By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Utang Whoosh Akhirnya Masuk APBN: Beban Rp 1,2 Triliun per Tahun dari Kantong Negara
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Utang Whoosh Akhirnya Masuk APBN: Beban Rp 1,2 Triliun per Tahun dari Kantong Negara

EkonomiTerkini

Utang Whoosh Akhirnya Masuk APBN: Beban Rp 1,2 Triliun per Tahun dari Kantong Negara

Dede isharuddin
By
Dede isharuddin
5 months ago
Share
4 Min Read
(ilustrasi) Pemerintah akui pembayaran kewajiban proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) akan melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). (Foto, generate AI/Dede)
SHARE

JAKARTA- Pemerintah akhirnya mengakui bahwa pembayaran kewajiban proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) akan melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Nilai bunga utang yang harus dibayar mencapai sekitar Rp 1,2 triliun per tahun, memicu sorotan soal transparansi fiskal dan risiko jangka panjang bagi keuangan negara.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Jakarta pada Selasa (10/2/2026). Namun, pernyataan ini menimbulkan kebingungan karena Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut skema pembiayaan masih bersifat kombinasi antara APBN dan dividen Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

“Seingat saya masih 50-50, tapi akan kami diskusikan lagi,” ujar Purbaya di Jakarta, Kamis (12/2/2026), seraya menyebut belum dilibatkan dalam pembahasan teknis penyelesaian utang proyek tersebut.

Proyek kereta cepat Whoosh dibiayai melalui skema business-to-business (B2B) antara PT Kereta Cepat Indonesia–China (KCIC) dan China Development Bank. KCIC merupakan konsorsium antara BUMN Indonesia melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan perusahaan China.

Secara desain awal, kewajiban utang berada di level korporasi. Namun, karena kondisi keuangan proyek yang belum optimal, negara kini harus mengambil peran lebih besar dalam skema pembayaran.

Berdasarkan berbagai sumber, total kewajiban proyek kereta cepat diperkirakan mencapai sekitar Rp 116 triliun, dengan pembayaran pokok dijadwalkan mulai 2027. Sejak 2023, pemerintah telah membayar bunga utang sekitar Rp 1,2 triliun per tahun.

Sejumlah ekonom menilai kebijakan ini dapat menjadi preseden bagi proyek infrastruktur lain di masa depan. Direktur Pelaksana Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menilai kondisi APBN saat ini sudah menghadapi tekanan dari belanja besar dan perlambatan penerimaan pajak. Ia mendorong transparansi keuangan PT KCIC agar publik mengetahui struktur risiko proyek.

Sementara itu, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menyebut kebijakan ini perlu menjadi pelajaran dalam desain pembiayaan proyek besar. Menurutnya, risiko fiskal akan meningkat jika proyek serupa terus dilakukan tanpa mitigasi yang kuat.

Direktur Kebijakan Publik Celios Media Wahyudi Askar menyoroti potensi moral hazard, yakni kecenderungan proyek besar mengalihkan risiko ke negara. Ia juga menekankan pentingnya evaluasi tata kelola pembiayaan infrastruktur.

Baca Juga :

Profil dan Biodata Farah Fardhilah Kamil, Diduga Jadi Selingkuhan Andrew Andika
Dokumen Asli Pemain Naturalisasi Malaysia Bocor, FAM Geram

Peran BPI Danantara juga menjadi sorotan. Sejak pembentukannya, dividen BUMN tidak lagi langsung masuk ke APBN, melainkan dikelola oleh holding investasi tersebut untuk ekspansi dan restrukturisasi BUMN.

Namun, ketika kewajiban Whoosh muncul, kontribusi Danantara dalam pembiayaan masih menjadi tanda tanya. Transparansi pengelolaan dana dan mekanisme audit lembaga ini juga menjadi perhatian sejumlah pengamat.

Pembayaran kewajiban Whoosh berpotensi mempersempit ruang fiskal, terutama di tengah target defisit yang mendekati batas 3% dari PDB serta meningkatnya belanja program prioritas pemerintah.

Menurut sejumlah ekonom, mekanisme yang mungkin digunakan adalah penyertaan modal negara (PMN) ke PT KAI sebagai pemegang saham utama konsorsium KCIC. Meski secara akuntansi tercatat sebagai pembiayaan, langkah ini tetap mengurangi likuiditas fiskal negara.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebelumnya menyatakan masih menelusuri sejumlah aspek proyek, termasuk pengadaan lahan. Sejumlah pihak mendorong pemerintah membuka laporan keuangan KCIC secara lebih luas guna memastikan akuntabilitas penggunaan dana.

Pengakuan pemerintah bahwa APBN akan digunakan untuk membayar kewajiban kereta cepat Whoosh menandai perubahan penting dalam narasi pembiayaan proyek infrastruktur nasional. Dengan beban bunga sekitar Rp 1,2 triliun per tahun, isu ini tidak hanya menyangkut teknis fiskal, tetapi juga transparansi, tata kelola BUMN, dan keadilan antar generasi pembayar pajak.

You Might Also Like

Jakarta Darurat Judol. Ribuan Warga Pilih Jalan Spekulasi demi Bertahan Hidup
LRT Velodrome–Manggarai Segera Beroperasi, Tapi Siapkah Manggarai Tampung Lonjakan Penumpang
PT Timah Bantu Bangun Sumur Bor, SMPN 3 Simpang Katis Segera Nikmati Akses Air Bersih
Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!
TAGGED:Kereta Cepat Jakarta-BandungPrasetyo HadiPurbaya Yudhi SadewaRp 116 TrilyunWhoosh
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Rapper KENNYJACTA Gandeng ERN dan Dochi Sadega di single “Kau Coba Rayu” Move on Dengan Cara Elegan
Next Article Ghea Indrawari Rilis Single Terbaru, Tentang Cinta Nyata di Tengah Budaya Membandingkan
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Hadapi Musim Kemarau, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Nasional Tetap Aman

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Argentina Terlalu Tangguh untuk Swiss, Jadi Penyelamat Amerika Latin di Piala Dunia 2026

2 days ago
Pildun 2026Terkini

Inggris Tunjukkan Mental Juara, Singkirkan Norwegia dan Melaju ke Semifinal

2 days ago
Internasional

Konflik AS-Iran Memanas, PBB Ingatkan Ancaman bagi Stabilitas Dunia

4 days ago
Internasional

Cuaca Ekstrem Melanda Korea Selatan, Pemerintah Tetapkan Siaga Gelombang Panas Level Peringatan

4 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index