Dalam upaya mencapai Indonesia Emas 2045, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menyoroti peran penting tenaga perpustakaan di Sekolah Rakyat sebagai agen perubahan yang mampu memutus rantai kemiskinan. Perpusnas menegaskan bahwa pustakawan bukan hanya pengelola buku, tetapi juga penggerak literasi dan pendidikan yang berperan langsung dalam membangun masa depan generasi muda dari kalangan masyarakat kurang mampu.
Sekolah Rakyat lahir sebagai solusi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu atau yang berisiko putus sekolah. Melalui sistem pendidikan inklusif dan terintegrasi, sekolah ini bertujuan untuk memberi kesempatan belajar yang setara bagi semua kalangan.
Dalam konteks ini, tenaga perpustakaan memiliki peran strategis. Mereka tidak hanya menyediakan akses terhadap bacaan, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam menumbuhkan minat baca, mengarahkan siswa agar berpikir kritis, dan mengembangkan kemampuan literasi digital yang kini menjadi kebutuhan dasar di era modern.
Perpusnas dalam laporan resminya pada 11 November 2025 menyebut bahwa pustakawan sekolah rakyat adalah penggerak perubahan yang nyata. Mereka hadir untuk mendekatkan siswa dengan ilmu pengetahuan, memperluas wawasan, dan membantu menciptakan peluang untuk keluar dari lingkaran kemiskinan melalui literasi.
Ada empat peran utama tenaga perpustakaan dalam sekolah rakyat yang menjadi pondasi penting keberhasilan program literasi nasional.
Pertama, sebagai fasilitator literasi dan informasi.
Pustakawan menjadi jembatan antara siswa dan ilmu pengetahuan. Mereka memastikan setiap siswa memiliki akses terhadap bahan bacaan yang sesuai dengan usia, minat, dan kebutuhan akademiknya. Buku-buku tentang keterampilan, teknologi dasar, hingga kewirausahaan menjadi sumber inspirasi bagi siswa untuk bermimpi lebih besar.
Kedua, sebagai pendamping belajar dan pembuka wawasan.
Lebih dari sekadar mengelola koleksi, pustakawan juga menjadi mentor yang membimbing siswa memilih buku yang relevan dan memahami isinya. Dengan pendekatan interaktif, mereka membantu siswa agar tidak hanya membaca tetapi juga memahami konteks dan manfaat dari ilmu yang dipelajari.
Ketiga, sebagai pengelola ruang belajar digital dan kreatif.
Seiring perkembangan teknologi, banyak perpustakaan sekolah rakyat kini memiliki fasilitas komputer dan jaringan internet. Pustakawan memainkan peran penting dalam mengenalkan siswa pada literasi digital, seperti pencarian informasi daring yang sehat, pembuatan karya tulis, dan penggunaan platform belajar online.
Keempat, sebagai pembentuk budaya belajar yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan seperti pojok baca, kelas literasi, dan lomba menulis, pustakawan membangun suasana belajar yang menyenangkan. Hal ini penting untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan sejak dini, terutama bagi siswa yang sebelumnya tidak terbiasa dengan budaya membaca.
Kemiskinan sering kali disebabkan oleh keterbatasan akses terhadap pendidikan dan informasi. Perpustakaan sekolah rakyat berfungsi sebagai pintu gerbang untuk membuka akses itu.
Dengan adanya pustakawan aktif, siswa dari keluarga miskin dapat:
- Mendapatkan akses terhadap sumber belajar gratis dan berkualitas.
- Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif untuk menghadapi tantangan hidup.
- Mengenal peluang baru di dunia pendidikan dan pekerjaan.
- Membangun kepercayaan diri bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan.
Perpusnas menegaskan bahwa pustakawan adalah ujung tombak dalam perubahan sosial di lingkungan sekolah rakyat. Melalui bimbingan dan pendampingan, mereka membantu siswa untuk melihat bahwa masa depan dapat diraih melalui pengetahuan dan semangat belajar.
Meski memiliki peran strategis, pustakawan sekolah rakyat menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Pertama, keterbatasan sarana dan prasarana.
Banyak sekolah rakyat yang belum memiliki ruang perpustakaan yang memadai, koleksi buku yang lengkap, atau fasilitas digital yang mendukung pembelajaran modern.
Kedua, kurangnya pelatihan profesional bagi pustakawan.
Tidak semua tenaga perpustakaan memiliki latar belakang pendidikan khusus di bidang ilmu perpustakaan. Pelatihan tentang literasi digital, teknik pengajaran, dan manajemen informasi menjadi kebutuhan mendesak.
Ketiga, dukungan finansial yang terbatas.
Tanpa dukungan anggaran yang cukup, upaya untuk memperkaya koleksi buku dan memperluas fasilitas belajar sulit dilakukan secara berkelanjutan.
Keempat, minimnya kolaborasi lintas sektor.
Pustakawan memerlukan dukungan dari guru, komunitas, pemerintah daerah, dan lembaga swasta agar program literasi di sekolah rakyat benar-benar berdampak luas.
Agar tenaga perpustakaan dapat berfungsi secara maksimal, diperlukan strategi penguatan dari berbagai pihak.
- Pemerintah perlu memperluas program pelatihan pustakawan agar mereka mampu menghadapi tantangan digital dan sosial di lapangan.
- Sekolah rakyat perlu menjalin kerja sama dengan komunitas literasi, universitas, dan perpustakaan daerah untuk memperkaya kegiatan literasi.
- Pustakawan didorong untuk aktif membuat inovasi, seperti klub baca, pameran buku, dan pelatihan menulis bagi siswa.
- Peran masyarakat juga penting dalam mendukung keberlanjutan perpustakaan, baik melalui donasi buku, sukarelawan, maupun kampanye literasi.
Dengan langkah-langkah tersebut, tenaga perpustakaan dapat terus menjadi ujung tombak dalam meningkatkan literasi, memberdayakan generasi muda, dan memperkuat fondasi pendidikan nasional.
Tenaga perpustakaan sekolah rakyat bukan hanya penjaga buku, tetapi juga penggerak perubahan sosial. Melalui bimbingan mereka, siswa tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga belajar bermimpi dan berjuang untuk masa depan yang lebih baik.
Dalam konteks pemberantasan kemiskinan, pustakawan berperan sebagai katalisator yang membantu anak-anak dari keluarga tidak mampu agar memiliki akses setara terhadap pendidikan dan pengetahuan.
Dengan dukungan pemerintah, sekolah, dan masyarakat, peran pustakawan dapat terus berkembang, menjadikan sekolah rakyat bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga pusat perubahan yang memutus rantai kemiskinan di Indonesia.