INVERSI.ID – Hobi mendaki gunung semakin diminati oleh generasi Z sebagai cara untuk menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kota dan menemukan ketenangan. Rifky Ardiansyah, salah satu pendaki muda dari generasi Z, menceritakan pengalamannya pertama kali mendaki pada 2010. Awalnya ia hanya ikut ajakan seorang teman untuk mendaki Gunung Gede di Jawa Barat dari Jakarta.
“Awalnya cuma ikut-ikut aja, teman ngajakin naik gunung. Eh, ternyata seru juga,” kata Rifky. Pengalaman pertama itu membuka matanya pada dunia yang sunyi, bebas polusi, dan jauh dari rutinitas kota besar.
“Pengalaman paling seru itu ya nikmatin ketenangan. Suasananya adem, tentram banget,” tambah Rifky.
Menurut Rifky, hobi mendaki gunung bukan hanya soal olahraga atau pemandangan indah, tapi juga sarana introspeksi. Mendaki memberi kesempatan untuk memikirkan hidup, menghargai kebersamaan, dan menumbuhkan kesabaran. “Di atas sana, kita belajar banyak hal—kesabaran dan kebersamaan,” ujarnya.
Persiapan Penting untuk Pendaki Pemula
Rifky menekankan bahwa persiapan matang adalah kunci agar pengalaman mendaki aman dan menyenangkan, terutama bagi pemula. Salah satu hal wajib adalah memiliki surat keterangan sehat dari dokter, yang diperoleh sehari sebelum keberangkatan.
“Dengan surat itu, kita tahu kondisi tubuh kita, benar-benar siap atau enggak,” jelas Rifky.
Latihan fisik juga tidak boleh diabaikan. “Minimal seminggu sebelumnya sudah mulai joging, biar fisik enggak kaget,” ucapnya.
Selain itu, perlengkapan wajib seperti obat-obatan pribadi, kotak P3K, jaket, matras, dan tenda harus lengkap. Rifky menekankan, “Itu wajib. Semua ada fungsinya.”
Memilih gunung yang sesuai kemampuan juga penting. Rifky menyarankan pendaki pemula untuk tidak langsung menargetkan gunung ekstrem atau dengan ketinggian tinggi.
“Lihat dulu mdpl-nya (meter di atas permukaan laut). Kalau masih awal-awal, cari yang tidak terlalu tinggi, supaya tubuh bisa beradaptasi dulu,” katanya.
Dengan pendekatan ini, pengalaman mendaki tetap aman sekaligus menyenangkan bagi pemula.
Fenomena Mendaki Gunung di Kalangan Generasi Z
Selain pengalaman pribadi, hobi mendaki gunung kini menjadi fenomena sosial di kalangan generasi Z. Menurut Canvas 8, tren ini muncul pasca-pandemi akibat rasa kesepian yang dialami banyak generasi Z. Sebanyak 52% generasi Z di Amerika Serikat dan 60% di Inggris melaporkan merasa kesepian, sehingga mereka mulai mencari aktivitas yang dapat mengatasi rasa tersebut. Mendaki gunung menjadi salah satu solusi yang efektif karena memberikan pengalaman langsung dan memupuk rasa keterhubungan dengan orang lain serta alam.
Data dari Sport England Active Lives menunjukkan partisipasi dalam aktivitas jalan kaki di perbukitan dan gunung meningkat hingga 40% sejak 2015-2016, lebih tinggi dibandingkan aktivitas lain yang diukur survei tersebut. Di media sosial TikTok, tagar #hiking bahkan telah menampilkan lebih dari 4,1 juta video, menunjukkan antusiasme generasi Z yang besar terhadap kegiatan ini. Video-video tersebut tidak hanya menampilkan pemandangan alam, tetapi juga pengalaman pribadi dan interaksi sosial di alam terbuka.
Selain itu, penelitian dari Universitas Negeri Surabaya oleh Naufal Sallahudin Adani dan Vinda Maya Setianingrum mengungkapkan bahwa generasi Z menggunakan platform Instagram untuk berbagi pengalaman mendaki gunung sekaligus membangun identitas diri. “Tren ini mencerminkan bagaimana hobi mendaki gunung digunakan sebagai sarana ekspresi diri dan interaksi sosial,” tulis Naufal dan Vinda. Aktivitas ini tidak hanya memberi kepuasan pribadi, tetapi juga menjadi media untuk memperluas jejaring sosial dan berbagi cerita dengan komunitas yang memiliki minat serupa.
Rifky Ardiansyah menekankan bahwa mendaki gunung kini lebih dari sekadar hobi. Aktivitas ini menjadi gaya hidup yang memberi kesempatan untuk menjelajah alam, menemukan ketenangan batin, dan melatih fisik. “Gunung telah menjadi tempat pelarian sekaligus perenungan bagi saya,” ujar Rifky. Dengan begitu, pendakian gunung bagi generasi Z tidak sekadar olahraga, melainkan juga pengalaman hidup yang memperkaya dan memberi perspektif baru.
Selain itu, hobi mendaki gunung memberikan manfaat psikologis yang signifikan. Terutama bagi generasi muda yang sering terpapar stres dan tekanan akademis atau pekerjaan, aktivitas di alam terbuka membantu mengurangi stres, meningkatkan mood, serta membangun rasa percaya diri. Interaksi dengan alam dan teman-teman pendaki mengajarkan kerja sama, disiplin, dan kesabaran—nilai-nilai yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan meningkatnya popularitas aktivitas ini, banyak komunitas mendaki gunung untuk generasi Z muncul di berbagai kota. Komunitas ini tidak hanya menjadi tempat belajar teknik mendaki, tetapi juga menjadi ruang sosial untuk berbagi pengalaman, tips, dan cerita pribadi. Aktivitas ini mendorong generasi muda untuk lebih aktif di luar ruangan, membangun jaringan sosial yang sehat, serta menumbuhkan apresiasi terhadap alam.
Dalam konteks digital, penggunaan media sosial untuk membagikan pengalaman mendaki gunung juga membantu membentuk identitas digital generasi Z. Foto, video, dan cerita perjalanan yang dibagikan di Instagram atau TikTok menjadi bentuk ekspresi diri sekaligus memotivasi teman sebaya untuk mencoba aktivitas serupa. Dengan cara ini, hobi mendaki gunung menjadi sarana menggabungkan pengalaman fisik nyata dengan interaksi digital yang kreatif.
Secara keseluruhan, hobi mendaki gunung bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari upaya generasi Z untuk mengatasi kesepian, menjaga kesehatan mental, dan membangun identitas diri. Aktivitas ini menggabungkan manfaat fisik, psikologis, dan sosial, menjadikannya pilihan aktivitas luar ruang yang relevan dan menyenangkan.