INVERSI.ID – Dulu museum identik dengan suasana sunyi, lampu redup, dan kunjungan yang formal—biasanya barengan study tour sekolah. Tapi sekarang, museum mulai berubah wajah. Anak muda, terutama generasi Z, menjadikan museum sebagai bagian dari gaya hidup, tempat nongkrong, spot foto konten, museum date, bahkan tempat belajar santai sambil menikmati estetika benda antik.
Di Indonesia fenomena ini makin terasa. Meski data publik terperinci belum selalu mendukung untuk semua museum, beberapa lembaga seperti Kementerian Kebudayaan dan Badan Museum & Cagar Budaya terus mengeluarkan program agar museum lebih ramah ke pengunjung muda dan lebih terlihat di media digital. Museum bukan cuma untuk dipelajari, tapi untuk dirasakan dan jadi bagian keseharian.
Transformasi itu nggak cuma soal estetika visual atau desain ruang. Riset kebijakan dan laporan-laporan resmi menunjukkan bahwa digitalisasi, pengalaman interaktif, dan kurasi publik yang relevan jadi kunci. Misalnya Museum Sumpah Pemuda sudah menyediakan kunjungan virtual dan pameran digital yang memungkinkan banyak pemirsa mengakses koleksinya dari jauh.
Museum Sonobudoyo di Yogyakarta, setelah menerapkan konsep digital secara lebih awal, melihat lonjakan pengunjung hampir dua kali lipat: dari sekitar 34 ribu menjadi lebih dari 61 ribu setelah digitalisasi beberapa aspek museum mulai diperbaiki (akses informasi, interaksi pengunjung).
Bagaimana Museum Bisa Tetap Relevan & Menarik Buat Gen Z
Satu: teknologi & inklusivitas jadi poin besar. Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan mendorong agar museum memakai teknologi digital, termasuk augmented reality, virtual reality, dan sistem informasi modern sehingga koleksi museum bisa diakses dari banyak tempat.
Museum di Kalimantan Barat bahkan melakukan digitalisasi menyeluruh pada koleksinya, dengan sistem barcode dan visualisasi modern supaya data tentang setiap artefak bisa langsung diakses lewat ponsel.
Dua: kurasi & pengalaman pengunjung. Museum yang sukses bukan hanya yang bagus koleksinya, tapi yang bisa menyuguhkan pengalaman yang nyaman, interaktif, dan punya “cerita” yang bisa menyentuh generasi muda. Misalnya dengan spot instagramable, event kreatif, tur digital, pameran yang punya tema yang relate ke keseharian anak muda, hingga media sosial sebagai ruang promosi dan interaksi. Yang agak sering terjadi adalah museum menjadi bagian dari perjalanan konten Instagram atau TikTok.
Tiga: tantangan juga gak kecil. Ada problema teknis seperti keterbatasan dana, kurangnya tenaga ahli untuk digitalisasi, serta perbedaan kapasitas antar museum di kota besar vs daerah terpencil. Ada juga isu bahwa pengalaman virtual tidak menggantikan keutuhan pengalaman fisik benda antik atau suasana kuno yang unik di museum.
Tetapi justru di sinilah kesempatan besar: museum yang bisa menyeimbangkan antara koleksi fisik dan digital, antara estetika dan edukasi, antara konten viral dengan kedalaman narasi budaya, akan menjadi museum yang disukai banyak orang, terutama generasi Z.
Museum & Budaya Digital: Peluang dan Peran Besar Ke Depan
Melihat tren yang ada, museum punya peran strategis dalam melestarikan budaya sekaligus menjadi ruang kreativitas publik. Salah satunya adalah mengangkat koleksi budaya agar bisa diakses lebih luas lewat katalog daring, tur virtual, bahkan konten multimedia yang mendekatkan cerita di balik artefak kepada publik. Contohnya, digitalisasi wayang oleh Kemendikbud bekerja sama Google Institute memungkinkan koleksi penting dapat dilihat publik lewat platform digital jadi tidak hanya yang secara fisik bisa datang yang menikmati.
Inovasi seperti museum imersif dan interaktif, misalnya di Jakarta dan kota lain, menjadi daya tarik tersendiri. Pemprov DKI merencanakan memperbanyak museum dengan teknologi imersif—layar 360 derajat, pengalaman virtual, pameran digital—agar museum tidak lagi dipandang tua dan sunyi tapi sebagai ruang hiburan edukatif.
Generasi muda punya kesempatan besar untuk ikut terlibat dalam perubahan ini: sebagai konten kreator, kurator partisipatif, edukator digital, atau bahkan pembuat aplikasi/fitur yang membantu museum lebih interaktif. Jika museum dan komunitas bisa bersinergi dengan teknologi, kreatifitas, dan nuansa estetika yang kekinian, bukan mustahil museum bakal menjadi salah satu pusat gaya hidup budaya yang paling nge-hits ke depan.