By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: PGRI Jateng Tolak Wacana 6 Hari Sekolah, Ini Alasannya
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » PGRI Jateng Tolak Wacana 6 Hari Sekolah, Ini Alasannya

Pendidikan

PGRI Jateng Tolak Wacana 6 Hari Sekolah, Ini Alasannya

Jack
By
Jack
8 months ago
Share
7 Min Read
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah Muhdi. (Foto: ANTARA/Zuhdiar Laeis)
SHARE

INVERSI.ID – Wacana mengembalikan sistem enam hari sekolah untuk jenjang SMA/SMK di Jawa Tengah kembali ramai dibahas. Namun, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah menegaskan sikap tegas: mereka tidak setuju. Bagi PGRI, kebijakan lima hari sekolah yang ada sekarang sudah paling pas dengan kebutuhan perkembangan anak, guru, dan keluarga.

Contents
Kenapa 5 Hari Sekolah Dinilai Lebih Masuk Akal?Pengawasan Anak Tidak Bisa Dijadikan AlasanPerlukah Kebijakan 6 Hari Sekolah Kembali?

Ketua PGRI Jateng, Muhdi, menjelaskan setelah upacara peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI di Kampus 4 Upgris, Semarang, bahwa lima hari sekolah bukan keputusan asal-asalan. Kebijakan ini dirancang agar ritme hidup anak dan guru lebih seimbang. Ada ruang untuk keluarga, ruang untuk kegiatan sosial, sekaligus ruang untuk pengembangan diri.

“Dari awal lima hari sekolah itu diambil agar anak memiliki dua hari untuk keluarga. Tugas mendidik utama adalah orang tua, sekolah membantu. Anak juga perlu waktu berinteraksi di masyarakat,” katanya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal ruang kelas. Anak tetap butuh kehidupan lain di luar sekolah, mulai dari interaksi sosial sampai kegiatan yang membentuk karakter.

Kenapa 5 Hari Sekolah Dinilai Lebih Masuk Akal?

Menurut Muhdi, apa yang disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, juga sejalan dengan pandangan tersebut. Saat refleksi Hari Guru, sang menteri menegaskan bahwa dalam satu pekan harus ada satu hari khusus untuk pengembangan diri. Hari Sabtu, yang dalam sistem lima hari sekolah menjadi hari libur, adalah waktu yang ideal untuk itu.

Dengan jam belajar yang semakin padat dan tuntutan akademik yang makin tinggi, Sabtu memberi ruang buat guru meningkatkan kompetensi, sambil anak bisa fokus pada hal-hal di luar kurikulum seperti skill tambahan atau istirahat yang mereka butuhkan.

“Menteri juga menyampaikan bahwa tugas utama mendidik anak adalah orang tua. Sekolah atau guru kan prinsipnya adalah membantu. Maka dulu pemerintah mengambil lima hari (sekolah) agar punya dua hari untuk bersama keluarga,” katanya.

Jika dilihat dari berbagai sisi, sistem lima hari sekolah juga dinilai lebih efisien dan relevan.

Untuk anak, dua hari libur adalah kesempatan buat recharge, main, kumpul sama keluarga, atau ikut kegiatan positif lain. Anak-anak SMA maupun SMK sekarang banyak yang ikut ekstrakurikuler di luar sekolah seperti olahraga, musik, atau komunitas kreatif. Kalau Sabtu dipakai sekolah, kapan mereka punya waktu untuk mengasah passion?

Baca Juga :

BPH Migas Dorong Pemda Aktif Percepat Program BBM Satu Harga
Keren! 3 Anak Muda Aceh Ukir Prestasi di Kompetisi Beatbox Internasional Beat Quest 2025

Bagi guru, dua hari tersebut bisa digunakan untuk upgrading kemampuan mengajar, ikut pelatihan, atau menyusun bahan ajar yang lebih kreatif. Guru juga manusia yang butuh istirahat agar tidak burnout.

Untuk orang tua, ritme kerja pada era sekarang sebagian besar liburnya Sabtu dan Minggu. Artinya, sistem lima hari sekolah memberi waktu berkumpul yang lebih sinkron.

Secara ekonomi pun lebih efisien. Muhdi menyebut hal ini penting, terutama karena banyak siswa SMA/SMK yang rumahnya jauh dari sekolah dan harus menggunakan transportasi setiap hari. Mengurangi satu hari perjalanan jelas mengurangi biaya transportasi.

“Terlebih, umumnya orang tua juga saat ini liburnya Sabtu dan Minggu. Berikutnya, anak-anak SMA/SMK itu rata-rata jarak rumah ke sekolah jauh sehingga membutuhkan transportasi. Dengan lima hari sekolah, lebih efisien,” katanya.

