By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Quiet Covering dan Dampaknya bagi Karier Generasi Muda
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Quiet Covering dan Dampaknya bagi Karier Generasi Muda

LifeStyle

Quiet Covering dan Dampaknya bagi Karier Generasi Muda

Jack
By
Jack
10 months ago
Share
7 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Quiet covering di tempat kerja kini menjadi fenomena yang semakin sering ditemui, termasuk di kalangan Gen Z yang baru saja memasuki dunia profesional. Quiet covering merujuk pada kecenderungan karyawan untuk menyembunyikan sebagian dari diri mereka agar bisa diterima di lingkungan kerja, terhindar dari stereotip, serta lebih mudah mendapatkan promosi. Fenomena ini bukan hanya persoalan pribadi, tetapi sudah berkembang menjadi isu serius yang memengaruhi produktivitas, kesehatan mental, hingga iklim kerja di banyak perusahaan.

Contents
Asal-usul dan Dampak Quiet CoveringQuiet Covering Versi Gen ZBagaimana Perusahaan Harus Menyikapinya?

Quiet covering di tempat kerja bahkan terungkap dalam survei yang dilakukan lembaga pelatihan karier Attensi terhadap 2.000 karyawan dari berbagai industri dan kelompok usia. Hasilnya menunjukkan 58 persen responden mengaku melakukannya. Data ini menandakan adanya krisis tersembunyi dalam dunia kerja, di mana banyak pekerja merasa harus menutupi identitas, kompetensi, maupun pengalaman mereka demi bertahan.

Quiet covering di tempat kerja umumnya dilakukan dengan alasan untuk menyembunyikan kesenjangan pengetahuan atau keterampilan agar terhindar dari penilaian buruk. Hampir setengah karyawan yang disurvei mengaku berpura-pura memahami sesuatu saat bekerja, sementara 40 persen lainnya memilih tidak meminta bantuan meski sebenarnya tidak tahu cara menyelesaikan tugas. Hal ini menunjukkan adanya budaya kerja yang kurang mendukung kejujuran dan kolaborasi terbuka.

Asal-usul dan Dampak Quiet Covering

Istilah quiet covering pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Kenji Yoshino, seorang peneliti hukum dari Amerika Serikat. Ia mendefinisikan praktik ini sebagai upaya individu untuk menyembunyikan aspek pribadi mereka agar sesuai dengan lingkungan kerja atau menghindari diskriminasi. Bentuk quiet covering bisa bermacam-macam, mulai dari meminimalkan identitas ras, etnis, gender, orientasi seksual, usia, agama, hingga kondisi kesehatan tertentu.

Pada tingkat tertentu, quiet covering memang dianggap sebagai bentuk adaptasi. Karyawan bisa menyesuaikan diri dengan norma sosial atau budaya kerja yang berlaku. Namun, ketika hal ini dilakukan terus-menerus, dampaknya bisa berbahaya. Pekerja rentan mengalami stres, kelelahan, perasaan terasing, bahkan menurunnya kepuasan kerja. Tidak hanya individu yang dirugikan, perusahaan juga akan kehilangan produktivitas, kreativitas, dan inovasi.

Sebuah studi dari Hu-X x Hi-Bob menemukan bahwa mayoritas karyawan yang melakukan quiet covering justru berada di level manajerial atau pimpinan senior. Sebanyak 55 persen responden yang menjabat pimpinan senior dan 54 persen manajer operasional mengaku sering menutupi identitas mereka. Ada yang menutupi usia karena menjadi karyawan tertua di tim, ada pula yang menutupi kondisi kesehatan seperti attention deficit disorder (ADD). Bahkan, ada pekerja yang berbohong tentang status vaksinasi karena takut terhadap konsekuensi di tempat kerja.


Quiet Covering Versi Gen Z

Generasi Z menjadi kelompok yang paling sering melakukan quiet covering. Studi menunjukkan Gen Z dua kali lebih mungkin dibandingkan Boomer untuk menyembunyikan sebagian dari diri mereka. Bahkan, 56 persen dari Gen Z sudah melakukannya sejak proses rekrutmen, misalnya dengan menyembunyikan kondisi kesehatan mental atau pengalaman pribadi yang dianggap tidak sesuai dengan citra profesional.

Tia Katz, pendiri firma konsultan Hu-X, menyebut bahwa Gen Z kerap menyembunyikan isu kesehatan mental, kebiasaan merawat diri, atau masa lalu mereka agar terlihat lebih kuat secara profesional. Menurutnya, sikap ini adalah bentuk perlindungan diri yang muncul dari tuntutan lingkungan kerja yang serba aktif, kompetitif, dan menilai kinerja berdasarkan kepercayaan diri serta antusiasme yang tampak di permukaan.

