By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Penyebab Gen Z Sulit Beli Rumah, Benarkah Karena Gaya Hidup Konsumtif?
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Penyebab Gen Z Sulit Beli Rumah, Benarkah Karena Gaya Hidup Konsumtif?

Terkini

Penyebab Gen Z Sulit Beli Rumah, Benarkah Karena Gaya Hidup Konsumtif?

Jack
By
Jack
10 months ago
Share
7 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Gen Z sulit membeli rumah menjadi topik hangat yang ramai dibahas di media sosial. Baru-baru ini, perbincangan tentang kesenjangan generasi dalam kepemilikan rumah muncul setelah seorang pengguna X menuliskan alasan mengapa anak muda masa kini lebih sulit membeli rumah dibandingkan generasi orangtua mereka. Unggahan tersebut langsung viral, ditonton jutaan kali, dan memicu perdebatan panjang.

Contents
Alasan Viral di Media Sosial: “Ortu Bisa, Kenapa Kita Tidak?”Boros Bukan Penyebab UtamaTantangan Ekonomi yang Dihadapi Gen ZFakta Upah: Banyak yang di Bawah UMPKebijakan Pemerintah Dinilai Tidak BerpihakGenerasi yang Penuh Tantangan

Menurut unggahan yang ramai diperbincangkan itu, Gen Z sulit membeli rumah karena kebiasaan konsumtif. Disebutkan bahwa generasi orangtua dulu bisa membeli rumah karena lebih hemat, tidak hobi nongkrong di kafe, tidak boros belanja online, dan tidak menghabiskan uang untuk konser atau hiburan lainnya. Sementara itu, generasi sekarang dianggap terlalu sering mengeluarkan uang untuk hal-hal yang dianggap “tidak perlu.”

Namun, pandangan ini ternyata tidak sepenuhnya benar. Para pakar menegaskan bahwa masalah Gen Z sulit membeli rumah tidak sesederhana soal gaya hidup. Ada faktor struktural, kebijakan ekonomi, hingga ketidakstabilan pasar yang lebih berpengaruh.

Alasan Viral di Media Sosial: “Ortu Bisa, Kenapa Kita Tidak?”

Unggahan akun @sxt****djfn di X menyoroti alasan mengapa generasi Baby Boomer (1946–1964) dan Generasi X (1965–1980) bisa lebih mudah membeli rumah dibandingkan generasi anak-anak mereka sekarang. Dalam unggahan itu disebutkan, orang tua dulu bisa membeli rumah karena:

  • Polyworking atau punya banyak sumber penghasilan.
  • Tidak sibuk nongkrong di coffee shop.
  • Tidak mudah tergoda barang lucu di toko maupun e-commerce.
  • Tidak self-reward berlebihan.
  • Tidak rajin healing setiap stres.
  • Tidak sering menonton konser.
  • Belum ada tren kuliner kekinian seperti seblak, dimsum, dan mi instan viral.

Unggahan itu kemudian menuai beragam komentar. Ada yang menanggapinya dengan bercanda, menambahkan daftar pengeluaran Gen Z seperti top-up gim online dan langganan aplikasi premium. Namun, ada pula yang menanggapinya dengan data serius.

Salah satu pengguna X mengutip data Numbeo yang menunjukkan PIR (Price to Income Ratio) atau rasio harga rumah terhadap gaji tahunan di Jakarta mencapai 12,98. Artinya, seseorang harus menabung selama hampir 13 tahun tanpa pengeluaran sepeser pun untuk bisa membeli rumah di ibu kota. Fakta ini menjadi bukti bahwa harga rumah semakin tidak terjangkau, terutama bagi generasi muda.

Boros Bukan Penyebab Utama

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menegaskan bahwa alasan Gen Z sulit membeli rumah bukan karena gaya hidup konsumtif. Menurutnya, anggapan bahwa nongkrong di kafe atau membeli kopi setiap hari membuat Gen Z gagal punya rumah hanyalah mitos.

“Tidak ada bukti riset yang menyatakan jajan kopi membuat orang susah mencicil KPR. Yang terjadi adalah Gen Z menghadapi kerentanan struktural,” kata Bhima.

Kerentanan struktural yang dimaksud mencakup kesulitan mendapatkan pekerjaan, rendahnya upah, hingga kebijakan pemerintah yang belum berpihak pada generasi muda. Jadi, meski seseorang hidup hemat sekalipun, hambatan sistemik ini tetap membuat mereka sulit mengejar harga rumah yang terus melonjak.

