By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: CEO OpenAI Sebut Gen Z Generasi Paling Beruntung di Era AI, Benarkah?
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » CEO OpenAI Sebut Gen Z Generasi Paling Beruntung di Era AI, Benarkah?

Terkini

CEO OpenAI Sebut Gen Z Generasi Paling Beruntung di Era AI, Benarkah?

Jack
By
Jack
10 months ago
Share
6 Min Read
Ilustrasi pelajar sedang menggunakan tools AI. (Foto: Pixabay)
SHARE

INVERSI.ID – CEO OpenAI Sam Altman menyebut Gen Z sebagai generasi paling beruntung dalam sejarah karena kecerdasan buatan (AI) justru membuka banyak peluang baru. Pandangan ini hadir di tengah kekhawatiran global bahwa AI akan menggeser peran manusia di dunia kerja. Dalam wawancara di podcast Huge If True bersama Cleo Abram, Altman menekankan bahwa meski ada pekerjaan yang hilang, teknologi justru menghadirkan kesempatan besar bagi generasi muda untuk melahirkan inovasi.

Contents
Gen Z Jadi Generasi Paling Beruntung Menurut Sam AltmanAncaman AI: Hilangnya Pekerjaan dan Krisis Kelas MenengahAntara Peluang dan Tantangan: Siapkah Gen Z?Optimisme atau Kewaspadaan?

CEO OpenAI Sam Altman menilai Gen Z sebagai generasi paling beruntung karena kemampuan mereka beradaptasi dengan era AI. Menurutnya, generasi muda saat ini berada di titik sejarah yang unik, teknologi berkembang sangat cepat, akses ke informasi begitu terbuka, dan kreativitas bisa dieksekusi lebih mudah dibanding masa lalu. Namun, ia juga mengingatkan bahwa perubahan besar dalam dunia kerja adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

CEO OpenAI Sam Altman optimistis bahwa AI membuka peluang luar biasa bagi anak muda untuk berkarya, meski ada ancaman hilangnya sejumlah pekerjaan. Ia menegaskan, yang paling terancam justru kelompok usia lebih tua yang enggan mengikuti pelatihan ulang atau meningkatkan keterampilan. Lalu, seperti apa sebenarnya keberuntungan yang dimaksud Altman, dan apakah semua Gen Z benar-benar siap menghadapinya?

Gen Z Jadi Generasi Paling Beruntung Menurut Sam Altman

Dalam wawancaranya, Altman mengatakan bahwa perkembangan kecerdasan buatan memberi keuntungan besar bagi anak muda. Ia menyebut bahwa saat ini siapa pun bisa mengeksekusi ide kreatif dengan cepat, bahkan membangun perusahaan tanpa harus memiliki tim besar.

“Jika saya lulus kuliah sekarang, saya akan merasa menjadi orang paling beruntung sepanjang zaman,” ungkapnya, dikutip dari Fortune.

Altman melihat bahwa Gen Z memiliki keunggulan alami: lahir dan tumbuh di tengah teknologi digital. Hal ini membuat adaptasi mereka terhadap perubahan jauh lebih mulus dibandingkan generasi sebelumnya. Dari sisi peluang, AI memungkinkan seseorang menciptakan produk inovatif, membangun startup, hingga menghasilkan karya yang bernilai miliaran rupiah dengan biaya lebih efisien.

Meski begitu, Altman tidak menutup mata bahwa kecerdasan buatan akan menghapus sejumlah pekerjaan secara permanen. Beberapa profesi tradisional mungkin tidak lagi relevan, tetapi di saat yang sama, pekerjaan baru bermunculan. Menurutnya, sejarah selalu mencatat bahwa perubahan teknologi memicu pergeseran besar di pasar kerja.


Ancaman AI: Hilangnya Pekerjaan dan Krisis Kelas Menengah

Berbeda dengan optimisme Altman, beberapa tokoh teknologi justru memberi peringatan keras terkait masa depan AI. Mantan petinggi Google X, Mo Gawdat, bahkan memprediksi masa-masa “neraka” akan terjadi sekitar 2027 ketika AI mulai menggantikan pekerjaan kerah putih, mulai dari pengembang perangkat lunak hingga jabatan CEO. Menurutnya, hal ini berpotensi menimbulkan keresahan sosial besar.

“Lima belas tahun ke depan akan menjadi neraka sebelum kita mencapai surga,” kata Gawdat.

