INVERSI.ID – Gen Z sulit membeli rumah menjadi topik hangat yang ramai dibahas di media sosial. Baru-baru ini, perbincangan tentang kesenjangan generasi dalam kepemilikan rumah muncul setelah seorang pengguna X menuliskan alasan mengapa anak muda masa kini lebih sulit membeli rumah dibandingkan generasi orangtua mereka. Unggahan tersebut langsung viral, ditonton jutaan kali, dan memicu perdebatan panjang.
Menurut unggahan yang ramai diperbincangkan itu, Gen Z sulit membeli rumah karena kebiasaan konsumtif. Disebutkan bahwa generasi orangtua dulu bisa membeli rumah karena lebih hemat, tidak hobi nongkrong di kafe, tidak boros belanja online, dan tidak menghabiskan uang untuk konser atau hiburan lainnya. Sementara itu, generasi sekarang dianggap terlalu sering mengeluarkan uang untuk hal-hal yang dianggap “tidak perlu.”
Namun, pandangan ini ternyata tidak sepenuhnya benar. Para pakar menegaskan bahwa masalah Gen Z sulit membeli rumah tidak sesederhana soal gaya hidup. Ada faktor struktural, kebijakan ekonomi, hingga ketidakstabilan pasar yang lebih berpengaruh.
Alasan Viral di Media Sosial: “Ortu Bisa, Kenapa Kita Tidak?”
Unggahan akun @sxt****djfn di X menyoroti alasan mengapa generasi Baby Boomer (1946–1964) dan Generasi X (1965–1980) bisa lebih mudah membeli rumah dibandingkan generasi anak-anak mereka sekarang. Dalam unggahan itu disebutkan, orang tua dulu bisa membeli rumah karena:
- Polyworking atau punya banyak sumber penghasilan.
- Tidak sibuk nongkrong di coffee shop.
- Tidak mudah tergoda barang lucu di toko maupun e-commerce.
- Tidak self-reward berlebihan.
- Tidak rajin healing setiap stres.
- Tidak sering menonton konser.
- Belum ada tren kuliner kekinian seperti seblak, dimsum, dan mi instan viral.
Unggahan itu kemudian menuai beragam komentar. Ada yang menanggapinya dengan bercanda, menambahkan daftar pengeluaran Gen Z seperti top-up gim online dan langganan aplikasi premium. Namun, ada pula yang menanggapinya dengan data serius.
Salah satu pengguna X mengutip data Numbeo yang menunjukkan PIR (Price to Income Ratio) atau rasio harga rumah terhadap gaji tahunan di Jakarta mencapai 12,98. Artinya, seseorang harus menabung selama hampir 13 tahun tanpa pengeluaran sepeser pun untuk bisa membeli rumah di ibu kota. Fakta ini menjadi bukti bahwa harga rumah semakin tidak terjangkau, terutama bagi generasi muda.
Boros Bukan Penyebab Utama
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menegaskan bahwa alasan Gen Z sulit membeli rumah bukan karena gaya hidup konsumtif. Menurutnya, anggapan bahwa nongkrong di kafe atau membeli kopi setiap hari membuat Gen Z gagal punya rumah hanyalah mitos.
“Tidak ada bukti riset yang menyatakan jajan kopi membuat orang susah mencicil KPR. Yang terjadi adalah Gen Z menghadapi kerentanan struktural,” kata Bhima.
Kerentanan struktural yang dimaksud mencakup kesulitan mendapatkan pekerjaan, rendahnya upah, hingga kebijakan pemerintah yang belum berpihak pada generasi muda. Jadi, meski seseorang hidup hemat sekalipun, hambatan sistemik ini tetap membuat mereka sulit mengejar harga rumah yang terus melonjak.