Baca Juga :

Kunjungan Presiden Tanzania ke Indonesia, Tingkatkan Kerja Sama Investasi hingga Kesehatan
Terinspirasi dari Nenek-Nenek, McDonald’s Luncurkan Grandma McFlurry

Tantangan Ekonomi yang Dihadapi Gen Z

Jika dibandingkan dengan generasi orang tua, Gen Z menghadapi situasi ekonomi yang jauh lebih kompleks. Beberapa faktor yang membuat mereka kesulitan antara lain:

  1. Kesempatan kerja lebih sempit
    Generasi Baby Boomer pada 1960–1970-an relatif lebih mudah mendapatkan pekerjaan formal dengan gaji yang layak. Sementara itu, Gen Z justru masuk ke dunia kerja di tengah persaingan global dan pasar tenaga kerja yang semakin ketat.
  2. Dampak pandemi Covid-19
    Pandemi memperparah situasi dengan menurunkan upah riil dan mengubah struktur ekonomi. Banyak perusahaan memangkas tenaga kerja, sehingga kesempatan Gen Z untuk bekerja dan menabung semakin kecil.
  3. Pendapatan tergerus inflasi dan pungutan wajib
    Upah yang diterima Gen Z sudah lebih rendah secara riil dibanding generasi sebelumnya. Ditambah lagi, beban pajak dan pungutan wajib membuat kemampuan menabung semakin terbatas.

Bhima menegaskan, tren upah riil yang terus menurun pasca pandemi menjadi faktor utama mengapa Gen Z semakin sulit memiliki rumah.


Fakta Upah: Banyak yang di Bawah UMP

Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang diolah CELIOS menunjukkan kualitas kerja penduduk Indonesia menurun. Proporsi pekerja dengan upah di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) meningkat tajam.

Pada 2021, sekitar 63 persen pekerja menerima gaji di bawah UMP. Angka ini melonjak menjadi 84 persen pada 2024, atau sekitar 109 juta pekerja. Situasi ini memperlihatkan betapa beratnya perjuangan anak muda untuk mencapai kestabilan finansial.

Selain itu, banyak pekerja di sektor informal harus bekerja lebih dari 48 jam per minggu. Meski jam kerja panjang, penghasilan yang diterima tidak sebanding dengan kebutuhan hidup, apalagi untuk membeli rumah.

Kebijakan Pemerintah Dinilai Tidak Berpihak

Menurut Bhima, alasan Gen Z sulit membeli rumah bukan sekadar karena gaya hidup boros, melainkan karena kebijakan pemerintah yang kurang berpihak.

“Soal rumah makin tak terjangkau karena pemerintah tidak kendalikan harga tanah dan spekulasi properti. Akibatnya, kenaikan harga rumah jauh melampaui kenaikan gaji Gen Z tiap tahunnya,” jelasnya.

Tanpa kebijakan pengendalian harga properti, pasar terus dikuasai spekulan. Hal ini membuat harga rumah semakin melonjak, sementara kemampuan daya beli generasi muda stagnan.


Generasi yang Penuh Tantangan

Kesimpulannya, Gen Z menghadapi realitas yang jauh berbeda dari generasi orang tua mereka. Jika generasi sebelumnya bisa lebih mudah memiliki rumah berkat stabilitas ekonomi, kesempatan kerja luas, dan harga properti yang masih terjangkau, maka generasi sekarang harus berhadapan dengan tantangan besar berupa inflasi, pasar kerja yang ketat, serta harga properti yang melambung tinggi.

Menyalahkan gaya hidup boros hanya akan menyederhanakan masalah. Faktanya, permasalahan ini lebih kompleks dan membutuhkan solusi struktural, seperti peningkatan upah riil, penciptaan lapangan kerja layak, hingga pengendalian harga properti.

Diskusi tentang Gen Z sulit membeli rumah seharusnya tidak berhenti pada persoalan nongkrong atau belanja online. Lebih dari itu, isu ini adalah cerminan ketidakadilan ekonomi yang perlu diperhatikan oleh pembuat kebijakan.

Tanpa intervensi yang serius, generasi muda berpotensi menjadi generasi “tanpa rumah,” yang hanya bisa menyewa atau tinggal berpindah-pindah tanpa kepastian kepemilikan. Padahal, rumah adalah kebutuhan dasar dan salah satu penentu kesejahteraan keluarga di masa depan.

You Might Also Like

Royalti Jumbo dari Timah, Bangka Belitung Kebagian Rp 425 Miliar Atas Kontribusi Untuk Negara
Mati Lampu Terulang Lagi? Bahlil Semprot PLN: Penyakit Lama Sejak 2019 Belum Sembuh
Inggris Mandek! Tembok Ghana Bongkar PR Besar Three Lions di Piala Dunia 2026
Ronaldo Bangkit! Portugal Dapat Sinyal Kuat Menuju Gelar Dunia
Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
TAGGED:Gaya hidupgen zRumah
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Siswi SDN Kemang Berkat Latihan Keras, SDN Kemang Cetak Atlet Cilik Berprestasi yang Bikin Bangga!
Next Article CEO OpenAI Sebut Gen Z Generasi Paling Beruntung di Era AI, Benarkah?
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026

21 hours ago
Pildun 2026Terkini

Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index