Baca Juga :

Jadwal Tayang Drama China The Legend of Shen Li, Full Episode 1-39
Cara Menghafal Cepat Tanpa Begadang: 9 Trik Ampuh yang Terbukti Efektif

Ia menambahkan, jika tidak ada kebijakan yang tepat, kelas menengah bisa lenyap, dan hanya segelintir orang—0,1 persen teratas—yang akan benar-benar diuntungkan dari perkembangan teknologi ini. Dalam skenario terburuk, sebagian besar masyarakat hanya akan menjadi “petani” di tengah dominasi AI.

Peringatan serupa juga disampaikan Geoffrey Hinton, ilmuwan yang dijuluki “bapak AI”. Ia mengingatkan bahwa AI suatu saat bisa mengembangkan bahasa sendiri yang tidak dapat dipahami manusia. Jika itu terjadi, kontrol atas teknologi bisa lepas dari tangan manusia, memicu risiko baru yang sangat besar.

Antara Peluang dan Tantangan: Siapkah Gen Z?

Di satu sisi, AI memang membuka peluang karier baru yang sebelumnya tak pernah ada, mulai dari desainer konten berbasis AI, analis data, hingga pengembang produk kreatif dengan dukungan teknologi pintar. Namun di sisi lain, ancaman kehilangan pekerjaan nyata adanya. Generasi Z dihadapkan pada dilema: apakah mereka bisa memanfaatkan peluang yang muncul, atau justru menjadi korban dari disrupsi besar-besaran.

Sam Altman percaya bahwa kunci utama ada pada kemampuan adaptasi. Gen Z disebut punya modal besar berupa keterampilan digital, keberanian untuk mencoba hal baru, serta kedekatan dengan budaya teknologi. Namun, tanpa dukungan pendidikan yang relevan dan kebijakan pemerintah yang berpihak pada generasi muda, peluang itu bisa saja hanya dinikmati segelintir orang.

Kebijakan publik seperti program pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling) menjadi sangat penting. Negara yang mampu mengelola transisi teknologi dengan baik kemungkinan besar akan memiliki generasi muda yang bukan hanya beruntung, tetapi juga berdaya saing global.


Optimisme atau Kewaspadaan?

Pernyataan Sam Altman bahwa Gen Z adalah generasi paling beruntung bisa dilihat sebagai semangat optimisme sekaligus ajakan agar anak muda tidak takut menghadapi perubahan. Namun, peringatan dari tokoh-tokoh lain seperti Mo Gawdat dan Geoffrey Hinton tidak bisa diabaikan. Masa depan AI menyimpan potensi besar sekaligus ancaman serius.

Bagi Gen Z, keberuntungan itu hanya akan nyata jika mereka mampu beradaptasi, terus belajar, dan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan peluang baru. Jika tidak, kekhawatiran tentang hilangnya pekerjaan, lenyapnya kelas menengah, hingga kendali AI atas kehidupan manusia bisa menjadi kenyataan yang pahit.

You Might Also Like

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!
Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia
Argentina Terlalu Tangguh untuk Swiss, Jadi Penyelamat Amerika Latin di Piala Dunia 2026
Inggris Tunjukkan Mental Juara, Singkirkan Norwegia dan Melaju ke Semifinal
TAGGED:aigen zOpenAI
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Penyebab Gen Z Sulit Beli Rumah, Benarkah Karena Gaya Hidup Konsumtif?
Next Article Fenomena Gen Z di Amerika Serikat Bawa Orang Tua Saat Wawancara Kerja
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

Lolos dari Selat Hormuz! Pertamina Jaga Pasokan 2 Juta Barel Minyak Bagi Ketahanan Energi RI

Korupsi Masuk Jantung Penegak Hukum, Polri Bongkar 3 Mega Kasus

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Internasional

Konflik AS-Iran Memanas, PBB Ingatkan Ancaman bagi Stabilitas Dunia

3 days ago
Internasional

Cuaca Ekstrem Melanda Korea Selatan, Pemerintah Tetapkan Siaga Gelombang Panas Level Peringatan

3 days ago
Pildun 2026Terkini

Mbappe Cs Tampil Super Attacking, Les Bleus Makin Difavoritkan Juara

3 days ago
Pildun 2026Terkini

Messi, Mbappe, Haaland atau Kane? Siapa yang Akan Raih Sepatu Emas Piala Dunia 2026

4 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index