By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Tren Pura-Pura Kerja di Kalangan Gen Z, Saat Nongkrong di Kantor Lebih Murah dari Kafe
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Tren Pura-Pura Kerja di Kalangan Gen Z, Saat Nongkrong di Kantor Lebih Murah dari Kafe

LifeStyle

Tren Pura-Pura Kerja di Kalangan Gen Z, Saat Nongkrong di Kantor Lebih Murah dari Kafe

Jack
By
Jack
1 year ago
Share
4 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Di tengah ketatnya persaingan kerja, tekanan sosial sering kali menambah beban psikologis para pencari kerja muda. Banyak dari mereka merasa tidak nyaman karena terus-menerus ditanya soal status pekerjaan, sementara peluang kerja belum juga datang. Fenomena ini memunculkan tren unik dan agak mengejutkan, menyewa tempat kerja untuk sekadar berpura-pura sedang bekerja.

Contents
Lebih dari Sekadar Gaya-GayaanKantor Jadi Tempat Nongkrong Alternatif

Tren ini mencuat di kalangan Gen Z di Tiongkok. Alih-alih mendapatkan gaji dari perusahaan, justru mereka membayar untuk bisa “masuk kerja”. Laporan dari Oddity Central menyebutkan bahwa semakin banyak anak muda menyewa jasa perusahaan fiktif hanya untuk merasakan pengalaman bekerja—atau sekadar terlihat sedang bekerja.

Biaya sewa kantor palsu berkisar antara 30 hingga 50 yuan per hari, atau sekitar Rp67 ribu hingga Rp115 ribu. Dengan biaya tersebut, penyewa bisa mendapatkan akses ke ruang kerja lengkap dengan meja, Wi-Fi, bahkan makan siang gratis. Dalam beberapa kasus, penyewa juga dapat membayar lebih untuk mendapatkan tugas kerja fiktif, seperti menjadi “manajer” atau melakukan “presentasi proyek”.

Sebagian besar pengguna layanan ini memanfaatkan suasana kerja tersebut untuk sekadar bersantai, atau mengabadikan momen ala profesional untuk diunggah ke media sosial. Tampilan gaya hidup produktif di internet menjadi alasan tersendiri, terutama di era ketika pencitraan digital menjadi bagian dari identitas sosial.

Lebih dari Sekadar Gaya-Gayaan

Meskipun tampak konyol di permukaan, tren ini mencerminkan tekanan sosial dan ekonomi yang dihadapi generasi muda saat ini. Tingginya angka pengangguran menjadi salah satu pendorong utama. Data pemerintah Tiongkok pada Maret lalu menunjukkan tingkat pengangguran mencapai 16,5% untuk kelompok usia 16 hingga 24 tahun (tidak termasuk mahasiswa), dan 7,2% untuk usia 25 hingga 29 tahun.

Bagi sebagian orang, menyewa ruang kantor palsu adalah bentuk pelarian dari tekanan hidup. Beberapa hanya ingin keluar dari rumah dan merasa punya rutinitas, sementara yang lain berharap pengalaman “kerja bohongan” ini bisa menjadi batu loncatan untuk mendapatkan pekerjaan sungguhan.

“Meski beberapa orang memang butuh tempat untuk pura-pura bekerja, banyak dari kami datang karena merasa konsepnya menarik dan lebih murah daripada nongkrong di kafe,” kata Xu Lin, seorang konten kreator yang pernah menggunakan jasa kantor fiktif.

Kantor Jadi Tempat Nongkrong Alternatif

Ruang kantor palsu mulai menjamur di kota-kota besar seperti Beijing, di mana harga sewanya relatif murah. Tren ini muncul bukan hanya karena alasan estetika media sosial, tetapi juga karena kebutuhan dasar untuk merasa “produktif” atau setidaknya memiliki rutinitas harian.

Menariknya, beberapa penyewa menganggap pengalaman ini sebagai bentuk “healing” dari tekanan hidup dan pencarian jati diri di tengah masa transisi menuju dunia kerja. Sementara yang lain hanya ingin menikmati suasana kantor yang nyaman tanpa beban kerja sesungguhnya.

Baca Juga :

Solusi Mengatasi Polusi Udara Jakarta, Jokowi: Geser ke IKN dan Perbanyak Moda Transportasi Massal
Mahasiswa ITS Terdampak Banjir Sumatra Dapat Keringanan dan Gratis Uang Kuliah

Fenomena pura-pura bekerja di Tiongkok bisa jadi menandai perubahan cara pandang generasi muda terhadap dunia kerja, eksistensi sosial, dan tekanan ekonomi. Meski terdengar tak lazim, tren ini menyoroti kebutuhan emosional generasi muda yang merasa tertinggal atau kurang validasi karena belum bekerja.

Dengan terus meningkatnya angka pengangguran global dan normalisasi budaya kerja berbasis citra di media sosial, bukan tidak mungkin tren serupa akan muncul di negara lain, termasuk Indonesia. Apakah ini bentuk adaptasi kreatif atau hanya pelarian sesaat? Waktu yang akan menjawab.***

You Might Also Like

Wisata Indonesia Makin Bergairah, Kunjungan Turis Asing dan Wisnus Kompak Meningkat
Komdigi: Akun Influencer Daerah Jadi Target Utama Spam Judi Online di Media Sosial
WhatsApp Bakal Hadirkan Fitur Username, Chat Tanpa Perlu Bagikan Nomor Telepon
Indonesia Kejar Posisi Teratas GMTI 2026, Kemenpar Perkuat Promosi Wisata Halal
Pemerintah Jepang Resmi Usulkan Sistem Dua Ibu Kota untuk Kurangi Sentralisasi Tokyo
TAGGED:Anak Mudatren
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Fenomena Nolep, Ketika Anak Muda Lebih Nyaman di Dunia Maya daripada Dunia Nyata
Next Article Menpora: Anak Muda dan Diaspora Bisa Berjaya di Industri Pertahanan
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Kebijakan Bebas Visa Dinilai Jadi Kunci Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Indonesia

3 weeks ago
Travel

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027

4 weeks ago
Travel

Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta

4 weeks ago
LifeStyleTerkini

Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index