By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Nujuh Likur, Tradisi Suku Serawai Bengkulu untuk Sambut Hari Raya Idul Fitri
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Nujuh Likur, Tradisi Suku Serawai Bengkulu untuk Sambut Hari Raya Idul Fitri

Terkini

Nujuh Likur, Tradisi Suku Serawai Bengkulu untuk Sambut Hari Raya Idul Fitri

Natio
By
Natio
ByNatio
Jurnalist and Digital Enthusias
Banyak orang meninggalkan kedai kopi untuk bekerja. justru aku mendatangi kedai kopi untuk memulai bekerja. karena bagiku kopi adalah sumber inspirasi.
Follow:
1 year ago
Share
3 Min Read
SHARE

Setiap daerah tentunya memiliki tradisi yang berbeda-beda dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Termasuk di Bengkulu, ada tradisi Nujuh Likur atau Ronjok Sayak yang dimaksudkan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Contents
Makna Tradisi Nujuh LikurAnak-anak Mengumpulkan Batok KelapaDari Sudut Pandang Agama

Tradisi Nujuh Likur ini merupakan budaya yang berasal dari salah satu suku di Bengkulu yaitu suku serawai yang banyak menetap di Kabupaten Seluma, Bengkulu.

Adapun tujuan dari tradisi Nujuh Likur ini yaitu perpisahan bulan Ramadhan dan menyambut datangnya idul fitri. Biasanya dilaksanakan pada malam ke 27 di bulan Ramadan.

Saat melakukan tradisi ini, nantinya masyarakat akan membakar lujuk atau batok kelapa sebagai salah satu tradisi untuk berpisah dengan bulan Ramadan.

Makna Tradisi Nujuh Likur

Makna simbol dari tradisi Malam Nujuh Likur yakni menggambarkan pada malam kedua puluh tujuh itu kemungkinan turunnya malam penuh rahmat yang didamba setiap orang yang beriman, yaitu malam Lailatul Qadar. Menurut bahasa Suku Serawai, Nujuh Likur ini memiliki arti dua puluh tujuh.

Kemudian menurut filosofisnya, tempurung kelapa dipilih karena perlambangan buah penuh manfaat. Buah perlambangan rasa syukur, semakin banyak syukur yang dipanjatkan (tempurung) maka semakin cepat pula Tuhan melimpahkan rahmatNya.

Anak-anak Mengumpulkan Batok Kelapa

Dulunya, tradisi nujuh likur di masyarakat suku Serawai ini dilakukan oleh anak-anak yang akan mengumpulkan tempurung atau batok kelapa. Mereka biasanya mengumpulkannya pada jauh-jauh hari sebelum malam nujuh likur.

Jauh-jauh hari sayak harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara dijemur agar mudah terbakar dan dilubangi tengahnya untuk disusun di pancang kayu lanjaran.

Pada saat akan dibakar, di permukaan lanjaran yang paling atas akan disiram minyak tanah atau getah damar untuk mempermudah proses pembakaran. Lanjaran yang akan dibakar ini jumlahnya tak hanya satu.

Baca Juga :

Hemat Besar di Dapur! Berkat Gas CNG, Biaya Masak Bisa Turun Hingga 40%
Solusi Mengatasi Polusi Udara Jakarta, Jokowi: Geser ke IKN dan Perbanyak Moda Transportasi Massal

Jumlahnya bisa semakin banyak, tergantung dari sayak yang berhasil dikumpulkan.

Dari Sudut Pandang Agama

Dikutip dari betv, dilihat dari sudut pandang agama, Ustad Dhani Hamdani Ketua Umum Masjid Raya Baitul Izzah (MRBI) mengatakan bahwa kegiatan tersebut diperbolehkan asal tidak ada aktivitas yang bertertentangan dengan syariat islam dalam pelaksanaannya, seperti berkhalawat antara laki-laki dan perempuan dimalam nujuh likur.

Disisi lain, budayawan Bengkulu, Agus Setiyanto menjelasakan bahwa sepengetahuan dirinya kemungkinan adat nujuh likur dibawa oleh orang Jawa yang bertransmigrasi ke daerah suku serawai menelisik dari etimologi bahasanya “nujuh likur” merupakan bahasa Jawa.

You Might Also Like

Gol Telat Tangiskan Kongo! Kolombia Melaju ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Swasembada Pangan Tercapai, Prabowo Sebut Produksi Beras dan Jagung Pecahkan Rekor
Haru Modric di Laga ke-200 Saat Kroasia Beri Kemenangan Spesial
Royalti Jumbo dari Timah, Bangka Belitung Kebagian Rp 425 Miliar Atas Kontribusi Untuk Negara
Mati Lampu Terulang Lagi? Bahlil Semprot PLN: Penyakit Lama Sejak 2019 Belum Sembuh
Share This Article
Facebook Email Print
Share
ByNatio
Jurnalist and Digital Enthusias
Follow:
Banyak orang meninggalkan kedai kopi untuk bekerja. justru aku mendatangi kedai kopi untuk memulai bekerja. karena bagiku kopi adalah sumber inspirasi.
Previous Article 3 Resep Masak Ketupat dengan Mudah dan Praktis
Next Article Mengenal Sejarah dan Filosofi Ketupat, Sajian Khas saat Idul Fitri
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Inggris Mandek! Tembok Ghana Bongkar PR Besar Three Lions di Piala Dunia 2026

3 hours ago
Pildun 2026Terkini

Ronaldo Bangkit! Portugal Dapat Sinyal Kuat Menuju Gelar Dunia

4 hours ago
Pildun 2026Terkini

Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026

22 hours ago
Pildun 2026Terkini

Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index