INVERSI.ID – Bagi para siswa di Gaza, mengikuti ujian di tengah perang adalah tantangan yang luar biasa. Banyak dari mereka terpaksa mengerjakan ujian dari rumah yang sudah retak, tenda pengungsian, atau tempat lain yang dianggap relatif aman demi menghindari pemboman yang nyaris terjadi setiap hari.
Tareq Abu Azzoum, jurnalis Al Jazeera yang melaporkan langsung dari Deir el-Balah, menggambarkan perjuangan para siswa dengan penuh empati. “Bahkan di zona perang, tanpa ruang kelas, tanpa buku, dan nyaris tanpa internet, siswa-siswa Gaza tetap hadir, masuk, dan mengikuti ujian akhir mereka, menolak perang menghapus masa depan mereka,” tuturnya.
Situasi pendidikan di Gaza memang nyaris lumpuh total akibat agresi Israel. Banyak sekolah hancur, universitas porak-poranda, dan akses ke buku pelajaran maupun bahan ajar hilang. Sebagian siswa yang seharusnya sudah menempuh pendidikan tinggi pun terpaksa terhenti di bangku SMA.
Ujian Online Penuh Perjuangan
Sebagai respons atas kondisi darurat yang melanda Gaza, Kementerian Pendidikan Palestina meluncurkan platform daring khusus untuk ujian kelulusan. Namun, pelaksanaannya tidak semulus yang dibayangkan.
Morad al-Agha, Direktur Ujian di Kegubernuran Gaza Tengah, mengungkapkan bahwa banyak siswa menghadapi masalah teknis. “Para siswa telah mengunduh aplikasi untuk mengikuti ujian, tetapi mereka menghadapi banyak tantangan. Kami sudah menyampaikan kekhawatiran ini kepada kementerian untuk memastikan masalah dapat teratasi sehingga siswa bisa mengikuti ujian tanpa gangguan,” jelasnya.
Keterbatasan akses internet, listrik yang sering padam, hingga minimnya perangkat seperti laptop atau ponsel membuat para siswa harus berjuang keras mencari cara. Banyak di antara mereka yang memilih mengerjakan ujian dari warung kopi, tempat penampungan darurat, atau bahkan pinggir jalan, asal ada sinyal internet dan colokan listrik untuk mengisi daya perangkat.
Cerita Para Siswa: Harapan di Tengah Derita
Kisah nyata perjuangan siswa Gaza turut diungkapkan oleh Doha Khatab, salah satu peserta ujian. Ia menggambarkan betapa beratnya situasi yang mereka hadapi setiap hari.
“Kami mengikuti ujian daring, tetapi sangat sulit. Internetnya lemah, banyak dari kami tidak punya perangkat, dan tidak ada tempat aman untuk ujian. Buku-buku kami juga hilang akibat pemboman itu,” ujarnya dengan nada lirih.
Sebelum ujian sesungguhnya, para siswa sempat menjalani simulasi untuk memastikan kesiapan sistem. Namun, tetap saja banyak kendala teknis yang menguji mental dan kesabaran mereka. Meski begitu, semangat mereka tidak surut, karena hasil ujian ini akan menentukan apakah mereka bisa melanjutkan pendidikan ke universitas, atau bahkan mendapatkan beasiswa ke luar negeri — sebuah jalan keluar dari blokade dan penderitaan di tanah air.
Pendidikan: Bentuk Perlawanan di Jalur Gaza
Ujian kelulusan SMA bagi siswa Gaza bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan simbol perlawanan terhadap upaya penghancuran masa depan generasi muda Palestina. Di tengah hancurnya sekolah-sekolah dan ancaman bom setiap saat, keberanian mereka untuk tetap belajar adalah bukti nyata bahwa semangat mereka belum padam.
Di mata dunia, langkah para siswa Gaza ini mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah hak fundamental yang harus diperjuangkan, bahkan di tengah situasi paling mencekam. Mereka menunjukkan bahwa perang boleh saja meruntuhkan tembok sekolah, tetapi tidak bisa menghancurkan tekad untuk belajar.
Mimpi yang Tak Pernah Padam
Perjuangan siswa Gaza mengikuti ujian SMA Palestina di tengah perang adalah potret nyata semangat generasi muda yang menolak tunduk pada ketidakadilan. Meski pendidikan di Gaza lumpuh, mereka tetap mengejar mimpi, meyakini bahwa masa depan yang lebih baik masih mungkin diraih.
Bagi kita di luar sana, kisah ini seharusnya menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah hak yang tidak boleh hilang, betapa pun berat keadaannya. Semoga dunia internasional terus memberikan dukungan nyata bagi mereka, agar impian mereka tak lagi hanya sebatas mimpi.