By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Mendaki Gunung Bukan Sekadar Hobi, Tapi Gaya Hidup Gen Z
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Mendaki Gunung Bukan Sekadar Hobi, Tapi Gaya Hidup Gen Z

Travel

Mendaki Gunung Bukan Sekadar Hobi, Tapi Gaya Hidup Gen Z

Jack
By
Jack
10 months ago
Share
6 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Hobi mendaki gunung semakin diminati oleh generasi Z sebagai cara untuk menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kota dan menemukan ketenangan. Rifky Ardiansyah, salah satu pendaki muda dari generasi Z, menceritakan pengalamannya pertama kali mendaki pada 2010. Awalnya ia hanya ikut ajakan seorang teman untuk mendaki Gunung Gede di Jawa Barat dari Jakarta.

Contents
Persiapan Penting untuk Pendaki PemulaFenomena Mendaki Gunung di Kalangan Generasi Z

“Awalnya cuma ikut-ikut aja, teman ngajakin naik gunung. Eh, ternyata seru juga,” kata Rifky. Pengalaman pertama itu membuka matanya pada dunia yang sunyi, bebas polusi, dan jauh dari rutinitas kota besar.

“Pengalaman paling seru itu ya nikmatin ketenangan. Suasananya adem, tentram banget,” tambah Rifky.

Menurut Rifky, hobi mendaki gunung bukan hanya soal olahraga atau pemandangan indah, tapi juga sarana introspeksi. Mendaki memberi kesempatan untuk memikirkan hidup, menghargai kebersamaan, dan menumbuhkan kesabaran. “Di atas sana, kita belajar banyak hal—kesabaran dan kebersamaan,” ujarnya.


Persiapan Penting untuk Pendaki Pemula

Rifky menekankan bahwa persiapan matang adalah kunci agar pengalaman mendaki aman dan menyenangkan, terutama bagi pemula. Salah satu hal wajib adalah memiliki surat keterangan sehat dari dokter, yang diperoleh sehari sebelum keberangkatan.

“Dengan surat itu, kita tahu kondisi tubuh kita, benar-benar siap atau enggak,” jelas Rifky.

Latihan fisik juga tidak boleh diabaikan. “Minimal seminggu sebelumnya sudah mulai joging, biar fisik enggak kaget,” ucapnya.

Selain itu, perlengkapan wajib seperti obat-obatan pribadi, kotak P3K, jaket, matras, dan tenda harus lengkap. Rifky menekankan, “Itu wajib. Semua ada fungsinya.”

Memilih gunung yang sesuai kemampuan juga penting. Rifky menyarankan pendaki pemula untuk tidak langsung menargetkan gunung ekstrem atau dengan ketinggian tinggi.

Baca Juga :

Virus Nipah Belum Ada Vaksin, Dokter Anak Imbau Perkuat PHBS
Isu Mengejutkan, Benarkah Raisa Ajukan Gugatan Cerai pada Hamish Daud?

“Lihat dulu mdpl-nya (meter di atas permukaan laut). Kalau masih awal-awal, cari yang tidak terlalu tinggi, supaya tubuh bisa beradaptasi dulu,” katanya.

Dengan pendekatan ini, pengalaman mendaki tetap aman sekaligus menyenangkan bagi pemula.


Fenomena Mendaki Gunung di Kalangan Generasi Z

Selain pengalaman pribadi, hobi mendaki gunung kini menjadi fenomena sosial di kalangan generasi Z. Menurut Canvas 8, tren ini muncul pasca-pandemi akibat rasa kesepian yang dialami banyak generasi Z. Sebanyak 52% generasi Z di Amerika Serikat dan 60% di Inggris melaporkan merasa kesepian, sehingga mereka mulai mencari aktivitas yang dapat mengatasi rasa tersebut. Mendaki gunung menjadi salah satu solusi yang efektif karena memberikan pengalaman langsung dan memupuk rasa keterhubungan dengan orang lain serta alam.

Data dari Sport England Active Lives menunjukkan partisipasi dalam aktivitas jalan kaki di perbukitan dan gunung meningkat hingga 40% sejak 2015-2016, lebih tinggi dibandingkan aktivitas lain yang diukur survei tersebut. Di media sosial TikTok, tagar #hiking bahkan telah menampilkan lebih dari 4,1 juta video, menunjukkan antusiasme generasi Z yang besar terhadap kegiatan ini. Video-video tersebut tidak hanya menampilkan pemandangan alam, tetapi juga pengalaman pribadi dan interaksi sosial di alam terbuka.