Namun, pola ini ternyata justru kontraproduktif. Alih-alih berkembang, energi Gen Z terkuras untuk menjaga citra dan mengelola persepsi. Akibatnya, kreativitas berkurang, rasa percaya diri melemah, dan pertumbuhan karier menjadi terhambat. Studi Hu-X x Hi-Bob bahkan merinci tujuh dampak quiet covering bagi Gen Z di tempat kerja, yaitu:

Baca Juga :

Pocari Sweat Run 2026 Diproyeksikan Jadi Pengungkit Sport Tourism dan Ekonomi Nasional
Biodata dan Profil Pemeran Amidst A Snowstorm of Love
  1. Menyebabkan stres sedang hingga berat (64 persen).
  2. Mengurangi produktivitas dan efisiensi (54 persen).
  3. Menghambat kemajuan karier (40 persen).
  4. Mengurangi peran di perusahaan (56 persen).
  5. Berdampak pada kehidupan pribadi di luar pekerjaan (43 persen).
  6. Membatasi kreativitas dan inovasi (55 persen).
  7. Menurunkan kinerja secara keseluruhan (47 persen).

Selain itu, survei dari PR Newswire menunjukkan karyawan Gen Z sering memanfaatkan teknologi seperti AI untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, misalnya meringkas rapat atau membuat kode. Namun, banyak yang melakukannya diam-diam tanpa memberi tahu atasan. Hal ini didorong oleh rasa takut akan kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi, serta ketidakjelasan kebijakan perusahaan terkait penggunaan AI. Sayangnya, penggunaan aplikasi pribadi secara sembunyi-sembunyi juga menimbulkan risiko keamanan data bagi perusahaan.

Menurut Katz, semua fakta ini menunjukkan bahwa Gen Z menghadapi tekanan besar untuk menyesuaikan diri dan membuktikan kredibilitas mereka. Sayangnya, strategi menutupi identitas justru membawa risiko bagi diri mereka maupun organisasi. Perusahaan bisa kehilangan potensi kreativitas, inovasi, dan keterlibatan yang lahir dari keaslian individu.


Bagaimana Perusahaan Harus Menyikapinya?

Fenomena quiet covering di tempat kerja seharusnya dipandang perusahaan bukan sebagai bentuk perlawanan, melainkan respons adaptif terhadap tuntutan lingkungan kerja. Gen Z, misalnya, tidak ingin sepenuhnya menyembunyikan diri, tetapi ingin dilihat dan dihargai atas kontribusi unik mereka.

Perusahaan bisa menciptakan ruang kerja yang lebih inklusif dengan memberi kebebasan bagi karyawan untuk menunjukkan identitasnya tanpa takut diskriminasi. Budaya transparansi, empati, serta kepemimpinan yang terbuka menjadi kunci agar quiet covering tidak menjadi praktik yang menggerus produktivitas.

Jika perusahaan gagal menanganinya, dampak jangka panjangnya bisa sangat merugikan. Tingginya tingkat stres, rendahnya loyalitas, dan turunnya keterlibatan karyawan akan berimbas pada performa bisnis. Sebaliknya, dengan membuka ruang dialog dan memberikan dukungan, perusahaan tidak hanya menjaga kesehatan mental karyawan tetapi juga mendapatkan manfaat berupa kreativitas, inovasi, dan retensi tenaga kerja yang lebih baik.

Quiet covering memang sering dianggap sebagai strategi bertahan hidup di dunia kerja modern. Namun, praktik ini menyisakan dampak negatif yang tidak boleh diabaikan. Khususnya bagi Gen Z, fenomena ini adalah cermin bahwa generasi muda membutuhkan lingkungan kerja yang lebih sehat, inklusif, dan ramah terhadap keaslian diri.

You Might Also Like

Wisata Indonesia Makin Bergairah, Kunjungan Turis Asing dan Wisnus Kompak Meningkat
Komdigi: Akun Influencer Daerah Jadi Target Utama Spam Judi Online di Media Sosial
WhatsApp Bakal Hadirkan Fitur Username, Chat Tanpa Perlu Bagikan Nomor Telepon
Indonesia Kejar Posisi Teratas GMTI 2026, Kemenpar Perkuat Promosi Wisata Halal
Pemerintah Jepang Resmi Usulkan Sistem Dua Ibu Kota untuk Kurangi Sentralisasi Tokyo
TAGGED:Generasi mudaKarierQuiet Covering
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Mengenal Gaya Hidup Solo Hangout dan Self-Date yang Makin Populer di Kalangan Anak Muda
Next Article 7 Konser Musik Gratis di Jakarta Akhir Pekan Ini, Catat Jadwalnya!
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Kebijakan Bebas Visa Dinilai Jadi Kunci Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Indonesia

3 weeks ago
Travel

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027

4 weeks ago
Travel

Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta

4 weeks ago
LifeStyleTerkini

Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index