By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Mengenal Sejarah dan Filosofi Ketupat, Sajian Khas saat Idul Fitri
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Mengenal Sejarah dan Filosofi Ketupat, Sajian Khas saat Idul Fitri

Terkini

Mengenal Sejarah dan Filosofi Ketupat, Sajian Khas saat Idul Fitri

Natio
By
Natio
ByNatio
Jurnalist and Digital Enthusias
Banyak orang meninggalkan kedai kopi untuk bekerja. justru aku mendatangi kedai kopi untuk memulai bekerja. karena bagiku kopi adalah sumber inspirasi.
Follow:
1 year ago
Share
2 Min Read
SHARE

Ketupat, sajian khas saat Idul Fitri ini, rupanya memiliki sejarah yang amat panjang dan filosofi tersendiri. Berikut sejarah dan filosofi dari ketupat.

Contents
Simbol Rasa SyukurSejarah KetupatFilosofi Ketupat

Ketupat identik dengan momen lebaran Idul Fitri di Indonesia.

Selain jadi makanan khas Lebaran 2023, ketupat juga digunakan masyarakat Jawa dan Bali sebagai salah satu properti pada sebuah acara adat, seperti sekatenan atau grebeg maulud yang masih dilaksanakan hingga kini.

Simbol Rasa Syukur

Makanan ketupat ini, dimaknai sebagai bentuk atau simbol dari rasa syukur masyarakat atas segala pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa.

Terbuat dari beras yang kemudian dimasukan kedalam anyaman daun kelapa muda yang umumnya berbentuk belah ketupat, merupakan sebuah definisi dari ketupat itu sendiri.

Biasanya, ketupat dihidangkan bersama dengan beberapa menu pelengkap lain, seperti opor ayam hingga rendang dan sayur godog.

Sejarah Ketupat

Diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu anggota dari Walisongo, ketupas sangat penuh dengan nilai sejarah.

Bahkan, ketupat merupakan lambang perayaan hari raya Islam pada saat masa kejayaan Kerajaan Demak dibawah pimpinan Raden Patah.

Biasanya, bungkus pada ketupat terbuat dari anyaman daun kelapa yang masih muda, melambangkan identitas warga pesisir yang banyak ditumbuhi oleh pohon kelapa.

Baca Juga :

Bali Jadi Pusat Wisata Gastronomi Dunia, Kemenparekraf Luncurkan Wonderful Indonesia Gourmet
Penuhi Kebutuhan Pekebun, Pemerintah Akan Tingkatkan Dana Replanting Sawit

Bahkan oleh Sunan Kalijaga, ketupat dijadikan media dakwah untuk menyebarkan agama Islam.

Filosofi Ketupat

Ketupat sendiri, diambil dari bahasa Jawa yaitu “laku papat”. dengan arti empat perilaku yang tercermin dari keempat sisi dari ketupat, yaitu lebaran, lubaran, leburan, dan laburan.

Lebaran berasal dari kata “lebar” yang bermakna membukakan pintu maaf sebesar-besarnya atas berbagai kesalahan dari orang lain.

Hingga kini sajian ketupat saat Idul Fitri masih dapat ditemukan dan bertahan hingga kini.

Sebab, Ketupat berbahan dasar beras yang memiliki makna nafsu dunia, sementara janur yang merupakan akronim dari Bahasa Jawa yaitu “jatining nur” memiliki makna filosofis hati nurani.

Saat beras dan janur ini digabungkan menjadi ketupat, bermakna bahwa setiap orang harus bisa mengendalikan nafsu dunia dengan menggunakan hati nurani.

Itulah sejarah dan filososi dari ketupat, sajian khas Lebaran Idul Fitri.

You Might Also Like

Jakarta Darurat Judol. Ribuan Warga Pilih Jalan Spekulasi demi Bertahan Hidup
LRT Velodrome–Manggarai Segera Beroperasi, Tapi Siapkah Manggarai Tampung Lonjakan Penumpang
PT Timah Bantu Bangun Sumur Bor, SMPN 3 Simpang Katis Segera Nikmati Akses Air Bersih
Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!
Share This Article
Facebook Email Print
Share
ByNatio
Jurnalist and Digital Enthusias
Follow:
Banyak orang meninggalkan kedai kopi untuk bekerja. justru aku mendatangi kedai kopi untuk memulai bekerja. karena bagiku kopi adalah sumber inspirasi.
Previous Article Nujuh Likur, Tradisi Suku Serawai Bengkulu untuk Sambut Hari Raya Idul Fitri
Next Article Resmi! Pemerintah Tetapkan Lebaran 2023 Pada 22 April
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Hadapi Musim Kemarau, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Nasional Tetap Aman

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Argentina Terlalu Tangguh untuk Swiss, Jadi Penyelamat Amerika Latin di Piala Dunia 2026

2 days ago
Pildun 2026Terkini

Inggris Tunjukkan Mental Juara, Singkirkan Norwegia dan Melaju ke Semifinal

2 days ago
Internasional

Konflik AS-Iran Memanas, PBB Ingatkan Ancaman bagi Stabilitas Dunia

4 days ago
Internasional

Cuaca Ekstrem Melanda Korea Selatan, Pemerintah Tetapkan Siaga Gelombang Panas Level Peringatan

4 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index