By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Paylater, FOMO, dan Jerat Utang, Potret Gen Z di Era Digital
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Paylater, FOMO, dan Jerat Utang, Potret Gen Z di Era Digital

LifeStyle

Paylater, FOMO, dan Jerat Utang, Potret Gen Z di Era Digital

Jack
By
Jack
10 months ago
Share
6 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Gen Z terjebak utang kini menjadi isu yang semakin ramai diperbincangkan. Generasi Z, yakni mereka yang lahir pada 1997–2012 atau saat ini berusia 13–28 tahun, menghadapi tantangan finansial serius akibat pola hidup konsumtif dan ketergantungan pada layanan pinjaman digital. Data terbaru menunjukkan 61,7 persen anak muda tidak memiliki dana darurat, sementara perilaku boros dan kebiasaan berutang justru memperburuk kondisi keuangan mereka.

Contents
Penyebab Gen Z Terjebak UtangDampak Serius dari Jeratan UtangSolusi agar Gen Z Terbebas dari Jerat UtangMembangun Masa Depan Finansial Gen Z

Fenomena Gen Z terjebak utang ini tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga mulai merambah daerah. Banyak anak muda yang masih berstatus pelajar maupun mahasiswa ikut menggunakan fasilitas kredit instan, paylater, hingga pinjaman online tanpa perhitungan matang. Akibatnya, alih-alih membangun fondasi keuangan sehat, mereka justru terjebak pada lingkaran cicilan yang tidak ada habisnya.

Masalah Gen Z terjebak utang semakin kompleks karena didorong oleh pengaruh media sosial dan tren gaya hidup kekinian. Konten-konten mewah di TikTok atau Instagram kerap menampilkan standar hidup yang sulit dicapai, sehingga mendorong anak muda untuk membeli barang di luar kemampuan finansial mereka.

Penyebab Gen Z Terjebak Utang

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan generasi muda rentan terhadap jeratan utang. Pertama adalah gaya hidup konsumtif. Nongkrong di kafe, belanja online, hingga membeli barang branded sering kali lebih diprioritaskan dibanding kebutuhan dasar. Bagi sebagian Gen Z, memiliki barang kekinian dianggap sebagai simbol eksistensi, padahal secara finansial hal tersebut justru membebani.

Kedua, penggunaan kartu kredit dan layanan paylater menjadi penyumbang besar perilaku boros. Layanan seperti ShopeePay Later, GoPay Pinjam, hingga OVO Paylater kerap digunakan untuk pembelian impulsif. Kemudahan bertransaksi tanpa uang tunai membuat banyak anak muda tidak sadar bahwa cicilan mereka menumpuk.

Ketiga, pengaruh media sosial berperan besar dalam membentuk perilaku konsumtif. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) mendorong anak muda untuk mengikuti tren meski tidak sesuai kondisi keuangan mereka. Konten “haul belanja”, liburan mewah, hingga pamer barang branded menumbuhkan tekanan sosial untuk ikut tampil gaya.

Tidak berhenti di situ, sebagian Gen Z juga terjebak pada perilaku berisiko tinggi seperti judi online dan pinjaman ilegal. Bunga yang mencekik mempercepat penumpukan utang. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengarah pada masalah serius, termasuk kriminalitas atau gangguan kesehatan mental.

Dampak Serius dari Jeratan Utang

Kondisi Gen Z terjebak utang menimbulkan dampak yang sangat serius. Tanpa dana darurat, sebanyak 61,7 persen anak muda tidak siap menghadapi krisis, misalnya kehilangan pekerjaan, sakit mendadak, atau kebutuhan mendesak lain.

Selain itu, arus kas pribadi menjadi berantakan. Gaji atau penghasilan bulanan lebih banyak habis untuk membayar cicilan dibandingkan ditabung atau diinvestasikan. Jika hal ini berlanjut, peluang untuk mencapai kemandirian finansial semakin sulit tercapai.

