AKARTA — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendorong pembangunan infrastruktur listrik lintas negara ASEAN untuk menerangi wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Langkah itu disampaikan Bahlil dalam forum BIMP-EAGA Leader’s Summit di Filipina saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto.
Dalam forum kerja sama subregional yang dibentuk sejak 1994 tersebut, Bahlil menegaskan pembangunan energi ASEAN tidak boleh hanya berpusat di kota besar atau kawasan industri, tetapi juga harus menjangkau masyarakat di pulau-pulau terpencil dan wilayah perbatasan.
“Untuk mendorong pembangunan di daerah 3T bagi empat negara anggotanya,” kata Bahlil dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Bahlil memframing proyek interkoneksi listrik lintas negara bukan sekadar agenda infrastruktur, melainkan misi kemanusiaan dan keadilan energi kawasan. Menurutnya, masyarakat di wilayah terpencil ASEAN berhak mendapatkan akses listrik yang andal dan terjangkau agar tidak tertinggal dalam pertumbuhan ekonomi regional.
Ia menekankan kerja sama subregional harus mampu menghadirkan akses energi merata hingga ke daerah paling sulit dijangkau.
“Sinergi ini akan memperkuat kolaborasi sehingga masyarakat di daerah remote area mampu mengakses energi dengan harga yang terjangkau untuk kesejahteraan yang lebih baik,” ujar Bahlil.
Melalui forum BIMP-EAGA, Indonesia kini mengambil peran lebih aktif sebagai motor penggerak ketahanan energi ASEAN melalui proyek konkret, mulai dari interkoneksi listrik lintas negara, elektrifikasi pedesaan, hingga pengembangan energi baru terbarukan.
Bahlil menilai langkah itu penting agar masyarakat di wilayah perbatasan dan pulau-pulau kecil tidak terus mengalami ketimpangan akses energi dibanding wilayah perkotaan.
Selain memperkuat konektivitas energi, proyek tersebut juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, membuka peluang investasi, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat 3T yang selama ini menghadapi keterbatasan listrik.
Kementerian ESDM optimistis kolaborasi empat negara anggota BIMP-EAGA akan memperkuat rantai pasok energi kawasan sekaligus mempercepat Asia Tenggara menjadi poros pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya menegaskan kerja sama BIMP-EAGA harus semakin adaptif dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat kawasan.
“Dengan semangat itu, BIMP-EAGA harus terus berkembang. BIMP-EAGA harus lebih adaptif, lebih berdampak, dan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat kita,” ujar Prabowo.
Dorongan Bahlil terhadap infrastruktur listrik lintas negara dinilai menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia ingin memimpin agenda keadilan energi ASEAN, terutama bagi jutaan warga di wilayah 3T yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses listrik dan tingginya biaya energi.