JAKARTA
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersiap menerapkan sistem pengetatan dalam pengiriman atlet ke ajang multi event internasional. Untuk selanjutnya setiap atlet yang dikirim membawa bendera Merah Putih harus lolos klasifikasi dan target prestasi yang jelas, bukan sekadar uji coba.
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengungkapkan, Kemenpora tengah menyiapkan skema pembagian kelas atlet mulai dari super elit, elit, hingga potensial. Skema ini akan menjadi dasar seleksi dalam menentukan komposisi kontingen Indonesia di berbagai ajang internasional.
“Kami di Kemenpora mulai mempolakan pengiriman atlet ke depan. Tidak hanya super elit, elit, dan masa depan, kami enggak mau dibilang pengiriman atlet ini coba-coba,” kata Erick Thohir dalam siniar Redaksi Olahraga ANTARA di Jakarta, Selasa (23/12/2025).
Menurut Erick, sistem ini dirancang untuk memastikan dua hal berjalan seimbang, perburuan medali emas dan regenerasi atlet nasional. Regenerasi tetap dilakukan, namun dengan perencanaan dan standar yang ketat agar kualitas prestasi tetap terjaga.
“Regenerasi itu harus ada, tetapi pemikirannya jelas. Kami tidak mengirim atlet coba-coba. Kami mengirim atlet yang terbaik dan targetnya emas,” tegas Erick.
Ia menambahkan, dengan pola baru ini, setiap pengiriman kontingen Indonesia ke ajang internasional akan lebih terukur dan sistematis, sehingga memudahkan proses pembinaan jangka panjang di tiap cabang olahraga.
Usai mencatatkan prestasi 333 medali, terdiri dari 91 emas, 111 perak, dan 131 perunggu di SEA Games Thailand 2025, Kemenpora kini mulai memfokuskan persiapan menuju Asian Games Nagoya 2026.
Dengan bekal sistem seleksi yang lebih ketat, regenerasi terarah, dan capaian peringkat kedua di SEA Games 2025, Kemenpora optimistis Tim Merah Putih dapat tampil lebih kompetitif di level Asia.