Inversi Universitas Brawijaya (UB) melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menunjukkan komitmen nyata dalam mendorong inovasi sosial berbasis keberlanjutan melalui pengembangan program pengolahan limbah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi produk bernilai ekonomi.
Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi volume limbah organik, tetapi juga untuk menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya para peternak di Kota Malang.
Program inovatif ini digagas melalui kerja sama antara FISIP UB, Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Malang, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta kelompok peternak yang tergabung dalam Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan konsep ekonomi sirkular yang berkelanjutan, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai sisa yang tidak berguna, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah kembali menjadi produk yang bernilai.
Pada tahap awal pelaksanaan, program ini akan diuji coba di empat dapur MBG yang tersebar di wilayah Kota Malang, dengan melibatkan peternak lele serta peternak kambing dan domba di kawasan Singosari.
Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada potensi kolaborasi yang tinggi antara dapur MBG dan komunitas peternak setempat, sehingga diharapkan dapat menghasilkan dampak yang optimal sejak tahap awal implementasi.
Ketua Badan Inovasi dan Transformasi Sosial (BITS) FISIP UB, Syahirul Alim, menjelaskan bahwa program ini lahir sebagai respons terhadap dua permasalahan utama, yaitu tingginya volume limbah dapur serta kebutuhan akan penerapan sistem ekonomi sirkular yang lebih luas di masyarakat.
Menurutnya, limbah dapur MBG memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis apabila dikelola dengan tepat. Ia menambahkan bahwa limbah organik seperti sisa nasi dan sayuran dapat diolah menjadi berbagai jenis pakan ternak, seperti maggot, pelet, maupun pakan langsung, tergantung pada jenis ternak dan kebutuhan peternak.
Dengan demikian, limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan dapat diubah menjadi sumber daya produktif yang memberikan manfaat ekonomi.
Dalam pelaksanaannya, skema kerja sama antara dapur MBG dan pihak peternak akan diformalkan melalui perjanjian atau kontrak yang jelas dan terstruktur. FISIP UB berperan sebagai fasilitator yang menjembatani berbagai pihak, mulai dari penyusunan mekanisme kerja sama, pengaturan distribusi limbah, hingga penyaluran hasil ternak ke pasar atau kembali ke dapur MBG.
Selain itu, pihak UB juga berkomitmen untuk memberikan dukungan dalam bentuk pendampingan teknis dan penyediaan sarana pengolahan limbah apabila diperlukan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa proses pengolahan limbah dapat berjalan secara efektif, efisien, dan sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Program ini diharapkan dapat menjadi model percontohan dalam pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular di Indonesia. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif, program ini tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga membuka peluang usaha baru yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional Kota Malang, M. Atho’illah, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif yang digagas oleh UB. Ia mengungkapkan bahwa setiap dapur MBG rata-rata menghasilkan sekitar 5 hingga 10 kilogram limbah makanan setiap hari.
Dengan jumlah SPPG aktif di Kota Malang yang mencapai puluhan unit dan terus bertambah, potensi limbah yang dapat diolah menjadi produk ekonomis dinilai sangat besar.
Menurutnya, pengelolaan limbah secara produktif merupakan solusi yang tepat dalam menjawab tantangan distribusi sampah organik yang selama ini menjadi permasalahan di berbagai daerah. Dengan adanya program ini, limbah yang sebelumnya hanya dibuang kini dapat dimanfaatkan secara optimal.
Ia juga menegaskan bahwa pihak BGN membuka peluang kerja sama yang luas dengan berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan dan kelompok masyarakat, selama program yang dijalankan memiliki kejelasan manfaat serta dapat dipertanggungjawabkan secara administratif dan operasional.
Di sisi lain, Kepala SPPG Sukoharjo 1 Klojen, Muhammad Wisam Anugrah, menilai bahwa program ini memberikan solusi konkret dalam pengelolaan limbah dapur. Menurutnya, keberadaan program ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional dapur MBG.
Ia menambahkan bahwa dengan adanya sistem pengolahan limbah yang terintegrasi, dapur MBG dapat lebih fokus dalam menjalankan fungsi utamanya, yaitu menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat, tanpa harus terbebani oleh pengelolaan limbah yang kompleks.
Sementara itu, Pengelola BUMDes Ardiles, Desa Ardimulyo, Singosari, Misbahul Munir, menyampaikan optimisme terhadap dampak positif yang akan dihasilkan dari program ini. Ia menilai bahwa pemanfaatan limbah dapur sebagai pakan ternak dapat membantu menekan biaya produksi yang selama ini cukup tinggi, terutama untuk pembelian pakan pabrikan.
Menurutnya, apabila program ini berjalan secara konsisten dan berkelanjutan, maka tidak hanya akan meningkatkan pendapatan peternak, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi desa. Ia berharap kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik sehingga manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan secara luas.
Secara keseluruhan, inisiatif pengolahan limbah dapur MBG yang digagas oleh Universitas Brawijaya ini merupakan langkah inovatif yang mencerminkan sinergi antara ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan kebutuhan masyarakat. Dengan pendekatan ekonomi sirkular, program ini tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.
Ke depan, diharapkan program ini dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia sebagai bagian dari upaya nasional dalam mewujudkan sistem pengelolaan limbah yang lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, transformasi limbah menjadi sumber daya ekonomi bukan lagi sekadar konsep, melainkan solusi nyata yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.