INVERSI.ID – Quiet covering di tempat kerja kini menjadi fenomena yang semakin sering ditemui, termasuk di kalangan Gen Z yang baru saja memasuki dunia profesional. Quiet covering merujuk pada kecenderungan karyawan untuk menyembunyikan sebagian dari diri mereka agar bisa diterima di lingkungan kerja, terhindar dari stereotip, serta lebih mudah mendapatkan promosi. Fenomena ini bukan hanya persoalan pribadi, tetapi sudah berkembang menjadi isu serius yang memengaruhi produktivitas, kesehatan mental, hingga iklim kerja di banyak perusahaan.
Quiet covering di tempat kerja bahkan terungkap dalam survei yang dilakukan lembaga pelatihan karier Attensi terhadap 2.000 karyawan dari berbagai industri dan kelompok usia. Hasilnya menunjukkan 58 persen responden mengaku melakukannya. Data ini menandakan adanya krisis tersembunyi dalam dunia kerja, di mana banyak pekerja merasa harus menutupi identitas, kompetensi, maupun pengalaman mereka demi bertahan.
Quiet covering di tempat kerja umumnya dilakukan dengan alasan untuk menyembunyikan kesenjangan pengetahuan atau keterampilan agar terhindar dari penilaian buruk. Hampir setengah karyawan yang disurvei mengaku berpura-pura memahami sesuatu saat bekerja, sementara 40 persen lainnya memilih tidak meminta bantuan meski sebenarnya tidak tahu cara menyelesaikan tugas. Hal ini menunjukkan adanya budaya kerja yang kurang mendukung kejujuran dan kolaborasi terbuka.
Asal-usul dan Dampak Quiet Covering
Istilah quiet covering pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Kenji Yoshino, seorang peneliti hukum dari Amerika Serikat. Ia mendefinisikan praktik ini sebagai upaya individu untuk menyembunyikan aspek pribadi mereka agar sesuai dengan lingkungan kerja atau menghindari diskriminasi. Bentuk quiet covering bisa bermacam-macam, mulai dari meminimalkan identitas ras, etnis, gender, orientasi seksual, usia, agama, hingga kondisi kesehatan tertentu.
Pada tingkat tertentu, quiet covering memang dianggap sebagai bentuk adaptasi. Karyawan bisa menyesuaikan diri dengan norma sosial atau budaya kerja yang berlaku. Namun, ketika hal ini dilakukan terus-menerus, dampaknya bisa berbahaya. Pekerja rentan mengalami stres, kelelahan, perasaan terasing, bahkan menurunnya kepuasan kerja. Tidak hanya individu yang dirugikan, perusahaan juga akan kehilangan produktivitas, kreativitas, dan inovasi.
Sebuah studi dari Hu-X x Hi-Bob menemukan bahwa mayoritas karyawan yang melakukan quiet covering justru berada di level manajerial atau pimpinan senior. Sebanyak 55 persen responden yang menjabat pimpinan senior dan 54 persen manajer operasional mengaku sering menutupi identitas mereka. Ada yang menutupi usia karena menjadi karyawan tertua di tim, ada pula yang menutupi kondisi kesehatan seperti attention deficit disorder (ADD). Bahkan, ada pekerja yang berbohong tentang status vaksinasi karena takut terhadap konsekuensi di tempat kerja.
Quiet Covering Versi Gen Z
Generasi Z menjadi kelompok yang paling sering melakukan quiet covering. Studi menunjukkan Gen Z dua kali lebih mungkin dibandingkan Boomer untuk menyembunyikan sebagian dari diri mereka. Bahkan, 56 persen dari Gen Z sudah melakukannya sejak proses rekrutmen, misalnya dengan menyembunyikan kondisi kesehatan mental atau pengalaman pribadi yang dianggap tidak sesuai dengan citra profesional.
