Kabupaten Sragen kini mencatat tonggak baru dalam upaya pemerataan pendidikan. Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen atau SR 78 Sragen resmi beroperasi pada November 2025 dengan menampung lima puluh siswa dari jenjang SMP dan SMA. Sekolah ini hadir sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah untuk menekan angka putus sekolah sekaligus memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Pendirian SR 78 Sragen merupakan bagian dari program pengentasan kemiskinan yang berfokus pada akses pendidikan. Banyak anak di Sragen yang terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi, sehingga pemerintah berupaya membuka jalan baru agar mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Berdasarkan laporan RRI dan Bindo.id, dari total lima puluh siswa angkatan pertama, sebanyak empat puluh lima di antaranya merupakan anak yang sudah putus sekolah, sedangkan lima lainnya adalah anak yang berisiko berhenti sekolah. Lokasi sementara SR 78 Sragen berada di bekas gedung UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) BKPSDM Sragen di Jalan Veteran Nomor 11, Magero, Sragen.
Pemerintah Kabupaten Sragen juga menyiapkan lahan seluas lima hektare di Desa Kedawung, Kecamatan Mondokan, untuk pembangunan kampus permanen pada tahun 2026. Fasilitas yang akan dibangun mencakup ruang belajar, asrama, laboratorium komputer dan sains, hingga area olahraga.
Sekolah Rakyat 78 Sragen menerapkan sistem sekolah berasrama atau boarding school. Konsep ini dirancang agar siswa dapat belajar dengan fokus tanpa harus terbebani kondisi ekonomi keluarga. Semua kebutuhan dasar siswa seperti tempat tinggal, makan, dan seragam disediakan secara gratis oleh pemerintah daerah.
Kepala Dinas Sosial Sragen, Yuniarti, menjelaskan bahwa anak-anak di sekolah ini akan dibimbing oleh sebelas guru dan sekitar tiga puluh tenaga pendidik tambahan, termasuk wali asrama, tenaga keamanan, dan juru masak. Sistem ini diharapkan bisa memberikan pendampingan yang lebih menyeluruh, baik secara akademik maupun pembentukan karakter.
Selain pendidikan formal, siswa juga akan mendapatkan pelatihan keterampilan dasar seperti kewirausahaan, pertanian modern, dan keterampilan digital. Dengan demikian, mereka tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kemampuan praktis yang dapat digunakan setelah lulus nanti.
Kuota angkatan pertama SR 78 Sragen dibagi rata, dua puluh lima siswa untuk tingkat SMP dan dua puluh lima siswa untuk tingkat SMA. Penerimaan siswa difokuskan untuk anak-anak dari keluarga miskin dan rentan putus sekolah. Proses seleksi dilakukan melalui verifikasi lapangan oleh Dinas Sosial bekerja sama dengan pihak kecamatan dan kelurahan.
Seluruh siswa yang diterima akan memperoleh seragam lengkap sebanyak delapan stel, perlengkapan sekolah, dan tempat tinggal di asrama. Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar dilakukan di gedung eks BLK yang telah disulap menjadi ruang kelas dan asrama sederhana.
Pemerintah daerah juga telah menyiapkan pembangunan fasilitas permanen dengan target rampung pada tahun 2026. Dalam rencana jangka panjang, SR 78 Sragen akan dikembangkan menjadi model sekolah rakyat yang bisa direplikasi di kabupaten lain.
Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, menegaskan bahwa pendirian Sekolah Rakyat 78 merupakan bentuk nyata dari program pemerataan pendidikan dan pengentasan kemiskinan. Ia berharap sekolah ini mampu melahirkan generasi muda Sragen yang tangguh, berprestasi, dan berkarakter.
“Dari anak-anak yang dulunya berisiko putus sekolah, kita harapkan lahir anak-anak hebat untuk masa depan,” ujar Sigit dalam sambutannya saat pembukaan SR 78 Sragen.
