Inversi Saat jarum jam masih menunjukkan pukul 04.00 WITA, di saat sebagian besar penduduk kota Makassar masih terlelap dalam mimpi, Bulqis telah terjaga. Di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Biringkanaya 03, ia memulai rutinitas hariannya dengan ketangkasan yang terlatih.
Tangannya dengan sigap menyiapkan perlengkapan, memproses bahan pangan, hingga menata ribuan porsi makanan dengan presisi. Bagi banyak orang, aktivitas di dapur mungkin dianggap sebagai rutinitas biasa, namun bagi Bulqis, 20 tahun, dapur ini adalah panggung utama tempat ia merajut harapan dan menjemput masa depan yang sempat tertunda.
Bulqis merupakan sosok representasi generasi muda yang tangguh di tengah realitas ekonomi yang menantang. Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, ia hidup dalam keluarga yang sederhana; sang ayah telah memasuki masa purna bakti, sementara sang ibu berjuang memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan bekerja sebagai buruh.
Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah, Bulqis sempat mengalami masa transisi yang panjang dan penuh ketidakpastian. Hari-harinya kala itu habis untuk membantu pekerjaan rumah tangga dan memantau lowongan pekerjaan, namun kesempatan emas belum juga mengetuk pintu.
Menemukan Harapan di Tengah Keterbatasan
Harapan itu akhirnya muncul melalui media sosial. Sebuah informasi perekrutan relawan untuk operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menarik perhatiannya. Tanpa ragu, ia mendaftarkan diri, melewati tahapan seleksi, dan akhirnya diterima untuk bergabung. Sejak saat itu, garis hidup Bulqis mulai bergeser ke arah yang lebih cerah.
Bekerja di balik dapur Program MBG bukanlah perkara ringan. Ritme kerja yang menuntut konsistensi tinggi sejak sebelum matahari terbit, tantangan fisik yang menguras tenaga, serta tanggung jawab besar untuk menjaga standar keamanan pangan, menjadi ujian harian. Namun, Bulqis justru menemukan sebuah kesempatan yang selama ini ia cari: kemandirian ekonomi.
“Waktu pertama kali melihat informasi lowongan tersebut, saya merasakan ada harapan baru. Bekerja di dapur SPPG memang menantang, namun di sini saya tidak hanya mendapatkan pekerjaan, saya menemukan sebuah tujuan,” ujar Bulqis saat ditemui di sela kesibukannya.
Membiayai Mimpi Pendidikan secara Mandiri
Dampak dari keterlibatannya dalam program nasional ini melampaui sekadar pemenuhan kebutuhan harian. Melalui penghasilan yang ia peroleh sebagai relawan, Bulqis tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi juga mulai berkontribusi dalam ekonomi keluarga.
“Dulu, saya berada di posisi yang selalu menerima uang saku dari orang tua. Namun kini, alhamdulillah, saya bisa memberikan dukungan bagi mereka. Rasanya sangat bermakna ketika bisa meringankan beban orang tua dari hasil jerih payah sendiri,” ungkapnya dengan penuh syukur.
Bukan hanya soal membantu keluarga, Bulqis memiliki visi yang lebih besar. Ia dengan disiplin menyisihkan sebagian pendapatannya untuk mewujudkan mimpi yang sempat tertunda: menempuh pendidikan tinggi. Berkat ketekunan menabung, ia kini resmi terdaftar sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka.
Perjalanan ini bukanlah hal instan; ada jeda waktu yang cukup lama setelah kelulusannya, namun bekerja di SPPG menjadi titik balik determinan yang memungkinkan mimpi itu menjadi nyata.
Disiplin dalam Peran Ganda: Relawan dan Mahasiswi
Saat ini, Bulqis menjalani kehidupan dengan peran ganda yang menuntut manajemen waktu luar biasa. Pagi hingga siang hari ia dedikasikan untuk bekerja di dapur SPPG, memastikan setiap porsi makanan bergizi sampai ke tangan siswa dengan kualitas terbaik.
Setelah beristirahat sejenak, ia akan beralih menjadi seorang pembelajar; sore hingga malam hari ia habiskan dengan berkutat pada buku-buku teks dan tugas-tugas kuliah. Tentu saja, keletihan sering kali menyergap.
Namun, Bulqis memiliki fondasi mental yang kuat. Baginya, Program MBG bukan sekadar upaya pemerintah dalam menyediakan asupan nutrisi, melainkan sebuah ruang pemberdayaan yang membuka lebar peluang bagi anak muda untuk bangkit, berkarya, dan menjadi mandiri.
Pengalaman selama bekerja di dapur SPPG telah menempanya menjadi sosok yang lebih disiplin, memiliki tanggung jawab tinggi, serta ketahanan mental yang tangguh. Setiap tetes keringat di dapur kini ia maknai sebagai bagian dari proses pembentukan jati diri.