Tantangan Ekonomi yang Dihadapi Gen Z
Jika dibandingkan dengan generasi orang tua, Gen Z menghadapi situasi ekonomi yang jauh lebih kompleks. Beberapa faktor yang membuat mereka kesulitan antara lain:
- Kesempatan kerja lebih sempit
Generasi Baby Boomer pada 1960–1970-an relatif lebih mudah mendapatkan pekerjaan formal dengan gaji yang layak. Sementara itu, Gen Z justru masuk ke dunia kerja di tengah persaingan global dan pasar tenaga kerja yang semakin ketat. - Dampak pandemi Covid-19
Pandemi memperparah situasi dengan menurunkan upah riil dan mengubah struktur ekonomi. Banyak perusahaan memangkas tenaga kerja, sehingga kesempatan Gen Z untuk bekerja dan menabung semakin kecil. - Pendapatan tergerus inflasi dan pungutan wajib
Upah yang diterima Gen Z sudah lebih rendah secara riil dibanding generasi sebelumnya. Ditambah lagi, beban pajak dan pungutan wajib membuat kemampuan menabung semakin terbatas.
Bhima menegaskan, tren upah riil yang terus menurun pasca pandemi menjadi faktor utama mengapa Gen Z semakin sulit memiliki rumah.
Fakta Upah: Banyak yang di Bawah UMP
Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang diolah CELIOS menunjukkan kualitas kerja penduduk Indonesia menurun. Proporsi pekerja dengan upah di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) meningkat tajam.
Pada 2021, sekitar 63 persen pekerja menerima gaji di bawah UMP. Angka ini melonjak menjadi 84 persen pada 2024, atau sekitar 109 juta pekerja. Situasi ini memperlihatkan betapa beratnya perjuangan anak muda untuk mencapai kestabilan finansial.
Selain itu, banyak pekerja di sektor informal harus bekerja lebih dari 48 jam per minggu. Meski jam kerja panjang, penghasilan yang diterima tidak sebanding dengan kebutuhan hidup, apalagi untuk membeli rumah.
Kebijakan Pemerintah Dinilai Tidak Berpihak
Menurut Bhima, alasan Gen Z sulit membeli rumah bukan sekadar karena gaya hidup boros, melainkan karena kebijakan pemerintah yang kurang berpihak.
“Soal rumah makin tak terjangkau karena pemerintah tidak kendalikan harga tanah dan spekulasi properti. Akibatnya, kenaikan harga rumah jauh melampaui kenaikan gaji Gen Z tiap tahunnya,” jelasnya.
Tanpa kebijakan pengendalian harga properti, pasar terus dikuasai spekulan. Hal ini membuat harga rumah semakin melonjak, sementara kemampuan daya beli generasi muda stagnan.
Generasi yang Penuh Tantangan
Kesimpulannya, Gen Z menghadapi realitas yang jauh berbeda dari generasi orang tua mereka. Jika generasi sebelumnya bisa lebih mudah memiliki rumah berkat stabilitas ekonomi, kesempatan kerja luas, dan harga properti yang masih terjangkau, maka generasi sekarang harus berhadapan dengan tantangan besar berupa inflasi, pasar kerja yang ketat, serta harga properti yang melambung tinggi.
Menyalahkan gaya hidup boros hanya akan menyederhanakan masalah. Faktanya, permasalahan ini lebih kompleks dan membutuhkan solusi struktural, seperti peningkatan upah riil, penciptaan lapangan kerja layak, hingga pengendalian harga properti.
Diskusi tentang Gen Z sulit membeli rumah seharusnya tidak berhenti pada persoalan nongkrong atau belanja online. Lebih dari itu, isu ini adalah cerminan ketidakadilan ekonomi yang perlu diperhatikan oleh pembuat kebijakan.
Tanpa intervensi yang serius, generasi muda berpotensi menjadi generasi “tanpa rumah,” yang hanya bisa menyewa atau tinggal berpindah-pindah tanpa kepastian kepemilikan. Padahal, rumah adalah kebutuhan dasar dan salah satu penentu kesejahteraan keluarga di masa depan.