INVERSI.ID – Gen Z terjebak utang kini menjadi isu yang semakin ramai diperbincangkan. Generasi Z, yakni mereka yang lahir pada 1997–2012 atau saat ini berusia 13–28 tahun, menghadapi tantangan finansial serius akibat pola hidup konsumtif dan ketergantungan pada layanan pinjaman digital. Data terbaru menunjukkan 61,7 persen anak muda tidak memiliki dana darurat, sementara perilaku boros dan kebiasaan berutang justru memperburuk kondisi keuangan mereka.
Fenomena Gen Z terjebak utang ini tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga mulai merambah daerah. Banyak anak muda yang masih berstatus pelajar maupun mahasiswa ikut menggunakan fasilitas kredit instan, paylater, hingga pinjaman online tanpa perhitungan matang. Akibatnya, alih-alih membangun fondasi keuangan sehat, mereka justru terjebak pada lingkaran cicilan yang tidak ada habisnya.
Masalah Gen Z terjebak utang semakin kompleks karena didorong oleh pengaruh media sosial dan tren gaya hidup kekinian. Konten-konten mewah di TikTok atau Instagram kerap menampilkan standar hidup yang sulit dicapai, sehingga mendorong anak muda untuk membeli barang di luar kemampuan finansial mereka.
Penyebab Gen Z Terjebak Utang
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan generasi muda rentan terhadap jeratan utang. Pertama adalah gaya hidup konsumtif. Nongkrong di kafe, belanja online, hingga membeli barang branded sering kali lebih diprioritaskan dibanding kebutuhan dasar. Bagi sebagian Gen Z, memiliki barang kekinian dianggap sebagai simbol eksistensi, padahal secara finansial hal tersebut justru membebani.
Kedua, penggunaan kartu kredit dan layanan paylater menjadi penyumbang besar perilaku boros. Layanan seperti ShopeePay Later, GoPay Pinjam, hingga OVO Paylater kerap digunakan untuk pembelian impulsif. Kemudahan bertransaksi tanpa uang tunai membuat banyak anak muda tidak sadar bahwa cicilan mereka menumpuk.
Ketiga, pengaruh media sosial berperan besar dalam membentuk perilaku konsumtif. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) mendorong anak muda untuk mengikuti tren meski tidak sesuai kondisi keuangan mereka. Konten “haul belanja”, liburan mewah, hingga pamer barang branded menumbuhkan tekanan sosial untuk ikut tampil gaya.
Tidak berhenti di situ, sebagian Gen Z juga terjebak pada perilaku berisiko tinggi seperti judi online dan pinjaman ilegal. Bunga yang mencekik mempercepat penumpukan utang. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengarah pada masalah serius, termasuk kriminalitas atau gangguan kesehatan mental.
Dampak Serius dari Jeratan Utang
Kondisi Gen Z terjebak utang menimbulkan dampak yang sangat serius. Tanpa dana darurat, sebanyak 61,7 persen anak muda tidak siap menghadapi krisis, misalnya kehilangan pekerjaan, sakit mendadak, atau kebutuhan mendesak lain.
Selain itu, arus kas pribadi menjadi berantakan. Gaji atau penghasilan bulanan lebih banyak habis untuk membayar cicilan dibandingkan ditabung atau diinvestasikan. Jika hal ini berlanjut, peluang untuk mencapai kemandirian finansial semakin sulit tercapai.
Dampak lain yang tak kalah penting adalah tekanan psikologis. Stres akibat cicilan menumpuk bisa memicu gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan berlebihan hingga depresi. Beberapa studi bahkan menyebutkan bahwa masalah finansial merupakan salah satu pemicu utama konflik keluarga dan perpecahan rumah tangga.
Solusi agar Gen Z Terbebas dari Jerat Utang
Meski tantangannya besar, masih ada banyak cara agar anak muda bisa keluar dari jerat utang dan membangun masa depan finansial yang lebih sehat.
Pertama, membuat rencana keuangan dengan prinsip SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound). Artinya, tujuan finansial harus jelas, terukur, realistis, relevan dengan kebutuhan, dan memiliki batas waktu pencapaian.
Kedua, penggunaan kartu kredit dan paylater sebaiknya dibatasi. Fasilitas tersebut hanya digunakan untuk kebutuhan mendesak, bukan untuk belanja impulsif. Dengan begitu, risiko cicilan menumpuk bisa diminimalkan.
Ketiga, alokasikan minimal 20 persen dari penghasilan untuk dana darurat, tabungan, atau investasi. Disiplin menabung sejak dini akan membantu menghadapi kondisi tak terduga tanpa perlu berutang.
Keempat, tingkatkan literasi keuangan. Anak muda bisa belajar melalui artikel edukasi, webinar, kelas online, atau program literasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pemahaman yang baik tentang pengelolaan uang akan mencegah keputusan finansial yang salah.
Kelima, peran orang tua dan institusi sangat penting. Orang tua harus mengajarkan kebiasaan menabung sejak dini serta mengawasi penggunaan layanan pinjaman digital oleh anak-anaknya. Di sisi lain, OJK dan pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap fintech lending serta memperluas edukasi literasi keuangan ke seluruh lapisan masyarakat.
Membangun Masa Depan Finansial Gen Z
Meski kini banyak yang terjebak, Gen Z sebenarnya memiliki potensi finansial besar. Mereka adalah generasi yang melek teknologi, adaptif, dan kreatif dalam mencari peluang penghasilan. Jika diarahkan dengan benar, kemampuan ini bisa dimanfaatkan untuk membangun masa depan yang lebih stabil.
Kuncinya ada pada disiplin dan kesadaran diri. Mengurangi gaya hidup konsumtif, memprioritaskan tabungan, serta membatasi penggunaan pinjaman digital akan membantu anak muda terhindar dari lingkaran utang.
Generasi Z harus melihat keuangan bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan pondasi masa depan. Dengan strategi yang tepat, mereka bisa membuktikan bahwa menjadi generasi digital tidak berarti harus terjebak dalam masalah finansial.