INVERSI.ID – Remaja 14 tahun Elias asal Burton-upon-Trent, Staffordshire, mencetak sejarah luar biasa setelah lulus ujian A-level empat tahun lebih cepat dari biasanya dan diterima di Imperial College London. Kisahnya menjadi bukti bahwa usia muda bukanlah batasan untuk menorehkan prestasi akademik internasional.
Remaja 14 tahun Elias resmi dipastikan akan memulai kuliah di Imperial College London pada akhir September 2025 dengan jurusan biomedical engineering. Pencapaian ini semakin mencengangkan karena ia mengantongi empat nilai A* dan satu A dalam ujian A-level—ujian yang biasanya baru ditempuh siswa pada usia 18 tahun.
Lebih hebat lagi, remaja 14 tahun Elias menjalani seluruh proses pendidikannya melalui homeschooling sejak pandemi Covid-19. Bukan hanya dirinya, sang adik Ariel yang baru berusia 11 tahun juga menorehkan prestasi akademik yang mengesankan dan siap menyusul jejak kakaknya.
Perjalanan Elias Menuju Imperial College London
Kesuksesan Elias tidak diraih secara instan. Sejak kecil, ia dikenal disiplin dalam belajar. Dengan sistem homeschooling yang dibimbing langsung oleh kakak-kakaknya, Clara dan Juliana, Elias mampu melesat lebih cepat dari anak-anak seusianya.
Sebelumnya, Elias sudah mencatat nilai sempurna (grade 9) dalam GCSE English. Tahun lalu, ia berhasil meraih tiga A dalam mata pelajaran kimia, matematika, dan fisika. Tahun ini, ia menambah satu A di matematika lanjutan serta satu A di biologi.
“Saya sangat bersemangat dan juga agak gugup, tapi saya benar-benar menantikannya. Kakak-kakak saya juga bisa membantu karena mereka kuliah di Imperial, jadi akan menyenangkan bisa pergi bersama mereka,” ujar Elias penuh antusias dikutip dari BBC.
Tidak lupa, remaja 14 tahun juga mengucapkan rasa terima kasih kepada keluarganya.
“Saya sangat berterima kasih kepada kakak-kakak dan seluruh keluarga saya atas dukungan mereka. Mereka benar-benar banyak membantu sepanjang perjalanan pendidikan saya.”
Ariel, Adik Elias yang Tak Kalah Hebat
Jika Elias sukses di usia remaja 14 tahun, sang adik Ariel yang baru berusia 11 tahun juga tidak kalah cemerlang. Tahun lalu, Ariel meraih nilai 9 dalam ujian GCSE untuk matematika dan kimia. Tahun ini, ia kembali mengukir prestasi dengan nilai 9 di matematika lanjutan dan fisika, serta nilai 8 di biologi.
Yang lebih mengejutkan, Ariel mengambil GCSE satu tahun lebih awal dibanding kakaknya. Kini, ia sudah mulai mempelajari empat mata pelajaran utama di tingkat A-level, yakni matematika, biologi, kimia, dan fisika.
“Saya sangat senang bisa mendapat nilai 9 untuk matematika dan kimia tahun lalu, meskipun saya memulainya satu tahun lebih awal daripada kakak saya,” ungkap Ariel dengan bangga.
Prestasi kakak-beradik ini menunjukkan bahwa dedikasi dan lingkungan belajar yang tepat mampu membuat anak-anak melampaui ekspektasi.
Peran Penting Sang Kakak: Clara dan Juliana
Keberhasilan Elias dan Ariel tidak lepas dari peran besar kedua kakak mereka, Clara dan Juliana, yang sama-sama berkuliah di Imperial College London pada jenjang doktoral. Awalnya, mereka hanya berniat membantu mengajarkan satu atau dua mata pelajaran kepada adik-adiknya. Namun, perkembangan Elias dan Ariel yang begitu cepat membuat mereka memutuskan untuk mempercepat jalur pendidikan melalui homeschooling intensif.
Clara menekankan bahwa pendidikan tetap harus seimbang. Ia menyusun jadwal belajar Elias dan Ariel sedemikian rupa, sambil tetap memberi ruang untuk aktivitas menyenangkan seperti bermain board game, olahraga, hingga kegiatan kreatif lain.
“Kami semua sangat bangga pada mereka karena semua ini bisa dicapai dalam waktu yang singkat,” ujar Clara.
Imperial College London: Universitas Impian
Prestasi Elias makin spesial karena ia berhasil diterima di Imperial College London, salah satu universitas paling bergengsi di dunia pada usianya yang masih menginjak remaja 14 tahun. Berdasarkan QS World University Rankings 2025, Imperial berada di posisi kedua dunia, hanya kalah dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Masuk ke Imperial di usia 14 tahun tentu bukan hal yang mudah. Kampus ini dikenal dengan standar akademik yang tinggi serta fokus pada riset di bidang sains, teknologi, dan kedokteran. Fakta bahwa Elias berhasil menembus kampus ini di usia remaja 14 tahun membuktikan kualitas kecerdasannya sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda di seluruh dunia.
Inspirasi dari Pendidikan Alternatif
Kisah Elias dan Ariel memberi pelajaran penting bahwa pendidikan tidak selalu harus melalui jalur konvensional. Homeschooling, jika dilakukan dengan serius, disiplin, dan didukung lingkungan yang tepat, mampu menghasilkan prestasi yang luar biasa.
Clara bahkan menyebut bahwa ke depan ia bersama Juliana ingin membagikan ilmunya dengan anak-anak lain. Mereka berencana memberikan bimbingan paruh waktu selama studi doktoral mereka di Imperial, dengan harapan bisa menginspirasi pelajar lain untuk berani bermimpi besar.
“Kami ingin memberi harapan kepada pelajar berbakat lain, bahwa mereka juga bisa belajar dari rumah dan tetap menggapai mimpi,” kata Clara penuh keyakinan.
Pelajaran untuk Anak Muda Indonesia
Kisah remaja 14 tahun Elias bisa menjadi inspirasi bagi anak muda di Indonesia. Pertama, prestasi tidak mengenal usia. Jika dikelola dengan baik, potensi besar bisa melahirkan pencapaian gemilang bahkan sebelum usia dewasa.
Kedua, dukungan keluarga sangat penting. Tanpa bimbingan dan dukungan moral dari kakak serta orang tua, perjalanan Elias mungkin tidak akan semulus ini.
Ketiga, pendidikan alternatif seperti homeschooling bisa menjadi pilihan, terutama ketika didukung dengan konsistensi, materi ajar yang tepat, serta motivasi yang tinggi.
Elias dan Ariel membuktikan bahwa kombinasi disiplin, dedikasi, serta dukungan lingkungan mampu mencetak generasi muda yang siap bersaing di panggung global.
Prestasi remaja 14 tahun Elias menembus Imperial College London menjadi bukti nyata bahwa mimpi besar bisa diwujudkan bahkan di usia muda. Bersama adiknya, Ariel, ia memperlihatkan bagaimana pendidikan berbasis keluarga dan semangat belajar bisa membuka jalan menuju kesuksesan internasional.
Kisah kakak-beradik ini tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga mereka, tetapi juga inspirasi global bagi anak-anak muda untuk berani bermimpi, berusaha, dan menembus batasan usia maupun sistem pendidikan konvensional.