INVERSI.ID – Kecantikan selalu berubah seiring zaman. Dari ramuan tradisional hingga teknologi skincare modern, manusia terus mencari cara untuk merawat diri dan melawan tanda-tanda penuaan. Namun, di tengah derasnya tren dan obsesi kulit sempurna, makna kecantikan sejati sering kali terlupakan: keseimbangan antara perawatan luar, ketenangan batin, dan keberanian menolak stigma sempit tentang cantik.
Beberapa tahun terakhir, retinol menjadi bintang di dunia skincare. Banyak yang menganggap bahan aktif turunan vitamin A ini sebagai “ramuan muda abadi.” Ekspektasinya tinggi: kulit cerah, halus, dan bebas kerut hanya dalam hitungan minggu. Namun, perjalanan menuju kulit sehat tak selalu mulus.
Banyak pengguna justru harus melalui fase yang dikenal sebagai retinol purging—kulit memerah, mengelupas, bahkan terasa perih. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tidak ada hasil instan dalam perawatan kulit. Kulit, seperti tubuh dan jiwa, memiliki ritmenya sendiri.
“Jangan pakai retinol di pagi hari. Kalau dipakai pagi, kulit bisa terbakar dan malah jadi gelap. Retinoid sebaiknya digunakan malam hari dan pagi harinya wajib pakai sunscreen,” jelas dr. Abelina MM MARS, yang dikenal dengan nama dr. Incognito, dalam peluncuran produk Finally Found You! pada Sabtu (4/10).
Menurutnya, kunci perawatan kulit dengan retinol adalah kesabaran. “Orang Indonesia maunya cepat glowing. Tapi kalau kulit belum siap, malah bisa rusak. Mulai seminggu sekali dulu, kalau aman baru naik frekuensinya,” ujarnya.
Ia menambahkan, cara sederhana seperti menimpa retinoid dengan pelembap bisa membantu kulit beradaptasi.
“Tunggu beberapa menit setelah pakai, lalu langsung timpa pelembap. Nggak usah lama-lama,” katanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kecantikan tidak datang dari kecepatan hasil, melainkan dari proses memahami kebutuhan kulit sendiri.
Kecantikan Bukan Hanya dari Luar
Dalam dunia yang serba visual, banyak orang terjebak dalam standar lama: putih berarti cantik. Namun, persepsi itu kini mulai dilawan oleh banyak figur publik dan ahli kecantikan.
“Saya ingin buang stigma kalau cantik itu harus putih. Yang penting bukan warnanya, tapi kulitnya sehat, cerah, dan terawat,” tegas Tasya Farasya, beauty influencer ternama yang aktif mengedukasi soal skincare di media sosial.
Menurut Tasya, kebutuhan kulit setiap orang berbeda. Karena itu, produk skincare seharusnya difokuskan pada kesehatan kulit, bukan warna. Ia menyebut bahan aktif seperti L-ascorbic acid 15 persen, adenosine, niacinamide 5 persen, dan ginseng cocok untuk kulit di iklim tropis seperti Indonesia.
Bagi aktris Luna Maya, rahasia tampil segar bukan hanya tentang kosmetik mahal.
“Setiap hari yang paling penting itu bersihkan wajah sampai benar-benar bersih. Gunakan produk terpercaya sesuai kebutuhan kulit,” ujarnya.
Luna kini lebih fokus pada produk anti-aging, tapi ia menegaskan bahwa kecantikan luar tidak bisa dipisahkan dari gaya hidup sehat. “Istirahat cukup, makan sehat, olahraga, dan yang paling penting, kelola stres. Semua yang terlihat di luar itu berasal dari dalam,” katanya.
Inner Beauty: Sumber Cahaya dari Dalam
Kecantikan sejati, bagi banyak perempuan modern, tidak lagi diukur dari kulit yang putih atau wajah tanpa kerut, tetapi dari inner beauty—keindahan yang terpancar karena jiwa yang tenang dan empati terhadap sesama.
“Inner beauty itu berhubungan sama kepribadian. Kalau kita bisa menimbulkan kenyamanan dan kebahagiaan buat orang lain, itu akan terpancar ke luar,” kata Tasya Farasya.
dr. Abelina juga menegaskan hal serupa. Ia percaya bahwa empati adalah bentuk kecantikan yang paling langgeng. “Banyakin empati. Jangan cuma mikirin diri sendiri. Itu satu-satunya hal yang bikin manusia tetap punya cahaya,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa kulit manusia bersifat dinamis.
“Kulit usia 20-an bisa berminyak, tapi di usia 30-an bisa berubah jadi kering. Jadi penting banget tahu kondisi kulit sekarang, bukan yang dulu,” katanya.
Pernyataan ini menegaskan pentingnya mengenal diri sendiri—baik secara fisik maupun emosional. Karena perawatan sejati dimulai dari pemahaman terhadap perubahan diri.
Melawan Stigma dan Merayakan Keberagaman
Di Indonesia, standar kecantikan lama yang menempatkan kulit putih sebagai tolok ukur masih kuat. Namun, generasi muda kini mulai bergerak melawan. Mereka menuntut narasi baru: bahwa semua warna kulit indah, dan bahwa kecantikan bukan hasil dari upaya menyeragamkan diri, melainkan keberanian untuk berbeda.
Luna Maya menilai bertambahnya usia bukan ancaman bagi kecantikan, melainkan perjalanan alami yang bisa dinikmati.
“Age is just a number. Yang penting tahu ingredients yang cocok buat diri sendiri,” katanya.
Ia juga menyebut potensi bahan alami seperti PDRN dan Green Algae, dua kandungan dengan mineral tinggi yang kini banyak digunakan dalam skincare.
“Manfaatnya besar banget buat regenerasi kulit,” ujarnya.
Sementara itu, Maharaja, pendiri Finally Found You! dan kreator konten, menambahkan bahwa perawatan kulit tidak eksklusif untuk perempuan.
“Laki-laki juga perlu merawat kulit. Minimal pakai cleanser, moisturizer, dan sunscreen. Itu basic banget,” ujarnya.
Pandangan ini menunjukkan bahwa perawatan diri bukan lagi soal gender, tetapi tentang rasa hormat terhadap tubuh sendiri.
Cantik yang Seutuhnya
Di balik diskusi tentang retinol, gaya hidup sehat, dan inner beauty, ada satu pesan utama: kecantikan sejati tidak bisa didefinisikan oleh standar luar. Ia lahir dari harmoni antara perawatan fisik, keseimbangan mental, dan keberanian menolak stigma.
Produk skincare hanyalah alat bantu. Selebihnya, kecantikan tumbuh dari rasa percaya diri dan penerimaan diri.
“Kami ingin menegaskan bahwa cantik tidak hanya tentang produk. Cantik berarti merawat diri luar dan dalam, lalu percaya diri dengan keunikan masing-masing,” ujar Maharaja.
Ia menambahkan, “Kami percaya setiap orang berhak merasa cantik tanpa harus mengubah warna kulitnya. Produk ini hanya alat, bukan tujuan. Yang terpenting, cintai diri apa adanya.”
Di tengah tekanan media sosial yang menuntut kesempurnaan, mungkin makna kecantikan modern kini bergeser. Kecantikan sejati adalah saat seseorang menatap cermin dan melihat bukan sekadar kulit yang mulus, tetapi jiwa yang damai dan bahagia.