Tia Katz, pendiri firma konsultan Hu-X, menyebut bahwa Gen Z kerap menyembunyikan isu kesehatan mental, kebiasaan merawat diri, atau masa lalu mereka agar terlihat lebih kuat secara profesional. Menurutnya, sikap ini adalah bentuk perlindungan diri yang muncul dari tuntutan lingkungan kerja yang serba aktif, kompetitif, dan menilai kinerja berdasarkan kepercayaan diri serta antusiasme yang tampak di permukaan.
Namun, pola ini ternyata justru kontraproduktif. Alih-alih berkembang, energi Gen Z terkuras untuk menjaga citra dan mengelola persepsi. Akibatnya, kreativitas berkurang, rasa percaya diri melemah, dan pertumbuhan karier menjadi terhambat. Studi Hu-X x Hi-Bob bahkan merinci tujuh dampak quiet covering bagi Gen Z di tempat kerja, yaitu:
- Menyebabkan stres sedang hingga berat (64 persen).
- Mengurangi produktivitas dan efisiensi (54 persen).
- Menghambat kemajuan karier (40 persen).
- Mengurangi peran di perusahaan (56 persen).
- Berdampak pada kehidupan pribadi di luar pekerjaan (43 persen).
- Membatasi kreativitas dan inovasi (55 persen).
- Menurunkan kinerja secara keseluruhan (47 persen).
Selain itu, survei dari PR Newswire menunjukkan karyawan Gen Z sering memanfaatkan teknologi seperti AI untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, misalnya meringkas rapat atau membuat kode. Namun, banyak yang melakukannya diam-diam tanpa memberi tahu atasan. Hal ini didorong oleh rasa takut akan kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi, serta ketidakjelasan kebijakan perusahaan terkait penggunaan AI. Sayangnya, penggunaan aplikasi pribadi secara sembunyi-sembunyi juga menimbulkan risiko keamanan data bagi perusahaan.
Menurut Katz, semua fakta ini menunjukkan bahwa Gen Z menghadapi tekanan besar untuk menyesuaikan diri dan membuktikan kredibilitas mereka. Sayangnya, strategi menutupi identitas justru membawa risiko bagi diri mereka maupun organisasi. Perusahaan bisa kehilangan potensi kreativitas, inovasi, dan keterlibatan yang lahir dari keaslian individu.
Bagaimana Perusahaan Harus Menyikapinya?
Fenomena quiet covering di tempat kerja seharusnya dipandang perusahaan bukan sebagai bentuk perlawanan, melainkan respons adaptif terhadap tuntutan lingkungan kerja. Gen Z, misalnya, tidak ingin sepenuhnya menyembunyikan diri, tetapi ingin dilihat dan dihargai atas kontribusi unik mereka.
Perusahaan bisa menciptakan ruang kerja yang lebih inklusif dengan memberi kebebasan bagi karyawan untuk menunjukkan identitasnya tanpa takut diskriminasi. Budaya transparansi, empati, serta kepemimpinan yang terbuka menjadi kunci agar quiet covering tidak menjadi praktik yang menggerus produktivitas.
Jika perusahaan gagal menanganinya, dampak jangka panjangnya bisa sangat merugikan. Tingginya tingkat stres, rendahnya loyalitas, dan turunnya keterlibatan karyawan akan berimbas pada performa bisnis. Sebaliknya, dengan membuka ruang dialog dan memberikan dukungan, perusahaan tidak hanya menjaga kesehatan mental karyawan tetapi juga mendapatkan manfaat berupa kreativitas, inovasi, dan retensi tenaga kerja yang lebih baik.
Quiet covering memang sering dianggap sebagai strategi bertahan hidup di dunia kerja modern. Namun, praktik ini menyisakan dampak negatif yang tidak boleh diabaikan. Khususnya bagi Gen Z, fenomena ini adalah cermin bahwa generasi muda membutuhkan lingkungan kerja yang lebih sehat, inklusif, dan ramah terhadap keaslian diri.