Baca Juga :

Resmi Dukung Prabowo-Gibran, Khofifah Hadiri Debat Cawapres di JCC
Anak Muda Magelang Siap Unjuk Gigi! Pemkot Siapkan Rp260 Juta POPDA Jateng 2025

Dampak lain yang tak kalah penting adalah tekanan psikologis. Stres akibat cicilan menumpuk bisa memicu gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan berlebihan hingga depresi. Beberapa studi bahkan menyebutkan bahwa masalah finansial merupakan salah satu pemicu utama konflik keluarga dan perpecahan rumah tangga.


Solusi agar Gen Z Terbebas dari Jerat Utang

Gen Z.

Meski tantangannya besar, masih ada banyak cara agar anak muda bisa keluar dari jerat utang dan membangun masa depan finansial yang lebih sehat.

Pertama, membuat rencana keuangan dengan prinsip SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound). Artinya, tujuan finansial harus jelas, terukur, realistis, relevan dengan kebutuhan, dan memiliki batas waktu pencapaian.

Kedua, penggunaan kartu kredit dan paylater sebaiknya dibatasi. Fasilitas tersebut hanya digunakan untuk kebutuhan mendesak, bukan untuk belanja impulsif. Dengan begitu, risiko cicilan menumpuk bisa diminimalkan.

Ketiga, alokasikan minimal 20 persen dari penghasilan untuk dana darurat, tabungan, atau investasi. Disiplin menabung sejak dini akan membantu menghadapi kondisi tak terduga tanpa perlu berutang.

Keempat, tingkatkan literasi keuangan. Anak muda bisa belajar melalui artikel edukasi, webinar, kelas online, atau program literasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pemahaman yang baik tentang pengelolaan uang akan mencegah keputusan finansial yang salah.

Kelima, peran orang tua dan institusi sangat penting. Orang tua harus mengajarkan kebiasaan menabung sejak dini serta mengawasi penggunaan layanan pinjaman digital oleh anak-anaknya. Di sisi lain, OJK dan pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap fintech lending serta memperluas edukasi literasi keuangan ke seluruh lapisan masyarakat.


Membangun Masa Depan Finansial Gen Z

Meski kini banyak yang terjebak, Gen Z sebenarnya memiliki potensi finansial besar. Mereka adalah generasi yang melek teknologi, adaptif, dan kreatif dalam mencari peluang penghasilan. Jika diarahkan dengan benar, kemampuan ini bisa dimanfaatkan untuk membangun masa depan yang lebih stabil.

Kuncinya ada pada disiplin dan kesadaran diri. Mengurangi gaya hidup konsumtif, memprioritaskan tabungan, serta membatasi penggunaan pinjaman digital akan membantu anak muda terhindar dari lingkaran utang.

Generasi Z harus melihat keuangan bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan pondasi masa depan. Dengan strategi yang tepat, mereka bisa membuktikan bahwa menjadi generasi digital tidak berarti harus terjebak dalam masalah finansial.

You Might Also Like

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027
Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta
Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos
Harga Avtur Melonjak, Kemenpar dan Kemenhub Cari Cara Jaga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau
Tak Hanya Bali, Kemenpar Genjot 10 Destinasi Prioritas untuk Tarik Wisatawan Mancanegara
TAGGED:FOMOGaya hidupgen zPayLater
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Larangan Media Sosial di Nepal Dicabut Setelah Protes Gen Z Tewaskan 19 Orang
Next Article Flexing ala Gen Z: Konten Mewah Palsu yang Bikin Terjebak Utang
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Beda dengan Wisata Kuliner, Gastronomi Tawarkan Cerita dan Warisan Budaya Nusantara

1 week ago
Travel

Tak Mau Tertinggal dari Vietnam, Indonesia Siapkan Jurus Baru Dongkrak Pariwisata

1 week ago
Travel

Instalasi Sunflower Angel Jadi Magnet Baru di Candi Prambanan, Pengunjung Membludak

2 weeks ago
Travel

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Layani Lebih dari 1,2 Juta Penumpang

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index