dalam peluncuran resmi kereta di Stasiun Rangkasbitung.
Meski mendapat sambutan positif, program ini juga menghadapi tantangan:
- Kapasitas angkut terbatas saat musim panen
- Kebutuhan pendingin untuk produk segar
- Koordinasi antar stasiun dan jadwal pasar
- Digitalisasi sistem tiket dan logistik
Ke depan, KAI berencana menambah rangkaian kereta, memperluas rute ke wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta mengembangkan sistem logistik berbasis aplikasi untuk pelaku UMKM.
Kereta Khusus Petani-Pedagang adalah bukti bahwa transportasi publik bisa menjadi alat transformasi sosial. Dengan 14 perjalanan per hari, fasilitas ramah angkutan, dan tarif terjangkau, kereta ini membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi petani dan pedagang kecil.
Inovasi ini bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga soal keadilan, pemberdayaan, dan masa depan ekonomi lokal yang lebih inklusif. Semoga program ini menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk menghadirkan transportasi publik yang benar-benar berpihak pada rakyat.