Pengawasan Anak Tidak Bisa Dijadikan Alasan

Salah satu alasan yang memunculkan wacana kembali ke enam hari sekolah adalah kekhawatiran soal pengawasan anak ketika mereka libur dua hari. Namun, PGRI Jateng menilai alasan itu kurang tepat.

Pengawasan terhadap anak bukan hanya urusan sekolah. Itu tanggung jawab orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar. Sekolah hanya membantu, bukan mengambil alih seluruh proses pengasuhan.

PGRI juga sudah menyampaikan masukan resmi kepada pemerintah provinsi tentang hal ini. Termasuk melalui perwakilan mereka dalam forum diskusi beberapa waktu lalu.

“Kami berharap pemerintah tidak mengubah kebijakan hanya karena pertimbangan sesaat. PGRI jelas menolak pemberlakuan enam hari sekolah. Apa yang sudah ada ini berjalan baik, mari kita kembangkan,” kata Muhdi, yang juga anggota DPD RI.

Ia menegaskan bahwa dunia anak tidak hanya tentang buku, tugas, dan evaluasi. Anak SMA/SMK sedang berada di fase penting untuk menemukan minat dan bakat mereka. Ketika sekolah mengambil hampir seluruh waktu mereka, kesempatan untuk mengenal apa yang mereka sukai bisa hilang.

Waktu luang sangat penting buat anak menemukan jati diri. Tidak sedikit anak yang menemukan jalan hidup lewat hal-hal yang mereka lakukan di luar sekolah, seperti olahraga, musik, desain, coding, atau organisasi ruang publik lainnya.

“Kalau tidak ada waktu luang, bagaimana anak berlatih sepak bola, bulu tangkis, atau mengasah potensi yang justru bisa menjadi jalan sukses mereka,” pungkasnya.

Dengan kata lain, lima hari sekolah memberi ruang buat anak berkembang secara utuh, bukan hanya secara akademik.

Perlukah Kebijakan 6 Hari Sekolah Kembali?

Pertanyaannya sekarang, apakah wacana enam hari sekolah masih relevan? Di tengah perubahan pola hidup, ritme kerja orang tua, dan kebutuhan anak muda saat ini, sistem lima hari sekolah dianggap lebih humanis, lebih efisien, dan lebih sesuai dengan tantangan zaman.

Anak-anak bukan robot yang belajar 24 jam. Mereka butuh waktu untuk berkembang secara sosial, emosional, dan fisik. Guru pun bukan mesin pengajar. Mereka membutuhkan ruang untuk terus belajar agar kualitas pendidikan meningkat.

Pilihan PGRI Jateng menolak penerapan kembali enam hari sekolah bukan berarti menolak perubahan. Justru mereka ingin memastikan perubahan yang diambil berdasarkan pertimbangan mendalam dan data yang kuat, bukan sekadar mengikuti wacana sesaat.

Pada akhirnya, pendidikan adalah investasi jangka panjang. Apa pun kebijakannya, harus didesain sesuai kebutuhan anak masa kini. Jika lima hari sekolah sudah bekerja dengan baik dan membuka ruang pertumbuhan lebih luas, tidak ada alasan untuk kembali ke sistem lama.

You Might Also Like

Beasiswa Garuda Tak Sekadar Kuliah, Mahasiswa Diminta Bangun Ekosistem Riset Nasional
Program Sekolah Rakyat Dikebut, Kemensos Ingatkan Pentingnya Tata Kelola yang Transparan
Prabowo Dukung Kampus IIT dan IIM Berdiri di Indonesia, Perkuat Pendidikan Nasional
Beasiswa LPDP Tahap II 2026 Resmi Dibuka, Ini Jadwal, Program, dan Syarat Terbarunya
Ini Respons Akademisi Saat Bahlil Tantang Kampus Uji Kebijakan Energi di KSTI 2026
TAGGED:JatengPGRISekolah
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Rekrutmen Teroris Lewat Game Online, Ancaman Baru Buat Anak Muda
Next Article Jaksa Agung dan Menpora Teken MoU Penegakan Hukum di Bidang Kepemudaan dan Keolahragaan. (Foto: badiklat.kejaksaan.go.id) Jaksa Agung dan Menpora Sepakat Perkuat Penegakan Hukum di Sektor Pemuda dan Olahraga
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pendidikan

Dari Aceh hingga Papua, SMA Unggul Garuda Antar Ratusan Siswa ke Universitas Kelas Dunia

3 weeks ago
Pendidikan

Kabar Baik! 80 Ribu Pelajar SMA/SMK Swasta di Jabar Dapat Bantuan Pendidikan

3 weeks ago
Pendidikan

Pemerintah Resmi Umumkan 307 Siswa Lolos SMA Unggul Garuda Baru Tahun Ajaran 2026/2027

3 weeks ago
Pendidikan

Peluang Kuliah Dalam dan Luar Negeri Makin Terbuka Lewat Portal Beasiswa Baru

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index