INVERSI.ID – Gen Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, dikenal sebagai generasi digital yang kreatif dan serba cepat beradaptasi dengan teknologi. Namun, di balik gaya hidup yang modern dan serba instan, banyak di antara mereka yang minim literasi keuangan.
Sebuah survei menunjukkan 85% Gen Z tidak memiliki tabungan dan belum terbiasa mengatur keuangan secara disiplin. Mayoritas uang mereka justru habis untuk kebutuhan sekunder seperti liburan, nongkrong, atau membeli barang-barang tren di media sosial, ketimbang dialokasikan untuk menabung atau investasi.
Fenomena ini menjadi sorotan serius mengingat biaya hidup yang semakin tinggi dan tuntutan finansial di masa depan yang kian kompleks.
Gaya Hidup Digital yang Boros
Rininta Hanum, Ketua Program Inkubasi IBISMA (Inkubasi Bisnis & Inovasi Bersama) Universitas Islam Indonesia (UII), mengungkapkan bahwa kemudahan era digital justru membuat banyak orang boros.
Menurutnya, penawaran diskon dan promo kini bisa ditemukan di mana saja, terutama di platform digital. Media sosial seperti Instagram, TikTok, hingga X (Twitter) menjadi saluran utama promosi yang efektif, tetapi sekaligus menjadi jebakan bagi generasi muda.
“Banyak Gen Z yang terjebak gengsi dan perilaku konsumtif. Jika tidak memiliki strategi khusus, bersiaplah tidak punya tabungan atau dana simpanan,” ujar Rininta.
Rininta juga mengingatkan bahwa uang yang dihabiskan tanpa perencanaan akan terbuang sia-sia. Terutama, jika uang lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan sekunder daripada kebutuhan utama seperti pendidikan, tabungan, atau dana darurat.
Liburan dan Nongkrong Lebih Prioritas
Hasil pengamatan Rininta menunjukkan bahwa pola konsumsi Gen Z cenderung berorientasi pada kesenangan jangka pendek.
Distribusi pengeluaran mereka rata-rata seperti ini:
- 35% untuk liburan
- 25% untuk nongkrong
- 20% untuk makan di luar
- 13% untuk fashion dan kecantikan
- Hanya 7% yang dialokasikan untuk tabungan atau investasi
Kebiasaan ini berbanding terbalik dengan money-smart people atau individu yang cerdas secara finansial. Orang dengan literasi keuangan yang baik cenderung sabar, mampu menunda kesenangan, dan berorientasi pada masa depan.
Rininta mengingatkan bahwa jika kebiasaan boros ini terus dibiarkan, Gen Z akan kesulitan menghadapi kebutuhan finansial di masa depan, seperti membeli rumah, membayar asuransi, atau memenuhi kebutuhan darurat.
Pentingnya Literasi Keuangan bagi Gen Z
Minimnya literasi keuangan pada generasi muda berdampak besar dalam jangka panjang. Tanpa pemahaman finansial yang baik, mereka berisiko:
- Tidak memiliki dana darurat saat menghadapi kejadian tak terduga
- Terjebak utang konsumtif, misalnya dari paylater atau kartu kredit
- Sulit berinvestasi untuk masa depan karena tidak ada modal tabungan
- Mengalami stres finansial, yang bisa memengaruhi kualitas hidup
Karena itu, Rininta menekankan pentingnya membangun kebiasaan menabung, berhemat, dan membuat perencanaan keuangan sejak dini.
Tips Jitu Mengatur Keuangan Ala Gen Z
Agar generasi muda bisa lebih bijak mengelola uang, Rininta memberikan beberapa tips manajemen keuangan sederhana yang bisa langsung diterapkan:
- Menabung Sejak Dini dan Konsisten
Jangan menunggu punya penghasilan besar untuk mulai menabung. Tabungan kecil tetapi konsisten akan menjadi kebiasaan baik. - Atur Pemasukan Sesuai Prioritas
Pastikan kebutuhan utama seperti makan, transportasi, dan pendidikan terpenuhi sebelum mengalokasikan uang untuk hiburan. - Miliki Dana Darurat
Dana darurat penting karena masa depan tidak bisa diprediksi. Idealnya, dana darurat mencukupi biaya hidup 3–6 bulan. - Punya Asuransi dan Investasi
Investasi bukan sekadar tren, tapi cara untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Pilih instrumen sesuai profil risiko, seperti reksa dana atau emas. - Hindari Pengeluaran Impulsif
Kendalikan keinginan belanja mendadak yang dipicu diskon atau promosi online. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini kebutuhan atau hanya keinginan?”
Contoh Cara Mengelola Uang ala Mahasiswa
Rininta juga membagikan simulasi sederhana untuk mengatur uang saku mahasiswa. Misalnya, jika seorang mahasiswa mendapat uang saku Rp1.000.000 per bulan, pembagiannya bisa menggunakan metode 50/20/30, yaitu:
- 50% (Rp500.000) untuk kebutuhan pokok
- 20% (Rp200.000) untuk tabungan atau investasi
- 30% (Rp300.000) untuk hiburan atau keinginan
Dengan metode ini, mahasiswa bisa tetap menikmati hidup tanpa mengorbankan stabilitas keuangan.
Selain itu, ia menyarankan untuk memisahkan rekening tabungan dan rekening harian agar tidak tergoda menggunakan uang simpanan. Membuat catatan pengeluaran bulanan juga penting untuk memantau aliran uang.
Jangan Investasi Hanya Ikut Tren
Raissa Shofi Amani, Public Relation ISP Semarang, menambahkan bahwa investasi harus dilakukan dengan bijak.
“Investasi bukan alat untuk menjadi kaya mendadak, tapi untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Semua produk investasi punya risiko yang berbeda,” tegasnya.
Banyak anak muda yang ikut-ikutan tren investasi tanpa memahami risiko, misalnya membeli aset kripto atau saham viral. Padahal, tanpa perencanaan yang matang, hal ini justru bisa menimbulkan kerugian.
Saatnya Gen Z Melek Finansial
Generasi Z memiliki peluang besar untuk mandiri secara finansial jika mampu mengubah kebiasaan konsumtif menjadi gaya hidup hemat dan cerdas.
Kuncinya adalah:
- Mulai menabung sejak dini
- Mengatur anggaran dengan disiplin
- Menghindari pengeluaran impulsif
- Berinvestasi dengan bijak
Dengan literasi keuangan yang baik, Gen Z tidak hanya bisa menikmati gaya hidup masa kini, tetapi juga menyiapkan masa depan finansial yang stabil.