INVERSI.ID – Pemerintah Iran menargetkan pemulihan sebagian besar kapasitas fasilitas pengolahan dan distribusi minyak yang mengalami kerusakan akibat serangan dalam waktu relatif singkat.
Wakil Menteri Perminyakan Iran, Mohammad Sadeq Azimifar, menyampaikan bahwa pihaknya optimistis mampu mengembalikan sekitar 70 hingga 80 persen kapasitas operasional dalam kurun satu hingga dua bulan ke depan.
“Untuk sebagian besar infrastruktur pengolahan dan distribusi yang rusak, kami dapat memulihkan 70-80 persen dari kapasitas sebelumnya dalam waktu satu hingga dua bulan, dan kemudian dalam jangka menengah hingga panjang, kami dapat memulihkan 100 persen kapasitas seperti sebelum penyerbuan Amerika Serikat-Israel,” ujar Azimifar seperti dikutip kantor berita Iran SNN.
Kerusakan tersebut terjadi setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah titik strategis di Iran, termasuk ibu kota Teheran, pada 28 Februari. Serangan itu dilaporkan menimbulkan kerusakan infrastruktur serta korban di kalangan warga sipil.
Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan yang menyasar wilayah Israel serta sejumlah target militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Aksi tersebut diklaim sebagai langkah pertahanan diri.
Di tengah eskalasi konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran. Kesepakatan tersebut disebut berlaku selama dua pekan, terhitung sejak Selasa (7/4).
Situasi ini menjadi perhatian global, mengingat stabilitas sektor energi Iran memiliki dampak signifikan terhadap pasokan minyak dunia.