INVERSI.ID – Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa hubungan antara Rusia dan negara-negara Eropa saat ini berada dalam fase krisis. Ia menegaskan, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh pihak Rusia.
Pernyataan itu disampaikan Putin dalam pertemuan bersama anggota tetap Dewan Keamanan Rusia di Moskow, Jumat. Ia menilai memburuknya relasi dengan Eropa terjadi karena faktor eksternal, bukan kebijakan dari Moskow.
“Jelas, bahwa hubungan Rusia dengan negara-negara Eropa sedang dalam krisis, dan bukan karena kesalahan kami,” kata Putin.
Lebih lanjut, Putin menyoroti konflik Ukraina sebagai salah satu pemicu utama ketegangan tersebut. Ia menuding kebijakan pemerintahan Amerika Serikat sebelumnya serta sejumlah negara Eropa sebagai pihak yang turut bertanggung jawab atas krisis yang terjadi.
Meski demikian, Putin menegaskan Rusia tidak menutup pintu untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara Eropa. Ia juga menilai memburuknya hubungan antara Rusia dan Barat tidak memiliki dasar yang kuat.
Sementara itu, kekhawatiran terkait eskalasi konflik juga disampaikan oleh Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban. Dalam pernyataannya, Orban menilai Uni Eropa saat ini tengah bersiap menghadapi kemungkinan perang.
“Perang semakin dekat. Brussel telah meningkatkan keterlibatannya dalam perang Ukraina. Jadi sekarang mereka bersiap untuk perang. Mereka telah beralih ke ekonomi perang,” kata Orban saat berpidato di hadapan peserta Pawai Perdamaian di Budapest.
Ia juga mengungkapkan bahwa peningkatan dukungan militer dan finansial terhadap Ukraina menjadi indikasi serius adanya potensi keterlibatan lebih jauh dari Uni Eropa.
“Mereka tidak ingin menghindari masalah, mereka justru menghadapi masalah tersebut. Lebih banyak senjata, lebih banyak uang, lebih banyak pasukan… Kita tidak tahu persis jam berapa tentara pertama dari Brussels akan menginjakkan kaki di tanah Ukraina. Tetapi kita tahu pasti: itu akan terjadi,” lanjutnya.
Orban menegaskan komitmennya untuk menjaga Hungaria tetap berada dalam posisi aman di tengah situasi global yang tidak menentu.
Ia menyebut negaranya akan terus berupaya menjadi “pulau keamanan dan perdamaian” di tengah dinamika geopolitik yang semakin memanas.
Ketegangan antara Rusia, Eropa, dan Barat saat ini menjadi sorotan dunia, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.