Selain itu, penelitian dari Universitas Negeri Surabaya oleh Naufal Sallahudin Adani dan Vinda Maya Setianingrum mengungkapkan bahwa generasi Z menggunakan platform Instagram untuk berbagi pengalaman mendaki gunung sekaligus membangun identitas diri. “Tren ini mencerminkan bagaimana hobi mendaki gunung digunakan sebagai sarana ekspresi diri dan interaksi sosial,” tulis Naufal dan Vinda. Aktivitas ini tidak hanya memberi kepuasan pribadi, tetapi juga menjadi media untuk memperluas jejaring sosial dan berbagi cerita dengan komunitas yang memiliki minat serupa.


Rifky Ardiansyah menekankan bahwa mendaki gunung kini lebih dari sekadar hobi. Aktivitas ini menjadi gaya hidup yang memberi kesempatan untuk menjelajah alam, menemukan ketenangan batin, dan melatih fisik. “Gunung telah menjadi tempat pelarian sekaligus perenungan bagi saya,” ujar Rifky. Dengan begitu, pendakian gunung bagi generasi Z tidak sekadar olahraga, melainkan juga pengalaman hidup yang memperkaya dan memberi perspektif baru.

Selain itu, hobi mendaki gunung memberikan manfaat psikologis yang signifikan. Terutama bagi generasi muda yang sering terpapar stres dan tekanan akademis atau pekerjaan, aktivitas di alam terbuka membantu mengurangi stres, meningkatkan mood, serta membangun rasa percaya diri. Interaksi dengan alam dan teman-teman pendaki mengajarkan kerja sama, disiplin, dan kesabaran—nilai-nilai yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan meningkatnya popularitas aktivitas ini, banyak komunitas mendaki gunung untuk generasi Z muncul di berbagai kota. Komunitas ini tidak hanya menjadi tempat belajar teknik mendaki, tetapi juga menjadi ruang sosial untuk berbagi pengalaman, tips, dan cerita pribadi. Aktivitas ini mendorong generasi muda untuk lebih aktif di luar ruangan, membangun jaringan sosial yang sehat, serta menumbuhkan apresiasi terhadap alam.

Dalam konteks digital, penggunaan media sosial untuk membagikan pengalaman mendaki gunung juga membantu membentuk identitas digital generasi Z. Foto, video, dan cerita perjalanan yang dibagikan di Instagram atau TikTok menjadi bentuk ekspresi diri sekaligus memotivasi teman sebaya untuk mencoba aktivitas serupa. Dengan cara ini, hobi mendaki gunung menjadi sarana menggabungkan pengalaman fisik nyata dengan interaksi digital yang kreatif.

Secara keseluruhan, hobi mendaki gunung bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari upaya generasi Z untuk mengatasi kesepian, menjaga kesehatan mental, dan membangun identitas diri. Aktivitas ini menggabungkan manfaat fisik, psikologis, dan sosial, menjadikannya pilihan aktivitas luar ruang yang relevan dan menyenangkan.

You Might Also Like

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027
Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta
Harga Avtur Melonjak, Kemenpar dan Kemenhub Cari Cara Jaga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau
Tak Hanya Bali, Kemenpar Genjot 10 Destinasi Prioritas untuk Tarik Wisatawan Mancanegara
Beda dengan Wisata Kuliner, Gastronomi Tawarkan Cerita dan Warisan Budaya Nusantara
TAGGED:gen zHobiMendaki Gunung
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Hidup Lebih Inspiratif, Tips Menyalakan Kreativitas dalam Diri dari Para Ahli
Next Article Generasi Z Melek Isu Global, Peduli Dunia dan Kesehatan Mental
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Tak Mau Tertinggal dari Vietnam, Indonesia Siapkan Jurus Baru Dongkrak Pariwisata

1 week ago
Travel

Instalasi Sunflower Angel Jadi Magnet Baru di Candi Prambanan, Pengunjung Membludak

2 weeks ago
Travel

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Layani Lebih dari 1,2 Juta Penumpang

3 weeks ago
Travel

Senja di AWT 2026 Sajikan Wisata Alam, Budaya, hingga Fashion Show Anak Muda

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index