Inversi. Bantuan pendidikan senilai Rp1 miliar yang disalurkan oleh Baznas dan Pemerintah Kabupaten Maros kepada 4.967 pelajar bukan sekadar bantuan finansial, melainkan perwujudan nyata dari konsep filantropi Islam yang transformatif.
Inisiatif ini menegaskan peran zakat sebagai instrumen strategis untuk memperluas akses pendidikan dan membangun generasi muda yang cerdas, berdaya saing, dan berakhlak mulia.
Pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas tidak hanya bergantung pada alokasi anggaran konvensional pemerintah, tetapi juga pada optimalisasi sumber daya filantropi lokal. Di Kabupaten Maros, sinergi yang terjalin antara Pemerintah Daerah dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) telah membuktikan efektivitas zakat sebagai motor penggerak sektor pendidikan.
Pada Rabu, 12 November 2025, Bupati Maros, Dr. H.A.S. Chaidir Syam, S.IP., M.H., didampingi Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah, secara simbolis menyerahkan bantuan program pendidikan senilai total Rp1 miliar kepada 4.967 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan.
Zakat Sebagai Social Entrepreneurship
Program bantuan pendidikan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Baznas Kabupaten Maros dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Esensi dari program ini terletak pada konsep zakat produktif mengubah dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dari masyarakat menjadi sebuah investasi jangka panjang dalam kapabilitas SDM.
Ketua Baznas Maros, Dr. Ansar, M.Si., menjelaskan bahwa dana ini dikelola secara transparan dan disalurkan secara tepat sasaran kepada pelajar yang berasal dari keluarga kurang mampu, termasuk anak yatim dan piatu.
“Kami berharap program ini bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk semakin gemar berzakat, karena manfaatnya benar-benar dirasakan langsung oleh para pelajar yang membutuhkan,” ungkap Dr. Ansar.
Dalam konteks ekonomi, pengelolaan zakat semacam ini dapat dilihat sebagai model social entrepreneurship berbasis filantropi. Dana ZIS bertindak sebagai modal sosial yang menghasilkan “keuntungan” berupa peningkatan kualitas pendidikan, penurunan angka putus sekolah, dan pada akhirnya, terciptanya SDM yang mandiri secara ekonomi.
Pendidikan sebagai Prioritas Pembangunan Daerah
Bupati Chaidir Syam dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi terhadap Baznas, menegaskan bahwa program ini adalah bukti nyata sinergi lintas sektor dalam mendukung pembangunan daerah.
“Program ini adalah bukti nyata sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga zakat dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia. Kami berharap bantuan ini tidak hanya membantu kebutuhan pendidikan, tetapi juga menjadi motivasi bagi para pelajar untuk terus berprestasi,” ujarnya.
Bupati menegaskan bahwa pendidikan adalah prioritas utama pembangunan daerah. Visi pembangunan Maros tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pembentukan generasi muda yang utuh: cerdas, berdaya saing, dan berakhlak baik. Generasi yang memiliki ketiga pilar ini merupakan kunci keberhasilan pembangunan Maros di masa depan.
Bantuan pendidikan ini secara langsung bertujuan untuk memeratakan akses pendidikan. Dengan meringankan beban biaya sekolah, Pemerintah Kabupaten Maros memastikan bahwa faktor ekonomi tidak lagi menjadi penghalang bagi anak-anak berpotensi untuk mengenyam pendidikan yang layak. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs) yang menekankan pada pendidikan berkualitas yang inklusif.
Keberhasilan kolaborasi antara Pemkab dan Baznas Maros ini diharapkan menjadi model keberhasilan pengelolaan zakat produktif di daerah lain, memperkuat upaya kolektif bangsa dalam mencetak SDM unggul yang mampu menjawab tantangan global.