Halo Inversi! Kota Pasuruan kembali diramaikan dengan semangat kompetisi olahraga, kali ini lewat ajang Lomba Olahraga Masyarakat yang berlangsung di Lapangan Krampyangan.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Pasuruan, M. Nawawi atau akrab disapa Mas Nawawi, dan sukses menghadirkan energi positif dari ratusan pelajar SMP se-Kota Pasuruan.
400 Peserta Tunjukkan Skill di Tiga Cabang Olahraga Tradisional
Sekitar 400 peserta dari berbagai SMP ikut ambil bagian dalam lomba ini. Uniknya, cabang olahraga yang dipertandingkan bukan olahraga modern, melainkan permainan tradisional khas nusantara yang sarat makna kebersamaan. Ada egrand, hadang, hingga dagongan alias tarik tambang bambu yang jadi sorotan utama.
Buat banyak pelajar, ini bukan sekadar lomba, tapi juga nostalgia dengan permainan yang biasanya dimainkan di lapangan kampung. Bedanya, kali ini suasananya lebih megah dengan sorakan penonton dan dukungan sekolah masing-masing.
Dalam sambutannya, Mas Nawawi menegaskan bahwa ajang ini bukan hanya hiburan, melainkan wadah nyata untuk menyalurkan minat dan bakat para siswa.
“Ini kesempatan emas bagi kalian untuk menyalurkan bakat di bidang olahraga. Harapannya, dari sini akan lahir prestasi-prestasi ke depan,” ujar Mas Nawawi dengan penuh semangat.
Menurutnya, olahraga tradisional tidak kalah penting dibanding olahraga populer lainnya. Selain melatih fisik, olahraga ini juga melatih strategi, kerja sama, hingga sportivitas yang jadi nilai penting dalam kehidupan sehari-hari.
Olahraga Jadi Ruang Kebersamaan
Mas Nawawi juga menekankan, olahraga bukan hanya soal kemenangan, tapi tentang membangun komunikasi dan solidaritas. “Dengan olahraga, kita bisa memperkuat komunitas dan komunikasi antar siswa. Semoga kegiatan ini membuat Kota Pasuruan semakin aman, rukun, dan nyaman untuk kita semua,” tambahnya.
Pernyataan ini sejalan dengan tujuan besar kegiatan, yaitu menjadikan olahraga tradisional sebagai sarana untuk mempererat persaudaraan antar pelajar di tengah era modern yang serba digital.
Suasana di Lapangan Krampyangan hari itu benar-benar meriah. Para peserta tampil dengan wajah serius, penuh strategi, tapi tetap diselingi canda tawa khas anak muda. Terlihat beberapa tim kompak dengan yel-yel unik, sementara yang lain saling menyemangati di pinggir lapangan.
Salah satu peserta, Andi, siswa kelas 8, mengaku senang bisa ikut lomba. “Biasanya main hadang cuma di rumah sama teman-teman, sekarang bisa ikut lomba resmi. Seru banget, apalagi bisa ketemu banyak teman dari sekolah lain,” katanya.
Ajang Lestarikan Budaya, Cetak Generasi Berprestasi
Lebih dari sekadar lomba, kegiatan ini juga jadi bukti bahwa pemerintah daerah serius melestarikan budaya tradisional. Permainan seperti hadang dan dagongan punya nilai sejarah panjang yang perlu dikenalkan lagi ke generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.
Dengan melibatkan pelajar, Pemkot Pasuruan ingin menunjukkan bahwa olahraga tradisional tetap relevan, bahkan bisa jadi media pembentukan karakter dan pencetak prestasi.
Di akhir acara pembukaan, Mas Nawawi berpesan agar para pelajar menjadikan ajang ini sebagai pengalaman berharga. “Ingat, kemenangan sejati bukan hanya soal juara, tapi bagaimana kalian berproses, belajar sportif, dan membangun mental juara,” pungkasnya.
Lomba olahraga tradisional ini diharapkan bisa terus berlanjut setiap tahun, bahkan bisa diperluas ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan begitu, semangat sportivitas, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya lokal bisa terus tumbuh di kalangan generasi muda.