Selain pemerintah daerah, sejumlah instansi juga turut mendukung, seperti Dinas Pendidikan dan Kementerian Sosial yang menyediakan bantuan dana operasional dan fasilitas belajar. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci agar sekolah rakyat benar-benar berkelanjutan.
Kehadiran SR 78 Sragen membawa dampak besar, terutama bagi anak-anak dari keluarga miskin. Mereka kini memiliki kesempatan untuk kembali mengenyam pendidikan tanpa perlu khawatir akan biaya. Program ini juga berpotensi menekan angka putus sekolah di Sragen, yang dalam beberapa tahun terakhir cukup tinggi akibat faktor ekonomi.
Dengan sistem berasrama, anak-anak mendapatkan lingkungan belajar yang stabil dan disiplin. Mereka tidak hanya belajar akademik, tetapi juga nilai-nilai tanggung jawab, kemandirian, dan kerja sama. Sekolah rakyat ini diharapkan menjadi contoh nyata bahwa pendidikan bisa menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang selama ini termarjinalkan.
Meski program ini mendapat apresiasi luas, masih ada sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan. Pertama, ketersediaan fasilitas permanen yang masih dalam tahap pembangunan. Penggunaan gedung sementara tentu memiliki keterbatasan dalam jangka panjang, baik dari sisi kapasitas maupun kenyamanan siswa.
Kedua, kualitas tenaga pendidik juga menjadi perhatian. Mengajar anak-anak dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda membutuhkan pendekatan psikologis yang tepat. Pemerintah perlu memastikan guru-guru yang ditempatkan di SR 78 Sragen mendapatkan pelatihan khusus agar mampu memahami kebutuhan siswa secara emosional dan akademis.
Tantangan lainnya adalah menjaga keberlanjutan program. Setelah siswa lulus, perlu ada tindak lanjut yang jelas—apakah mereka akan diarahkan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, mengikuti pelatihan vokasi, atau langsung masuk ke dunia kerja. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada seberapa baik transisi itu direncanakan.
Kehadiran Sekolah Rakyat 78 Sragen menjadi simbol harapan bagi banyak keluarga. Melalui pendidikan, peluang untuk memperbaiki taraf hidup menjadi lebih terbuka. Pemerintah daerah berencana menambah kapasitas siswa di tahun-tahun berikutnya, seiring dengan pembangunan gedung permanen yang lebih luas dan modern.
Tidak hanya itu, SR 78 Sragen juga dirancang untuk menjadi sekolah percontohan bagi wilayah lain di Indonesia. Model pendidikan berbasis sosial ini diharapkan bisa direplikasi di kabupaten lain yang menghadapi masalah serupa.
Selain memperluas kapasitas, pemerintah juga akan memperkuat kurikulum karakter dan keterampilan hidup agar lulusan sekolah rakyat bisa bersaing di dunia kerja maupun dunia akademik.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen adalah langkah konkret dalam pemerataan akses pendidikan bagi anak-anak kurang mampu dan rentan putus sekolah. Dengan kapasitas awal lima puluh siswa dan sistem sekolah berasrama yang gratis, program ini menjadi bukti bahwa pendidikan inklusif bukan hanya wacana, tetapi sudah menjadi kenyataan di lapangan.
Meski masih menghadapi berbagai tantangan, semangat dan komitmen pemerintah daerah, tenaga pendidik, serta dukungan masyarakat menjadi fondasi kuat agar program ini berjalan berkelanjutan.
SR 78 Sragen tidak sekadar sekolah, melainkan wadah untuk membangun masa depan. Di tempat ini, anak-anak yang dulunya nyaris kehilangan harapan kini memiliki kesempatan baru untuk tumbuh, belajar, dan mewujudkan cita-cita. Pendidikan kembali menjadi jalan keluar utama untuk memutus rantai kemiskinan dan membangun generasi Indonesia yang lebih berdaya.